assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
afwan … setiap muslim itu wajib zakat (fitrah, mal) sunnah berinfaq dan shadaqah…
non muslim itu wajib pajak dengan catatan hak2nya mendapat perlindungan dari pemerintahan islam yang berkuasa….
nah orang2 sekuler bilang deh indonesia ini kan bukan negara islam…
lalu orang awam bilang indonesia ini kan mayoritas islam
pemerintahan demokrasi yang bahkan tidak mampu mengakomodasi kepentingan mayoritasnya … sistem thagut apalah kehebatannya… lha wong RUU anti pornografi dll aja gak jelas2 keberadaannya…
bagi kami … yang sepemahaman disini … kita terus berjuang untuk mendirikan negara yang bersyariat islam… bagi yang tidak suka? fine fine aja itu hak kalian sampai suatu saat kita dipertemukan aja bisa di dunia bisa di akhirat … gampang kan
wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
@ narakushutdown
lha kalau ente bisa ngutarain pendapat/pendirian seperti di atas itu, bukankah itu juga karena alam demokrasi yang mengizinkan? kalau bukan dan kalau tidak, mustinya ente sebagai pembela Islam fanatik kaaffah secara literal dong, untuk tidak ngeblog, lha Rasulullah saja tidak ngeblog.
.
.
.
@ Abi Fathimah
nah orang2 sekuler bilang deh indonesia ini kan bukan negara islam…
lalu orang awam bilang indonesia ini kan mayoritas islam
Setuju lah, wong memang kenyataannya negara ini bukan negara Islam, lha sebape kan jelas, negara ini tidak berdasarkan dan didasarkan pada satu agama (tak peduli mayoritas penganut agamanya apa)
.
bagi kami … yang sepemahaman disini … kita terus berjuang untuk mendirikan negara yang bersyariat islam… bagi yang tidak suka?
Anda biasa membaca tulisan panjang tidak? Saya ada kesaksian dari orang yang melihat penerapan syariat Islam secara langsung, dari Serambi Mekkah, Aceh. Silakan baca [di sini].
Saya bawa deh, salah satu kutipannya.
Pernah juga di di bulan-bulan awal setelah tsunami saya melihat wilayatulhisbah menangkap tukang becak beserta anak perempuannya, hanya karena sang anak memakai jilbab tetapi blus yang dikenakan berlengan pendek.
Sang bapak yang ternyata pengungsi korban tsunami itu sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Perjalanannya tertahan karena putrinya terjaring razia. Dia langsung protes.
“Kenapa mesti becak yang ditahan, kenapa tidak mobil-mobil mewah yang diberhentikan. Mentang-mentang kami orang miskin,” katanya.
Saya masih ingat wajah lelaki itu. Matanya merah dan berkaca-kaca ketika berkata-kata.
Apa itu model penerapan syariah Islam? Oke, kemungkinan Anda bakal berkilah, “ah, apakah itu syariah yang sebagaimana dicontohkan Rasulullah? Kalau bukan, ya jelas tidak sama”.
Ah, kalaulah saya istilahkan, meminjam jargon pemerintahan SBY, “Demokrasi do something, Khilafah do nothing (alias baru sekedar wacana doang, implementasinya nihil)”
omongan orang2 kuffur ! siapa bilang syariah cm implementasi!! kita diwaris itu sejak Al quran diturunkan ,,cuma orang2 kaya lo aja yang buta terhadap kehebatan syariah Islam,,
elo cuma mencontohkan keburukan diaceh, qlo lo mo perbandingan, coba bandingin yang ada disekitar lo sekarang kebusukan pemerintah,aparat,instansi-instansi. apa elo juga uda sama busuknya hingga ga bisa membedakan lagi mana yang benar mana yang salah.
anjing- anjing demokrasi cuma menghasilkan air mata kepedihan bagi umat Islam
lo ga usah munafik, uda berapa kali lo ngecaci pemerintahan kafir SBY dan para thogut polisi selama hidup lo??? jawabannya ribuan!!!.
mulai sekarang lebih baek sebelum tidur lo sering cek kolong tempat tidur lo, sapa tau ada bom ‘teroris’ yang bakal nendang pantat lo langsung keneraka jahanam
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii ukhtii fillah…
la’natullahi ya musyrikin wal munafiqiin…
khilafah do nothing, demokrasi do something? hehehe yah sekarep mu dewek lah, banyak2 baca sejarah aja tentang kekhalifahan
pemahaman sampean iki ngawur lha sampe ngeblog dikait kaitkan sama yang dilakukan Rasulullah. cape dee
Saya senang aja ngeliat orang2 kaya sampean ini saya bergembira karena setiap sampeyan2 ini ngomong saya makin mantap di jalan saya, insya Allah … ya sudah jalankanlah pemikiran sampean saya dan saudara2 saya disini dengan pemikiran kami hehehe susah amet
lagian gak akan nyambung diterusin juga karena setiap satu jawaban sampean akan punya 100 sangkalan.
Akh nara kemarin ada ikhwan datang ke tempat an dia ghirahnya luar biasa banget terus terlibat diskusi ama ana, ana bilang lebih baik kita urus ke dalam dulu baru keluar maksud ana dakwah dan tarbiyah gaya Ustad ABB…., dia ngotot mau frontal … ana cuma tepuk2 pundaknya. tapi kok ya orang2 kaya frozen ini makin memantapkan ana kalo sewaktu waktu terjadi yang frontal hehehe wallahu alam bishawab…. Ya Allah yang mampu membolak balikkan hati janganlah aku bolak balikkan hati hambamu dalam ibadahnya dan juga dalam akidahnya….
wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
Hehe… titik tekan saya kan untuk konteks sekarang, bukan dulu, apalagi berabad-abad lampau, karena memang tidak bisa disangkal, ketika awal-awal pemerintahan khulafaurrasyidin, khilafah membawa berkah dan manfaat bagi semua individu yang bernaung di bawahnya, itu pun karena teritorinya tidak seluas dan seutopis imperium, meski disayangkan, khilafah justru menuai kegagalan pada saat penampilan perdananya. Miris…
Maka relevan dong, kalau saya tanya, apa kontribusi (wacana) khilafah sekarang untuk umat, siapapun itu? Bukankah khilafah se-ka-rang masih sebatas wacana dan slogan? Saya sejak 1 SMP, sudah sering mendengar teriakan-teriakan kawan2 muslim yang mengatakan “SAATNYA KHILAFAH!”, saya kelas 2 SMP, “SAATNYA KHILAFAH!”, saya kelas 3 SMP, “SAATNYA KHILAFAH!”, saya beranjak SMU, suara bising tersebut begitu-begitu juga, “SAATNYA KHILAFAH!”, hingga saya lulus dua tahun lalu sampai saya bekerja sekarang, slogan tersebut masih terus saja dikumandangkan tanpa implementasi. Maka wajar saya melontarkan pernyataan demikian.
Kritik saya yang mesti Anda jawab, berapa dana yang habis ketika Konferensi Khilafah di Istore Senayan beberapa waktu lampau? Implementasi dari konferensi tersebut apa? Tentu hasilnya akan berbeda jika seluruh dana tersebut dibelokkan untuk mereka-mereka yang masih terseok-seok dalam derita kemiskinan.
