Dalam hidup keseharian , kita sering menjumpai dilema keberagaman dikalangan umat Islam. Tidak sedikit diantara umat ini, yang karena pengetahuan agamanya sangat minim , mengaku pemeluk agama tapi tidak menjalankan ibadah sesuai ajaran agamanya, seperti dialog dibawah ini:
Saya orang yang beragama, tetapi tidak menjalankan ibadah. Karena ibadah itu, menurut saya hanya sekadar simbolis/formalitas saja, sehingga tidak terlalu penting. Yang penting dalam beragama adalah Iman.
Benarkah orang beragama hanya cukup dengan iman tanpa perlu melaksanakan ibadah kepada tuhan sesuai ajaran agamanya ? apakah pendirian seperti itu punya landasan akal sehat, hati nurani yang bersih, tradisi nenek moyang atau aturan Tuhan yang anda imani?
Jelas, berdasarkan akal dan tradisi.
Akal siapa dan tradisi apa?
Akal dan tradisi yang hidup dilingkungan sosial masyarakat.
Bila seseorang percaya kepada tuhan tanpa beribadah kepada-Nya, lalu apa bukti kongkrit keimanan anda kepada Tuhan sebagai Pencipta semua makhluk, jika beriman tanpa beribadah?
Begitulah pemikiran dan tradisi masyarakat saya sejak nenek moyang dahulu.
Apakah akal dan tradisi masyarakat seperti itu benar menurut kehendak Tuhan dan akal orang-orang bijak serta waras?
Siapakah masyarakat yang bijak dan waras akalnya seperti yang dimaksud itu?
Yaitu mereka yang berpendirian bahwa agama itu bukan sekedar iman atau percaya, tetapi sekaligus patuh, tunduk dan mengikuti apa saja yang menjadi aturan tuhan.
Itu persepsi anda. Sedangkan pendirian saya tidak begitu.
Baiklah mari kita ambil contoh sederhana dan logos saja. Misalnya, anda percaya mandi dapat membersihkan badan dan untuk menjaga kesehatan. Tetapi faktanya anda tidak mau mandi. Dapatkah badan anda jadi bersih dan sehat?
Tidak bisa. Bahkan, selain bau badan bisa sakit-sakitan.
Contoh lain, anda percaya bahwa air dapat menghilangkan rasa haus dan menjaga ketahanan tubuh. Tetapi anda tidak mau minum, dan membiarkan diri kehausan hingga jatuh pingsan. Apakah tindakan seperti itu termasuk berakal waras atau tidak waras?
Akal tidak waras, bahkan tindakan bunuh diri.
Jika demikian,apakah anda berpendirian bahwa beragama cukup hanya beriman kepada Tuhan tanpa beribadah kepadaNya?
Keterangan anda cukup rasional dan masuk akal, tetapi tidak berarti saya setuju dengan argumentasi anda itu. Karena saya melihat masyarakat telah mewarisi tradisi seperti itu turun temurun, tanpa ada yang merasa bersalah.
Tadi anda telah akui dan percaya bahwa mandi dapat membersihkan dan menyehatkan badan, tetapi anda tidak mau mandi, menjadi bukti orang yang akalnya tidak waras bukan?
Ya, benar saya akui.
Nah begitu juga dengan masyarakat anda, mengapa diikuti. Bukankah akal waras seharusnya mendorong anda untuk mengoreksi kesalahan mereka, bukan malah terus mengikuti akal orang-orang yang tidak waras?
Merubah masyarakat, bukan hal mudah. Bagi saya, itu perkara yang sangat berat.
Jadi masalahnya sudah jelas. Yaitu, akal waras anda menyalahkan tradisi mereka yang hanya beragama tanpa beribadah. Tetapi anda tidak berani bersikap menyalahkan mereka.
Jika beragama bukan hanya sekedar iman, apakah berarti beribadah itu berdasarkan akal atau kehendak Tuhan?
Akal dan juga kehandak Tuhan. Bukankah penjelasannya sudah sangat gamblang. Perumpamaannya seperti orang mandi, yang percaya bahwa mandi dapat membersihkan dan menyehatkan badan, air menghilangkan rasa haus dan menjaga kesehatan tubuh. Adapun kehendak Tuhan, hal ini termaktub dalam kitab suci Al Qur’an dan sunnah RasulNya.
Saya dapat menerima argumentasi yang logis dan praktis. Dan tertarik untuk mempelajari seluk beluk ibadah yang merupakan kesatuan total dalam beragama. Saya berharap dapat menjadi Muslim yang shalih.
Alhamdulillah. Semoga Alloh melindungi dan memudahkan jalan bagi anda untuk menjadu Muslim yang shalih.
DIarsipkan di bawah: artikel jihad, islam dan biografi | Ditandai: akal, alloh, formalitas, ibadah, iman, islam, masyarakat, muslim, nenek moyang, taqwa, tradisi, waras







assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu…
dulu neh pernah denger kalo ust. Abu Bakar Baasyir bilang kalau iman itu sekedar percaya … gak usah jauh jauh syaithan aja percaya kalo Tuhan itu Allah … tapi gak melaksanakan perintah Allah … sama dong ama si Syaithan … Na’udzubillahi Min Dzalik Tsumma Na’udzubillahi Min Dzalik
Dalam kitab al-iman dalam shahih bukhari disebutkan bahwa iman itu adalah amal. Kesepakatan ulama ahlussunnah pula yang mengatakan bahwa Iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal. Banyak sedikitnya amal shalih yang diperbuat menunjukkan fluktuasi naik turunnya iman. Pendapat kaum murji’ah lah yang mengatakan bahwa iman itu cukup di hati saja. Sedangkan ahlussunnah menyatakan bahwa perbuatan dapat pula mengakibatkan kekufuran.
mengandalkan logika dan kemampuan terbatas manusia memang terlalu dangkal.
saya salah satu yang pernah terpuruk, tapi berkat hidayah sang pencipta lewat tangan2 orang terdekat saya, membuat saya tahu bahwa manusia ga ada apa2nya dibandingkan alam semesta.
may god bless us all.
tulisan yang menguatkan batin, thx for such post!