Adalah kaum Munafiq, laksana waria yang tak jelas kelaminnya, keberadaan mereka membingungkan dan serba menipu. Zahirnya mereka mengaku beriman kepada Rasulullah akan tetapi tindak tanduk mereka mencerminkan pembangkangannya daripada sebagai pengikut beliau.
Bagi kaum yang telah dijanjikan neraka ini, garis-garis kehidupan yang telah ditetapkan oleh Alloh dan RasulNya bukanlah hal penting yang harus diperhatikan. Artinya dalam praktek kehidupan mereka halal-haram, haq-bathil,tidak ada bedanya asalkan tujuan tercapai.
Diabadikannya seruan Kaum Muslimin terhadap kaum Munafik dalam surat al Munafiqun ayat kelima ini bertujuan untuk memberikan penegasan bahwa tidak ada karunia yang lebih besar yang diberikan kepada manusia selain permintaan ampun Nabi Muhammad Saw kepada Alloh untuk manusia itu sendiri.
Kemuliaan di mata Kaum Munafiq
Besarnya karunia itu tidak akan mampu disamai oleh setinggi-tingginya jabatan, semulia-mulianya status social, maupun sebanyak-banyaknya harta.
Lantas mengapa, kaum Munafiq menolak seruan kaum Muslim?
Dalam kacamata masyarakat materialisme, sesuatu yang tidak berwujud tidak akan pernah dianggap keberadaannya. Kiranya, paham inilah yang dianut oleh masyarakat yang bermental Munafiq. Mereka tidak akan pernah tergiur oleh sesuatu yang tak berwujud, mereka juga tak akan bergeming terhadap tawaran keuntungan yang tak tampak oleh mata. Kondisi ini ambivalen dengan mental kaum Muslimin yang senantiasa khusnuzhan kepada Alloh dan RosulNya, dan selalu antusias terhadap setiap kabar gembira yang datang kepada mereka.
Standarisasi Kaum Munafiq(Tentang Jabatan)
Setelah mendapatkan jabatan, terdapat perbedaan persepsi antara kaum Munafiq dan kaum Muslim dalam memandang jabatan. Bagi orang munafiq, jabatan bukanlah tanggung jawab, tapi symbol kehormatan yang harus dipertahankan mati-matian. Sedangkan bagi kaum Muslim, jabatan tak lebih dari beban akhirat yang memiliki konsekuensi sangat berat.
Perbedaan persepsi itu yang menjadikan pembicaraan tentang tanggung jawab menjadi sia-sia dihadapkan kaum munafiq. Bagi mereka tanggung jawab tidak ada hubungannya dengan kehormatan, semua adalah kebohongan. Padahal tanggung jawablah yang akan menjadikan seseorang manjadi mulia atau tidak. Hal ini dipertegas oleh Alloh,
“Kemuliaan itu hanya menjadi milik Alloh, milik Rasul Nya , dan milik orang-orang Mukmin”
DIarsipkan di bawah: artikel jihad, islam dan biografi