Dan demokrasi? Saya dengan lapang hati mengakui, bahwa demokrasi bukanlah ideologi yang tanpa cacat, namun setidaknya ia sudah memberi kontribusi-kontribusi yang tidak kecil yang–sadar maupun tidak–bisa dinikmati warga negara Indonesia.
.
.
.
Ada tanggapan sedikit, mungkin?
O iya, kutipan saya soal syariat Islam di atas kok tidak disinggung ya? Fakta itu, dan saya butuh klarifikasi maupun konfirmasi dari pendukung syariat Islam seperti Anda.
frozen
“Dan demokrasi? Saya dengan lapang hati mengakui, bahwa demokrasi bukanlah ideologi yang tanpa cacat, namun setidaknya ia sudah memberi kontribusi-kontribusi yang tidak kecil yang–sadar maupun tidak–bisa dinikmati warga negara Indonesia.”
ya bisa dinikmati rakyat indonesialah lha wong demokrasi dikpaksakan untuk indonesia….
he maz frozen, saya khan orang islam(klo ente aku gak tau islam ato bukan) manusia diciptakan oleh Allah di dunia ini khan HANYA untuk beribadah kepada-Nya. qta tdak boleh menyekutukan dengan sesuatupun. bukankah sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa yang berhak membuat hukum itu hak mutlak Allah. Bukankah rosul sudah mengingatkan kapada umatnya untuk senantiasa berpeguh teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah bila ingin selamat di dunia dan akherat. umat Islampun disuruh untuk masuk Islam secara kaffah bukan sekali ikut demokrasi dan lain kali ikut Islam. Umat Islam di Indonesia entah sadar ato tidak khan sedang di jajah oleh demokrasi!!!
WAllahua’lam
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
La’natullahi ya musyrikin wal munafiqiin…
ralat:
Ya Allah yang mampu membolak balikkan hati janganlah aku bolak balikkan hati hambamu dalam ibadahnya dan juga dalam akidahnya….
Ya Allah yang mampu membolak balikkan hati janganlah KAU bolak balikkan hati hambamu dalam ibadahnya dan juga dalam akidahnya….
gak punya waktu ikut konferensi kekhalifahan … itu kerjaan ikhwan2 HTI yang saya sendiri gak berkecimpung disana kekhalifahan bukan untuk diperbincangkan jadi sekadar wacana Saya pribadi percaya semuanya dimulai dari diri sendiri sesuai dalil “lindungi dirimu dan keluargamu dari siksa neraka”
Fakta2 syariat yang anda kemukakan itu fakta2 yang memang memojokkan islam karena islam itu bukan personal, kalau ada ummat islam spt yang anda ucapkan buat saya seh itu hanya “realita”, kenapa mesti bingung ketika departemen yang paling korup di bumi indonesia ini justru departemen agama? apa itu tanda islam tidak baik? heheeh kecil sekali cara pandang anda, ketika ksatria templar memelencengkan ajaran kristen lalu membunuh membabi buta mengakibatkan banjir darah dll anda bilang ini salah personalnya apa ajarannya? hehehehe lucu ah, sekarang di meksiko atau lebih deket lagi philipine yang mayoritas kristen siapa penjahatnya? apa departemen terkorupnya? terlepas dari ajaran manapun kesalahan personal tidak boleh dijadikan hujjah kelemahan sebuah ajaran… bagi saya pribadi Islam adalah Sempurna, Petunjuk buat manusia…
Dalil dibuat sebagai petunjuk buat saya tidak aneh karena dari sejak dari nabi Adam as, ajaran yang lurus akan selalu dibilang ketinggalan jaman. sejak wahyu Allah tertuang dalam Kitab sejak itu juga manusia berusaha merubahnya…
Alhamdulillahnya buat saya pribadi saya percaya Al-Quran itu tidak pernah berubah sesuai dengan janji Allah,
Ketika di TAurat berbunyi “Maka akan datang utusan terakhir yang merupakan saudaramu tapi bukan golonganMU dan mempunyai ciri2 seperti engkau wahai Musa” maka orang yahudi berusaha memelencengkan bahwa mereka percaya Nabi terakhir itu akan datang dari golongan mereka Walaupun Allah menjawab dalam Al-Quran “sesungguhnya mereka mengenalmu (muhammad) bagaikan mengenal anak2 mereka sendiri”, lalu Orang kristen mengklaim Nabi Isa as sebagai Nabi itu padahal jelas2 ciri2 Nabi Musa as berlimpah pada Muhammad SAW mulai dari berkeluarga, menerima kitab baru, diusir kaumnya, dimenangkan dan menjadi pemimpin dst…
Keterangan diatas saya tulis tidak lain dan tidak bukan untuk menyatakan bahwa dalil dipercayai bukan untuk mematikan akal tapi untuk tahu dimana rambu2 tsb
Ketika nabi bersabda Imam Mahdi itu orang arab Quraisy, bukan berarti semua orang arab itu suci… tapi saya percaya nanti dia akan ada pada masanya untuk memimpin umat islam saya tidak mau seperti bangsa yahudi yang menolak Nabi Muhammad SAW disini aja banyak kasus spt LIa Eden dan Moshadeq hehehe …
Nabi Mengisyaratkan tentang datangnya sepasukan hitam-hitam yang diakhir jaman nanti akan menjadi pembela imam mahdi as, ini bisa syiah atau ini bisa thaliban lha hati saya kok lebih ke thaliban ya sudah saya minta petunjuk Allah saja …
Ketika Nabi bilang kejayaan islam nanti akan direbut juga melalui peperangan ya saya percaya entah itu sekarang nanti atau 100 tahun lagi
Ketika Allah berfirman selalu ada suatu kaum yang berperang untuk Allah sampai hari akhir nanti nanti, tidak merugikan bagi mereka siapa yang mencela mereka, dan tidak menguntungkan mereka siapa2 yang membantu mereka” ya saya juga percaya ini hehehe
Jadi Anda bisa berkutat terus dengan pemikiran Anda silahkan saja bagi saya cukup apa yang telah Allah dan RasulNYA kemukakan.. toh nanti kita akan dipersaksikan siapa yang salah dan benar di hari akhir nanti simple kan?
saya tidak merasa akal saya mati ketika saya menerima dalil Allah sebagai suatu ketentuan, saya hanya menjalankan sesuai kemampuan saya sampai saya menemui ketentuan saya yang saya harap saya dapat menjadi kaum pilihanNYA.
dari zaman Rasulullah SAW selalu ada manusia2 yang menggunakan agama demi kepentingan pribadi atau golongannya jadi apa yang aneh dan baru? Saya hanya berjuang sesuai ucapan Abu bakar ra. beliau berkata “telah kudengar RAsulullah SAW bersabda bahwa 12.000 pasukan yang Taat sebenar-benarnya taat kepada Allah akan mengalahkan pasukan manapun” gak logis ya? 12.000? tapi saya percaya dan saya yakin ampe detik ini 12.000 pasukan itu belum ada karena banyak contoh2 orang2 yang anda jadikan contoh spt itu … saya hanya berjuang mewujudkan itu dimulai dari diri saya sendiri dan keluarga … soal hasil? saya serahkan semuanya buat Allah Azza wa Jalla yang menilai …
Ya illahi telah ku basuh tubuh ini untuk bersuci, telah jatuh air mata kala malam dini, Demi Allah yang Diriku ini berada dalam genggamanMU janganlah jadikan aku orang takabur, jangan jadikan aku orang benar sendiri dan jangan jadikan aku kaum fasiq, kaum yang kau murkai dan kaum2 yang sesat…
wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
Kebetulan saya ada sedikit waktu senggang, jadi saya rasa tidak ada salahnya menanggapi lagi komentar-komentar di atas.
