Oleh : Ust. Abdurrohim Ba’asyir
Banyak pemuda muslim dan muslimah yang terkena penyakit ikut-ikutan atau ‘mengekor’ pada budaya Barat atau nashrani. Hal tersebut diakibatkan oleh pengaruh dari televisi dan media massa lainnya. Termasuk pula dalam hal ini perayaan Hari Valentine, yang biasa dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Pada dasarnya hari itu adalah hari mengenang kembali pendeta St. Valentine yang konon dianggap sebagai sang pahlawan cinta.
Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan. Padahal Allah swt telah berfirman : “Barangsiapa diantara kamu ber-wala’ (mengambil mereka menjadi pemimpin), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka” (QS Al Maidah 5 : 51). Para ulama telah menerangkan bahwa antara bentuk wala’ adalah dengan meniru-niru mereka. Rasululloh SAW juga telah melarang untuk mengikuti tata cara hidup selain Islam : “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR At-Tirmidzi).
Dari sejarahnya, bangsa Romawi merayakan acara tersebut untuk memperingati suatu hari besar mereka yang jatuh setiap 14 Februari, yang mereka namakan Lupercalia. Peringatan ini dirayakan guna menghormati Juno (Tuhan Wanita) dan Perkawinan, serta Pan (Tuhan dari alam ini), seperti apa yang mereka percayai.
Pada saat itu, digambarkan orang-orang muda “laki-laki dan wanita” memilih pasangannya masing-masing dengan menuliskan nama atau mengundi nama dari orang-orang yang diinginkannya, kemudian pasangan ini saling tukar-menukar hadiah sebagai pernyataan cinta kasih. Acara ini dilanjutkan dengan berbagai macam pesta dan hura-hura bersama pasangan masing-masing. Pergaulan dengan pasangan yang ada dalam pesta itu dapat berlangsung lama sesudah pesta itu berakhir. Setelah penyebaran agama Kristen, para Pemuka Gereja mencoba memberikan pengertian ajaran Kristen terhadap para pemuja berhala itu. Pada tahun 496 Masehi, Paus Gelasius (Pope Gelasius) mengganti peringatan Lupercalia itu menjadi Saint Valentine’s Day, yaitu Hari Kasih Sayang Untuk Orang-Orang Suci.
Pada versi lain sebagian orang mengkaitkannya dengan St. Valentine yang lain. St. Valentine ini adalah seorang Bishop (Pendeta) di Terni, satu tempat sekitar 60 mil dari Roma. Ia dikejar-kejar karena mempengaruhi beberapa keluarga Romawi dan memasukkan mereka ke dalam agama Kristen. Kemudian ia dipancung di Roma sekitar tahun 273 masehi. Sebelum kepalanya dipenggal, Bishop (Pendeta) itu mengirim surat kepada para putri penjaga penjara dengan mendo’akan semoga bisa melihat dan mendapat kasih sayang Tuhan dan kasih sayang manusia. “Dari Valentine-mu” demikian tulis Valentine pada akhir suratnya itu. Surat itu tertanggal 14 Februari 270 M. sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang.
Apapun namanya dan bagaimanapun sejarahnya valentine day bukanlah hari raya kaum muslimin, dan tidak pernah di ajarkan oleh Nabi saw, serta tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Lantas bagaimana hal tersebut akan mereka lakukan jika hari itu sebenarnya adalah hari yang dipenuhi dengan kemaksiatan yang bergelimang dosa dan hari yang dipenuhi godaan syahwat syaithani.
Cinta yang tersebar di hari itu adalah cinta semu yang tak pernah mencapai cinta yang sebenarnya (hakiki). Namun, Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar memiliki cinta yang hakiki. Menurut Syaikh Said Hawa rahimahullah, cinta yang hakiki ialah cinta yang dibina di atas pondasi positif yaitu Allah dan Rasul-Nya, maka akan menghasilkan hasil yang positif pula (jundullah akhlaqan).
Sebuah cinta yang dibina hanya di atas pondasi kecantikan wajah atau kelebihan dunia lainnya maka hal itu adalah cinta yang semu, karena kehidupan dunia itu sendiri sebenarnya semu dan menipu. “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadiid 57 : 20). Oleh karena itu, Allah swt berpesan: “maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu“ (QS Fathir 35 : 5). Maka cinta yang seperti itu bukanlah cinta dan kasih yang hakiki tetapi cinta dan kasih yang dipenuhi kebohongan dan kepalsuan, hanya untuk menikmati keindahan duniawi yang bersifat sementara.
Dalam sebuah hadist qudsi Allah swt berfirman sebagaimana yang di riwayatkan oleh Nabi saw: “Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling mengunjungi karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (HR Thabrani).
Cinta hakiki yang diajarkan oleh Allah swt ialah cinta yang dibina di atas nama Allah dan karena Allah swt, karena seorang muslim melihat terhadap hakikat kehidupan dunianya yang sementara. Ia tahu pasti bahwa akhir dari semua ini adalah kembali kepada Allah swt, maka jika harus mencintai seseorang, maka ia bina cinta itu karena Allah swt, bukan karena dunia, paras muka, keturunan, harta dan pangkatnya. Seorang muslim tahu pasti bahwa semua itu akan hilang dan hancur oleh satu batas yang di sebut “Al maut”. Seorang mukmin juga membuktikan cintanya dengan saling berkunjung dan bersilaturrahmi juga karena Allah swt, bahkan saling berkorban membela harga diri dan kemuliaan sesama mereka juga karena Allah swt. Kehidupan seorang mukmin berorientasi pada dunia, yang kehidupannya hanya akan dibatasi oleh ‘sampah’ atau ‘kakus’, karena setiap barang dunia yang di beli pasti akan berakhir di sampah, dan setiap makanan di dunia pasti akan berakhir di kakus. Orientasi kehidupan mukmin adalah Allah swt hingga perjalanan hidupnya meluncur di atas jalan yang lurus menuju akhirat yang tiada terbatas.
Mungkin ada yang beranggapan bahwa ikut merayakan hari valentine tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya. Semua anggapan seperti ini terbantahkan dengan fakta sejarah munculnya hari valentine itu sendiri, karena tanggal 14 Februari takkan bermakna apapun jika tiada sejarah itu. Maka ia akan seperti hari-hari biasa lainnya. Karena itulah sebagai seorang muslim atau muslimah sangat tidak tepat untuk ikut-ikutan merayakan hari tersebut, bukankah setiap harinya tak kurang 17 kali kita selalu meminta kepada Allah :
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yakni yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(yakni nasrani)” (QS Al-Fatihah 1 : 6-7)
Semoga Allah senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Wallahu a’lam.
DIarsipkan di bawah: artikel jihad, islam dan biografi | Ditandai: Umum