@ siboy
manusia diciptakan oleh Allah di dunia ini khan HANYA untuk beribadah kepada-Nya.
Lalu hubungannya dengan demokrasi yang saya singgung apa? Terus, bentuk ibadah/penghambaan kepada Allah itu apa dan bagaimana saja? Terkait dengan pertanyaan barusan, apakah Anda pernah membaca cerpen Robohnya Surau Kami karya almarhum A.A.Navis? Jika pernah, apa tanggapan Anda dengan ilustrasi dan pesan yang disampaikan di dalamnya?
.
bukankah sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa yang berhak membuat hukum itu hak mutlak Allah.
Apakah Al-Qur’an memang harus dibaca sebagaimana yang tertera? Lalu hukum di situ lebih mengacu ke mana; hukum dalam wilayah politik saja, ataukah hukum sunatullah? Jika politik, kenapa ayat-ayat yang berbicara hukum politik porsinya tidak sebanyak porsi ayat-ayat perdamaian, kasih dan sayang? Tolong tunjukkan pula ayat Al-qur’an mana yang membahas tentang model pemerintahan. Jika hukum di situ mengacu ke hukum sunatullah, misalnya yang sederhana, hukum siang dan malam, lalu kenapa manusia boleh dan bisa membuat inovasi berupa lampu, padahal kalau mau tunduk pada hukum tersebut, kita harusnya menerima keadaan gelap selama malam tiba, tapi nyatanya kita ikut menikmati teknologi penerangan di malam hari, yang mana ia adalah produk non-muslim? Hmm?
.
Bukankah rosul sudah mengingatkan kapada umatnya untuk senantiasa berpeguh teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah bila ingin selamat di dunia dan akherat.
Hehe, kalau maksudnya berpegang teguh di situ adalah mengikuti apa yang tertera dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah secara membabi buta tanpa melihat relevansinya untuk konteks kekinian sih, yang ada dunia kacau balau. Tafsir antara satu golongan Islam dengan golongan Islam yang lainpun, seringkali saling bertolak belakang, dan itu kerap menimbulkan konflik internal.
.
umat Islampun disuruh untuk masuk Islam secara kaffah bukan sekali ikut demokrasi dan lain kali ikut Islam.
Lha makna kaffah dalam pandangan ente lebih spesifiknya yang seperti apa sih? He? Masuk Islam secara keseluruhan bukan berarti meniadakan segala hal yang bukan produk Islam. Jika harus mengikuti paradigma ente, maka semua yang bukan produk Islam, harus ditolak, salah satunya teknologi yang kita nikmati saat ini. Begitu?
.
.
.
Jyah, jadi kepanjangan.
Eh, ketimbang komentar sepotong-sepotong dan kurang efektif seperti ini, mending kita ngobrol saja, chatting. Kan bisa lebih interaktif, dan syukur-syukur saling menambah wawasan keislaman. Kita saling berbagi pemahaman saja, siapa tahu nanti saya berbalik haluan, dan itu akan menjadi poin plus Anda, sudah “mengembalikan” saya ke “jalan yang benar”.
Gimana boy? Ane online ampe shubuh nih, kalau mau, ane tunggu. Ente add aje ane, di Yahoo Messenger, paradoks_2017. Ditunggu
@ Abi Fathimah
Ah, Anda juga saya ajak untuk diskusi terbuka via Yahoo. Kita bicarakan semuanya dengan baik, dengan jernih, dan tanpa prasangka.
Padahal Anda sudah saya tunggu sejak kemarin-kemarin lho.
Yah, kalaupun dirasa membuang waktu, setidaknya obrolan kita bisa dijadikan wahana silaturahmi, saling memupuk persaudaraan sesama muslim. Bukan begitu?
.
.
.
@ aziz
Tidak ada pilihan lain untuk selamat? Selamat di situ maksud khususnya biar selamat di akhirat, gitu? Biar selamat dan bisa masuk sorga, lalu menikmati tubuh para bidadari, begitu?
Ah, ditunggu sampai shubuh tak ada yang nongol. Pun belum muncul pula tanggapan baru di sini.
.
.
.
Eh, untuk narakushutdown, ada sedikit kritik nih, standar kebenaran Demokrasi bukan suara mayoritas, karena tidak tentu suara terbanyak adalah legitim (sah). Asumsi ente itu lebih mirip dengan pemikiran Rousseau yang menyamakannya dengan volonte generale (kehendak umum) yang selalu benar, padahal kategori politik demokrasi adalah ‘baik-buruk’, bukan ‘benar-salah’.
selain buku2 tentang politik, baca juga buku2 tentang teori penulisan teks. mau promosi sebuah “produk” tapi bahasanya kayak gitu, ya mana mungkin bisa laku buat pangsa pasar baru yang masih awam…
kalo memang tujuannya cuma buat konsumen lama yang terlanjur fanatik sama produknya, itu, sih, beda perkara lagi. tapi ya siap-siap aja selalu ditolak sama orang-orang yang di luar para konsumen fanatik
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhi wal ukhtii fillah
la’natullahi ya musyrikin wal munafiqin wal fasiqin wal kafirin
@Frozen
@ aziz
Tidak ada pilihan lain untuk selamat? Selamat di situ maksud khususnya biar selamat di akhirat, gitu? Biar selamat dan bisa masuk sorga, lalu menikmati tubuh para bidadari, begitu?
Yeah,
Allohu Akbar!
ah elo
konotasi elo gak enak neh
janji Allah tentang para syuhada memang seperti itu, bagi elo aja ini cuma lelucon bagaimana janji Allah bisa jadi lelucon buat elo. tentu tiada bermakna Firman2 Allah yang lain dan tidak usah menunggu berdiskusi dengan saya karena sikap2 elo saat ini jelas hanya melecehkan saja alias sudah punya pembenaran tersendiri
maaf saya ber elo saja karena bagi saya elo udah gak punya makna lagi sejak tulisan elo yang ini menggambarkan betapa sepelenya janji Allah buat elo hehehe
Saya sangat percaya itu janji Allah buat para syuhada persoalannya bagaimana menjadi syuhada itu boleh elo kemukakan tapi bukan melecehkan janji Allah hehehe kasian deh elo.. ya udah deh kalo itu kaya main main saja buat elo saya juga akan menganggap elo itu hanya permainan saja, itermezzo dalam pemahaman akidah saya hehehe
Ya Allah … dzat yang tiada yang menyamai dan dzat yang tidak pernah ingkar janji…. sungguh kuharap dapat memenuhi perjanjian denganMU wahai Rabbi Maafkan hambaMU yang sering mendhalimi dirinya sendiri ini
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhi wal ukhtii fillah
la’natullahi ya musyrikin wal munafiqin wal fasiqin wal kafirin
lho, ini konteksnya apa? konsep demokrasi atau pihak pelaksana demokrasinya? jangan dicampur-adukkan gitu donk, oom deden… yang anda sampaikan, kan, cuma contoh kasus yang kebetulan berlaku di endonesa yang mana antara konsep dan implementasinya memang nggak sejalan. di negara maju lainnya bagaimana? sebuah penerapan yang salah dari segelintir oknum tidak cukup untuk menjadikan sebuah konsep dinilai buruk, apalagi jika ternyata banyak pihak lain yang bisa menerapkannya dengan sukses.
jika ada seorang anak bodoh di sekolahan anda, apa bisa kita simpulkan bahwa mutu sekolahan anda jelek, cuma menghasilkan anak-didik yang bodoh2, tanpa melihat lulusan lain yang pintar dan sukses?
ngeliat anda ngetawain orang dan ngatain “oon”, saya kok jadi ga tahan untuk membalikkan semuanya ke anda. lain kali pahami konteksnya dulu, ya. perihal istilah asing, yeah, kadang-kadang ada kata2 dalam bahasa asing yang lebih komunikatif untuk digunakan daripada menggunakan bahasa endonesa, kok. saya sering ngerasain itu sendiri.
@ Abi Fathimah
saya masih berbaik sangka, sih, perkara kesan sinisme yang mungkin sampeyan tangkap dari kalimatnya frozen. saya anggap itu sindiran buat mereka-mereka yang hidup beragama dengan egois, yang merasa jalannya adalah yang paling lurus, yang justru rentan menimbulkan perpecahan dengan sesama karena tidak mau sedikit berbesar-hati dengan fakta perbedaan yang ada.
ah, jadi inget tentang paradoks muslim egois. itu tulisan bagus, kok. bikinan adik kelas saya di kampus. silakan dibaca saja.
saya yakin Gusti Allah itu nggak ndeso, kok
tentang khilafah sendiri, pandangan saya 1: kalo ingin islam diterima oleh orang2 yang berada di luar islam, buatlah mereka bisa menerima. promosi ataupun kampanye bodoh – macam di atas itu – yang justru rentan menimbulkan pertentangan (hanya karena alasan “sesuai tuntunan rasul” yang saya pikir juga tidak relevan), ya sampai kapanpun tidak akan pernah bisa berhasil.
mau orang lain mengkonsumsi produk kita tapi kita bertindak dengan mengambil posisi sebagai musuh mereka, ya sampai kapanpun nggak bakal lakulah itu produk!
yeah, kecuali kalo sejak awal kita memang berencana memaksa orang lain itu mengkonsumsi produk kita dengan jalan anarkis, well…saya pribadi tidak akan pernah sepakat dengan hal itu. cuma akan menimbulkan kebencian terselubung aja pada pihak yang dipaksa andaipun jalan kekerasan yang kita pilih itu berhasil
@ Abi Fathimah
Duh, saya kecewa, Anda hanya menyoroti bagian komentar saya yang, (ini menurut dugaan saya lho), lebih mudah diserang. Kenapa komentar-komentar saya yang sebelumnya, tentang syariat, khilafah dan kritik atas kritik demokrasi, tidak Anda sorot?
Di mana respek Anda di saat sebetulnya saya membutuhkan sejumlah klarifikasi dari orang-orang seperti Anda? Dan adakah Mas Abi ini tidak melihat, kalau sinisme saya itu berbentuk pertanyaan retoris, dimana Anda bisa memberi jawaban yang lebih jernih, atau menyerang balik dengan pertanyaan lagi?
.
.
.
@ deden
buat yg pro demokrasi, bullshit lah buat kalian semua. cuma pandai ngomong & obral janji sana-sini.
Di sini saya berusaha memahami, dan beranggapan, mungkin praktek demokrasi yang Anda lihat dan Anda rasakan di tempat Anda tinggal, tidak sebaik yang saya rasakan, sehingga saya mencoba menempatkan diri pada perasaan Anda. Saya memaklumi jika ada yang menganggap demokrasi adalah omong kosong. Saya bisa mengerti.
.
pake istilah2 asing lagi. knapa?! biar keliatan intelek?!
Kalau kata-kata Anda ini ditujukan kepada saya, maka saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk mencari padanan kata yang tepat dalam Bahasa Indonesia bila ada kata-kata sulit dari bahasa asing dalam komentar-komentar saya ke depan (insya Allah).
Tapi omong-omong soal istilah asing, mestinya Abi Fathimah juga mendapat kritik ini, karena “beliau” juga menggunakan bahasa asing (Arab) yang tidak saya mengerti (meski saya bisa menebak arti umum la’natullahi ya musyrikin wal munafiqin wal fasiqin wal kafirin) ketimbang menggunakan bahasa Indonesia >> laknat Allah atas orang-orang musyrik, munafik, fasik dan kafir.
.
lagian ngapain luh nungguin debat ampe subuh?
Debat? Debat Anda bilang? Apa Anda tidak membaca baik-baik kata-kata saya buat Abi Fathimah sebelumnya yang bunyinya seperti ini:
Ah, Anda juga saya ajak untuk diskusi terbuka via Yahoo. Kita bicarakan semuanya dengan baik, dengan jernih, dan tanpa prasangka.
Yah, kalaupun dirasa membuang waktu, setidaknya obrolan kita bisa dijadikan wahana silaturahmi, saling memupuk persaudaraan sesama muslim. Bukan begitu?
Di situ saya serius ingin berbagi pendapat lebih jauh, lebih lugas dan mengalir (karena berbentuk obrolan via chatting). Lha Anda malah menuduh saya mengajak debat.
Tapi tidak apa-apa, mungkin komentar-komentar saya di sini lebih tepat disebut komentar debat, dan ajakan silaturahmi saya pun dianggap sebagai ajakan debat. Tidak apa, saya terima.
tuh kan bener.. kena luh! “joesatch yang legendaris” komenmu ngalor ngidul… baca lagi kitab2 EQ-nya di kampus ya..
watak pengekor politikus ya kayak begini ini, pandai berkilah pandai bersilat lidah… kebodohan dan egois elu dah nampak dari komen luh yg banyak tp ngalor ngidul… tanya knapa, biar nampak sbg sosok “pemikir muda yg mencerahkan”? ya.. ellaahh… memalukan sekali.
*mengamati komentar di atas*
*jadi bertanya-tanya, apakah Rasulullah dulu ketika bersinggungan pendapat dengan sahabat atau kalangan agama lain, menggunakan bahasa yang kasar dan jauh dari santun ya? Jika tidak (tentu saja tidak!), kenapa ada umatnya yang (menulis) kata-kata kurang nyaman di mata seperti di atas ya?*
^
Haha, bagian yang mananya kang, yang harus saya koreksi? Tolong tunjukin dengan jelas, gih, ketimbang meng-oon-oon-i orang lain
Omong-omong, Anda punya blog nggak? Kok link-nya mati gitu? Asli anonim? Terus, kalau Anda merasa tidak oon, kenapa komentar sampeyan itu di mata saya malah lebih rendah derajatnya ketimbang oon itu sendiri ya?
tuh kan bener.. kena luh! “joesatch yang legendaris” komenmu ngalor ngidul… baca lagi kitab2 EQ-nya di kampus ya..
kena? kena di bagian yang sebelah mana? tunjukin satu2 donk… dan kenapa juga saya harus baca kitab2 EQ? bisa kasih tau alasannya?
watak pengekor politikus ya kayak begini ini, pandai berkilah pandai bersilat lidah… kebodohan dan egois elu dah nampak dari komen luh yg banyak tp ngalor ngidul…
nampak bodoh dan egois? ngalor-ngidul? yang mana? tunjukkan satu2, dan tolong beri saya pencerahan dengan argumen sangkalan yang valid dari anda, donk. kalo cuma bilang ‘bodoh’ tapi ndak bisa nunjukin argumen tandingan, sih, ya gampang
saya juga bisa, kok:
andalah yang bodoh!
andalah yang bloon!
andalah yang bego!
andalah yang goblok!
andalah yang nggak bermutu!
nah, gampang banget, kan, kalo cuma sekedar ngata2in?
bukannya dari awal saya memang sudah keliatan lebih pinter dari anda? pertama tentunya dari penguasaan istilah2 asing
kedua, dari kekonsistenan membalas komentar secara runtut dan point to point. beda dengan anda, kan?
komentar anda cuma semakin menegaskan posisi saya itu, lho. jadi kalo saya dicap sebagai orang yang memalukan, maka sebutan apa yang kira-kira cocok buat anda yang posisinya berada di bawah orang yang memalukan ini?
sama kayak yg kmaren “BULLSHIT 4 U” Hahaha…
katanya jangan pake istilah asing? gimana sih? dan, anda tau artinya bullshit?
*tergeragap demi melihat kedatangan Baginda Khalifah Alex*
Aih, silakan Paduka duduk-duduk saja menyimak jalannya debat yang tidak imbang ini, antara calon penghuni sorga yang pintar, dengan kami yang katanya kafir dan bloon ini, Paduka… u_u
*membawakan kursi singgasana empuk berikut kopi hangat khas oriental buat khalifah agung*
*kembali ke arena*
*menunggu orang2 pintar, halalan thayyiban, ahli surga, jihadist of holy war, bullshit-ers ™ datang membawa amunisi*
jadi bertanya-tanya, apakah Rasulullah dulu ketika bersinggungan pendapat dengan sahabat atau kalangan agama lain, menggunakan bahasa yang kasar dan jauh dari santun ya? Jika tidak (tentu saja tidak!), kenapa ada umatnya yang (menulis) kata-kata kurang nyaman di mata seperti di atas ya?
maafkan saya yang awan ini…, soalnya saya pernah baca kutipan hadist Rasullullah Saw yang mengatakan bahwa beliau pernah bersabda kepada orang kafir seperti ini: “Wahai para keturunan kera dan babi… dst”
nanya blog? nanya link? anonim? umat rosululloh? sebegitu pentingkan diriku bagimu? hehehe… point kalian berdua bertambah :
1.sok intelek
2.sok mencerahkan
3.sok alim
selamat deeh!!!
begitulah.. sifat manusia, baru punya ilmu “sedikit” saja udah sok menggurui.. ini nih yg bikin repot. beuh.. cpdeeh..
baiklah dek frozen dan dek legendaris yg pintar, abah deden yg bodoh (menurut dugaan anda) ini mau tanya. tolong sebut negara mana aja yg sukses menerapkan “sistem demokrasi” dari segi ekonomi, politik, kemanan maupun kesejahteraan rakyat nya?!
Jangan ge-er dulu mas, saya nanya blog Anda, ya karena saya ingin tahu, apakah Anda yang bisa mengatai orang lain oon ini memiliki tulisan-tulisan pribadi atau tidak, sehingga saya bisa menilai Anda dari tulisan tersebut. Dan seperti yang mas joe tulis di atas, kalau cuma sekedar mengatai orang, siapapun bisa.
Nah, sekarang jawab dulu pertanyaan saya dan pertanyaan mas joe di atas, bagian mana yang komentar saya harus dikoreksi, dan bagian mana yang komentar mas joe ngalor-ngidul? Jawab dulu ini.
begitulah.. sifat manusia, baru punya ilmu “sedikit” saja udah sok menggurui.. ini nih yg bikin repot. beuh.. cpdeeh..
-_-”a…
Lah, siapa yang sok menggurui…? Yang saya (dan mungkin mas joe) lakukan hanya membalas/menjawab komentar-komentar pro khilafah-syariat sebagaimana adanya, tidak lebih.
Okelah, taruhlah saya, sok menggurui. Tapi bukankah itu lebih baik, ketimbang orang yang sok memvonis, bahwa orang lain itu oon, bullshit, dll? Ha? Lebih parah mana, antara “sok menggurui” dengan “sok memvonis”?
Pertanyaan ini pun harus Anda jawab, kang deden, jangan dulu beralih ke yang lain.
.
hehehe… point kalian berdua bertambah :
1.sok intelek
2.sok mencerahkan
3.sok alim
Naaaa… PR buat kang deden bertambah lagi nih. Tunjukkan lagi, di bagian mana yang komentar kami berdua terlihat “sok intelek”, “sok mencerahkan”, dan “sok alim”. Harus Anda jawab, kalau Abnda tidak mau jadi bahan tertawaan karena hanya bisa mengata-ngatai orang saja!
.
baiklah dek frozen dan dek legendaris yg pintar, abah deden yg bodoh (menurut dugaan anda)
Oo… “abah” sebutanna? Urang Sunda oge? Aih, hapunten atuh, Bah… bilih aya anu diraos teu merenah mah. Mung, Abah kedah ngawaler heula we, eta rupi-rupi pertarosan abdi duaan, engkin tiasa dilajengkeun ka persoalan nagara mana anu sukses nerapkeun demokrasi ti berbagai segi, sareng sajabina.
Dan satu hal, kami sama sekali tak menganggap diri kami pintar, justru Abah Deden-lah yang mengatai kami oon. Dan saya tidak pernah menganggap Abah Deden ini bodoh, kan saya katanya yang oon.
@frozen
“Lalu hubungannya dengan demokrasi yang saya singgung apa? Terus, bentuk ibadah/penghambaan kepada Allah itu apa dan bagaimana saja? Terkait dengan pertanyaan barusan, apakah Anda pernah membaca cerpen Robohnya Surau Kami karya almarhum A.A.Navis? Jika pernah, apa tanggapan Anda dengan ilustrasi dan pesan yang disampaikan di dalamnya?”
wah… ente gak tau tho…. pantesan belain demokrasi
perbedaannya(terutama di Indonesia)
* dalam pasal1 ayat 1 uud 45 di sebutkan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. ‘kalimat kafir, syirik ini jelas menunjukkan bahwa di indonesia tuhannya adalah rakyat berbada dengan ISlam kalo di indonesia kedulatan sangat jelas hak mutlak ALlah yang mutuskan hukum adalah hak mutlak Allah ( Silahkan buka Q.S al-maidah: ayatnya silahkan cari sendiri sekalian belajar agama biar gak ngandalin otak terus untuk masalah agama)
saya gak pernah baca novel A.A Navis. Kalo anda pernah baca Buku AGAMA DEMOKRASI?
“Apakah Al-Qur’an memang harus dibaca sebagaimana yang tertera? Lalu hukum di situ lebih mengacu ke mana; hukum dalam wilayah politik saja, ataukah hukum sunatullah? Jika politik, kenapa ayat-ayat yang berbicara hukum politik porsinya tidak sebanyak porsi ayat-ayat perdamaian, kasih dan sayang? Tolong tunjukkan pula ayat Al-qur’an mana yang membahas tentang model pemerintahan. Jika hukum di situ mengacu ke hukum sunatullah, misalnya yang sederhana, hukum siang dan malam, lalu kenapa manusia boleh dan bisa membuat inovasi berupa lampu, padahal kalau mau tunduk pada hukum tersebut, kita harusnya menerima keadaan gelap selama malam tiba, tapi nyatanya kita ikut menikmati teknologi penerangan di malam hari, yang mana ia adalah produk non-muslim? Hmm?”
*anda orang Islam khan???
Pedoman anda tu akal ato Al-Qur’an dan As-Sunnah???
Kalo pedoman anda Al-Qur’an dan As-Sunnah ya Al-Qur’an harus di baca dan di amalkan donk… gak hanya membaca aje…
-Islam itu agama yang universal semua amalan dari pergi ke WC sampai masalah politik, perang, pemerintahan sudah ada dalam Islam
- model pemerintahan menurut Islam ya seperti pemerintahan Rosulullah. titik!!!!
-untuk lampu itu khan masalah duniawi yang mana Rosul sudah serahkan pada umatnya. Ente tau Ibnu sina gak? bapak kedokteran
ato ilmuwan islam al-jabra (penemu angka aljabar)
dan masih banyak lainnya??
dari aisyah Rosul bersabda “barangsiapa yang beramal (dalam urusan agama) tanpa ada dasarnya dari kami (Rosul) maka tertolak (H.R Muslim)
sudah jelas to hadist ini.
sekian dulu besuk lagi. pergi dulu ah……..
1 lagi: untuk diskusi via e-mail InsyaAllah kalo ane konek di internet dan punya banyak waktu!
ENTE DICIPTAKAN ITU HANYA UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLAH!!! ENTE DAN ANE DAPAT BERIBADAH KEPADA ALLAH DENGAN SEMPURNA KALO KITA HIDUP DI NEGERI ISLAM YANG BENAR2 MENERAPKAN ISLAM!!!
tanggapan enete lainnya InsyaAllah tak jawab besok2
“Hehe, kalau maksudnya berpegang teguh di situ adalah mengikuti apa yang tertera dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah secara membabi buta tanpa melihat relevansinya untuk konteks kekinian sih, yang ada dunia kacau balau. Tafsir antara satu golongan Islam dengan golongan Islam yang lainpun, seringkali saling bertolak belakang, dan itu kerap menimbulkan konflik internal.”
he mas frozen!!! sejak zaman Rosulullah di mana ada orang yang berada di atas kebenaran pasti dimusuhi oleh orang2 yang berada di atas kesesatan! Kalo qta sebagai orang Islam al-qur’an dan As-Sunnah memerintahkan amaln ya kita melaksanakan semampu kita! titik!!!
saya melihat relevansinya dengan kekinian tu… dan karena saat ini di indonesia berhukum dengan hukum KAFIR maka saya sebagai orang Islam harus mengubahnya menjadi syariat Islam, titik!!!
“Lha makna kaffah dalam pandangan ente lebih spesifiknya yang seperti apa sih? He? Masuk Islam secara keseluruhan bukan berarti meniadakan segala hal yang bukan produk Islam. Jika harus mengikuti paradigma ente, maka semua yang bukan produk Islam, harus ditolak, salah satunya teknologi yang kita nikmati saat ini. Begitu? ”
memang benar, masuk Islam secara keseluruhan bukan berarti meniadakan segala yang bukan produk Islam, tapi…. dalam masalah aqidah, ibadah kepada Allah ane harus tunduk pada Islam dan mengikuti semuanya. Titik!!! kalo lampu ciptaan orang kafir, terserah… toh orang kafir juga mengambil ilmu2 orang Islam pada perang salib I dengan cara membantai kaum muslimin di cordoba dan membakar ilmu agama islam. emang KTP, SIM, STNK itu produk demokrasi??? saya memakai SIM, KTP, STNK ya karena terpaksa hidup di NEGARA KAFIR REPUBLIK INDONESIA dan itupun beberapa ulama juga mengatakan tidak apa2. daripada uang dikasih buat thoghut laknatullah mending buat kuliah enak…..
masalah teknologi itu khan masalah dunia yang mana Rosul tidak lebih tau dari umatnya, dan terserah umatnya yang penting tidak melampaui batas.
* dalam pasal1 ayat 1 uud 45 di sebutkan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. ‘kalimat kafir, syirik ini jelas menunjukkan bahwa di indonesia tuhannya adalah rakyat berbada dengan ISlam kalo di indonesia kedulatan sangat jelas hak mutlak ALlah yang mutuskan hukum adalah hak mutlak Allah
Apa mas boy lupa bahwa manusia adalah khalifah, wakil-Nya di muka bumi ini? Tentu segenap persoalan yang melingkupi manusia harus dipecahkan sendiri oleh manusia, hanya bedanya, bagi kita yang mengimani Al-Qur’an, kita menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan hukum, sedang pelaksanaan praktisnya, tetap dilakukan oleh kita selaku manusia (muslim).
Apa mas boy berpendirian bahwa maksud kalimat “yang memutuskan hukum adalah hak mutlak Allah” adalah manusia tidak boleh memutuskan sama sekali hal apapun kecuali oleh Allah?? Jadi… kalau misalnya ada maling ayam, kita diem aja dong, nunggu suara gaib (Allah) terdengar (dari langit) untuk memutuskan hukumnya, gitu maksudnya?
Ah, maaf kalau saya berlebihan, saya ini masih awam mas, maka dari itu asya mohon bimbingannya, mohon pula diluruskan.
.
saya gak pernah baca novel A.A Navis. Kalo anda pernah baca Buku AGAMA DEMOKRASI?
Oh, buku karya Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al-Maqdisi itu? Belum, belum baca. Insya Allah akan segera saya cari.
.
*anda orang Islam khan???
Pedoman anda tu akal ato Al-Qur’an dan As-Sunnah???
Kalo pedoman anda Al-Qur’an dan As-Sunnah ya Al-Qur’an harus di baca dan di amalkan donk… gak hanya membaca aje…
Hooo… ditanya balik tanya…
Saya balik tanya lagi deh. Apa anda tidak pernah mendengar ayat Qur’an yang berbunyi : “seburuk-buruk binatang melata di muka bumi adalah orang-orang tuli dan bisu yang sama sekali tak memakai akal mereka“? Dan tidak sedikit ayat al Qur’an yang di akhir kalimatnya berbunyi: “apakah kalian tidak berpikir?”, “apakah kalian tidak berakal?”, dan lain sebagainya. Tegasnya, memakai akal justru adalah perintah Tuhan itu sendiri.
Kalau keberatan dengan pernyataan saya, silakan disanggah baik-baik mas, diskusi masih panjang.
.
ENTE DICIPTAKAN ITU HANYA UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLAH!!!
Iya, saya tahu kok. Cuma saya pernah nanya di postingan sebelumnya, ibadah di situ cakupannya apa saja? Dan itu sebabnya saya menganjurkan kepada orang seperti mas boy ini untuk sesekali membaca cerita pendek Robohnya Surau Kami
.
he mas frozen!!! sejak zaman Rosulullah di mana ada orang yang berada di atas kebenaran pasti dimusuhi oleh orang2 yang berada di atas kesesatan!
Lha? Jadi standar kebenaran, atau kriteria orang yang benar itu, harus dimusuhi dulu, gitu? -_-”
Kalau begitu saya juga di atas kebenaran dong, kan saya dimusuhi juga.
Kalau mas boy balik menyerang: “Ente kan tidak berpijak pada Qur’an dan hadist Rasul, ente yang berada di atas kesesatan, karena ente tidak mengikuti pemerintahan seperti yang dicontohkan Rasulullah!”, maka saya akan mengulang pertanyaan yang sudah saya lontarkan pada komentar sebelumnya, yakni, ayat mana yang secara tegas membicarakan masalah bentuk pemerintahan?
.
dan karena saat ini di indonesia berhukum dengan hukum KAFIR maka saya sebagai orang Islam harus mengubahnya menjadi syariat Islam, titik!!!
Silakan diubah! Saya tidak sabar ingin melihat hasilnya. Apakah dengan tegaknya syariat Islam, maka semua persoalan bangsa yang multi-kompleks seperti kemiskinan, pengangguran, penyiksaan TKW, dan masalah Lapindo, bisa langsung teratasi, ataukah tidak? Saya akan melihatnya dengan antusias. Cuma pertanyaan saya, kaaaapaaan syariat Islam segera ditegakkan? Ane sudah bosen nih, cuma denger yel-yelnya mulu.
.
toh orang kafir juga mengambil ilmu2 orang Islam pada perang salib I dengan cara membantai kaum muslimin di cordoba dan membakar ilmu agama islam
Lha? Piye tho iki? Kok ra nggenah. Katanya orang kafir mengambil ilmu-ilmu dari orang Islam, tapi pada saat yang bersamaan kaum musliminnya dibantai dan ilmu agama islamnya dibakar.
.
masalah teknologi itu khan masalah dunia yang mana Rosul tidak lebih tau dari umatnya, dan terserah umatnya yang penting tidak melampaui batas.
Tepat! Dan untuk yang ke-sekian kalinya saya tanya, apakah masalah bentuk pemerintahan masuk ke dalam masalah agama? Ha? Bukankah bentuk pemerintahan = berurusan dengan masalah politik, dan masalah politik = urusan duniawi?
.
.
.
Eh, tambahan buat Anda, mas boy, kalau mengetik komentar, tolong dengan tenang, rapi, tidak disingkat-singkat, dan yang terutama, jangan lupa pakai paragraf, agar nyaman dan mudah dibaca.
Dan kalau mau menyisipkan komentar orang lain pada komentar kita sendiri, caranya tidak terlalu sulit, silakan klik [di sini], saya sengaja membuatkannya untuk Anda, dan siapapun yang kebetulan belum mengetahui cara membuat quote/sisipan. Tujuannya agar lebih mudah membedakan mana komentar yang dikutip dan mana komentar pribadi.
dari sekian banyak pertanyaan yg kalian ajukan, jawabannya adalah komentar2 kalian berdua diatas. masih bingung juga?! disitulah letak “oon” kalian.
mutu sekolahan anda jelek, cuma menghasilkan anak-didik yang bodoh2, tanpa melihat lulusan lain yang pintar dan sukses?
jangan bangga dengan latar pendidikan dek joe. walau pun engkau kuliah & lulus dari perguruan tinggi negeri, saya katakan percuma… 1x lagi percuma. gak percaya? silakan kamu melamar kerja ke singapura, mereka pasti geleng2. tanya knapa? karena sistem pendidikan indonesia kualitasnya “rendahan” dimata mereka termasuk saya pribadi. hehehe..
dek frozen, yakin gak mau koreksi nih?! hmm..
nih dia,
Saya dengan lapang hati mengakui, bahwa demokrasi bukanlah ideologi yang tanpa cacat
biarpun banyak orang bilang bahwa dian sastrowardoyo itu cantik, tapi kalo ada upil hitam nongkrong diatas bibirnya malah jadi geli bahkan jijik ngeliatnya. apatah lagi ini system demokrasi yg ternyata jelas2 banyak cacat. disini letak “oon” kalian.
namun setidaknya ia sudah memberi kontribusi-kontribusi yang tidak kecil yang–sadar maupun tidak–bisa dinikmati warga negara Indonesia.
kalo udah kata “NAMUN” berarti kalimat yg kedua jadi “BATAL”. eulueh2 katanya pemikir muda.
kalau Anda tidak mau jadi bahan tertawaan karena hanya bisa mengata-ngatai orang saja!
bahan tertawaan?
hehehe.. silakan aja, kalo perlu undang tuh para guru besar & para cucunguk demokrasi untuk mentertawakan saya. dek frozen dan dek joe, justru sedari awal-awal saya sudah mentertawakan komenter kalian berdua. coba baca lagi kometar saya dari awal. ketawa lagi ah.. hahaha…
lagian kalo saya dan anak2 nonton acara debat TVOne (gak kuat nahan ketawa ampe perut saya sakit rasanya) melihat polah & laku para budak demokrasi. yg lebih parah debat ini jadi berita dan bahan lelucon di “channel news asia” singapura. lucu banget persis kayak badut, kalo kata orang melayu mah “macem budak kecik sajeu”.
yaa.. begitulah, biarlah saya di identikkan dg kesan keterbelakangan, saya malah bangga. berarti otak saya masih orisinil bebas pulusi. Gak seperti kalian para budak demokrasi, berlagak intelek tapi otaknya sudah terkontaminasi racun propaganda demokrasi. otaknya harus diformat ulang, atau jangan2 partisi otaknya udah rusak shg otak kanan & otak kirinya nge-mix. hehehe…
teriak-teriak “demokrasi” tapi lidahnya “pello”, kedengarannya jadi gimana gittuhh..
apapun dalih kalian, tetap bagi saya demokrasi adalah omong kosong!
dari sekian banyak pertanyaan yg kalian ajukan, jawabannya adalah komentar2 kalian berdua diatas. masih bingung juga?! disitulah letak “oon” kalian.
poin yang mana? dan kenapa dianggap oon, itulah yang saya tanyakan.
kalo cuma bolak-balik bilang oon aja, sih, gampang. tapi ya mbok bertanggung-jawab sama pernyataan anda sendiri… anda bilang komentar saya itu oon, ya sebutkan donk alasannya kenapa anda menganggap komentar saya itu dinilai oon. itu yang saya tanyakan.
jangan bisanya cuma bolak-balik bilang oon aja, dunk, tapi ketika diminta alasannya malah ngeles kesana-sini
jangan bangga dengan latar pendidikan dek joe. walau pun engkau kuliah & lulus dari perguruan tinggi negeri, saya katakan percuma… 1x lagi percuma. gak percaya? silakan kamu melamar kerja ke singapura, mereka pasti geleng2. tanya knapa? karena sistem pendidikan indonesia kualitasnya “rendahan” dimata mereka termasuk saya pribadi. hehehe..
ahahahaha…
astaga, abah… saya bangga dengan latar belakang pendidikan saya?
astaga, abah… makanya kalimat saya jangan dipenggal-penggal, donk. itu namanya mutilasi kalimat. jadinya ya konteks paragraf saya keseluruhan jadi samar dan runyam.
astaga, abah… kenapa abah sekarang malah bicara masalah mutu pendidikan?
astaga, abah… masak anda nggak tau kalo yang saya sebutkan itu adalah sebuah analogi?
oke, ini saya kutipkan lagi paragraf komentar saya secara utuh:
lho, ini konteksnya apa? konsep demokrasi atau pihak pelaksana demokrasinya? jangan dicampur-adukkan gitu donk, oom deden… yang anda sampaikan, kan, cuma contoh kasus yang kebetulan berlaku di endonesa yang mana antara konsep dan implementasinya memang nggak sejalan. di negara maju lainnya bagaimana? sebuah penerapan yang salah dari segelintir oknum tidak cukup untuk menjadikan sebuah konsep dinilai buruk, apalagi jika ternyata banyak pihak lain yang bisa menerapkannya dengan sukses.
jika ada seorang anak bodoh di sekolahan anda, apa bisa kita simpulkan bahwa mutu sekolahan anda jelek, cuma menghasilkan anak-didik yang bodoh2, tanpa melihat lulusan lain yang pintar dan sukses?
atau… jangan-jangan abah nggak tau dengan apa yang disebut sebagai “analogi”?
biarpun banyak orang bilang bahwa dian sastrowardoyo itu cantik, tapi kalo ada upil hitam nongkrong diatas bibirnya malah jadi geli bahkan jijik ngeliatnya. apatah lagi ini system demokrasi yg ternyata jelas2 banyak cacat. disini letak “oon” kalian.
bukan itu jawaban yang saya harapkan.
dian sastro mungkin ga sadar kalo ada upil di atas bibirnya. anda yang nyadar juga nggak memberikan solusi apa-apa kalo nggak menyampaikan ke dian sastro. cuma geli sendiri tapi nggak mengkoreksi ya sama aja dengan nggak punya niat memperbaiki.
ad: “hahaha…mukamu aneh. bikin geli tau. kok kamu bisa nggak sadar mukamu aneh?”
nah, menjawab pertanyaan, nggak, dialog permisalan di atas itu?
jawaban abah yang saya quote di atas itu tipenya masih sama dengan yang sebelumnya. kalo ada yang perlu dikoreksi dari komentar saya atau frozen, tunjukkan bagian mananya yang perlu dikoreksi beserta alasannya, donk. kalo macam gini, sih, sama aja bohong. masih setipe: anda cuma bisa berteriak “cacat”, tapi nggak mampu menunjukkan di mana letak kecacatannya.
anda nggak menunjukkan letak upilnya dian sastro yang bikin anda geli itu ada di mana kepada yang bersangkutan meskipun anda (boleh jadi) tau upilnya ada di mana.
kalo udah kata “NAMUN” berarti kalimat yg kedua jadi “BATAL”. eulueh2 katanya pemikir muda.
kapan saya mengklaim diri sebagai “pemikir muda”. hati-hati… statement anda itu ngawur, lho. bisa tergolong fitnah…
dan lanjut, pernah denger “pilihan terbaik di antara yang buruk”?
sejauh ini khilafah malah nggak dimasukkan sebagai opsi sistem pemerintahan di endonesa apa anda sadar apa sebabnya?
sebabnya adalah: demokrasi setidaknya bisa menjawab permasalahan terkait identitas bangsa ini yang majemuk. sedangkan khilafah? dengan cara promosi geblek macam di atas itu ya jelas aja banyak yang menolak duluan bahkan ketika baru akan diwacanakan.
dengan kampanye yang tidak simpatik macam gitu, mana ada yang bukan pemeluk islam yang mau tertarik? wong belum-belum sudah teriak kafir, sudah memposisikan diri sebagai musuh, kok. coba, siapa, sih, yang mau dikata-katain sebagai kafir?
goblok betul, ah!
bahan tertawaan?
hehehe.. silakan aja, kalo perlu undang tuh para guru besar & para cucunguk demokrasi untuk mentertawakan saya. dek frozen dan dek joe, justru sedari awal-awal saya sudah mentertawakan komenter kalian berdua. coba baca lagi kometar saya dari awal. ketawa lagi ah.. hahaha…
boleh jadi kita memang saling menertawakan. tapi tentunya derajatnya berbeda, donk, ah
anda tertawa tapi cuma asal tertawa. tanpa argumen. tanpa alasan. cuma teriak-teriak “oon” aja dari awal.
sedangkan saya ataupun frozen tertawa sambil memberikan argumen sanggahan.
nah, bisa keliatan, kan, siapa yang kualitas tertawanya lebih murahan dibanding yang satunya?
lagian kalo saya dan anak2 nonton acara debat TVOne (gak kuat nahan ketawa ampe perut saya sakit rasanya) melihat polah & laku para budak demokrasi. yg lebih parah debat ini jadi berita dan bahan lelucon di “channel news asia” singapura. lucu banget persis kayak badut, kalo kata orang melayu mah “macem budak kecik sajeu”.
errr… tvone itu stasiun tv mana? channel news asia sedang membahas negara mana? endonesa, bukan? kalo endonesa, ya artinya kita kembali ke analogi saya di atas itu tadi.
sekarang sudah paham atau belum analogi itu artinya apa?
yaa.. begitulah, biarlah saya di identikkan dg kesan keterbelakangan, saya malah bangga. berarti otak saya masih orisinil bebas pulusi. Gak seperti kalian para budak demokrasi, berlagak intelek tapi otaknya sudah terkontaminasi racun propaganda demokrasi. otaknya harus diformat ulang, atau jangan2 partisi otaknya udah rusak shg otak kanan & otak kirinya nge-mix. hehehe…
ah, apa boleh buat kalo sudah kayak gini. artinya ada yang cuma diam saja tapi menertawakan orang lain yang sudah berbuat sesuatu. tipikal khas orang endonesa sekali, ya?
teriak-teriak “demokrasi” tapi lidahnya “pello”, kedengarannya jadi gimana gittuhh..
apapun dalih kalian, tetap bagi saya demokrasi adalah omong kosong!
teriak-teriak “oon” tapi nggak bisa menunjukkan argumennya. kedengarannya jadi gimana gitu…
dengan kampanye yang tidak simpatik macam gitu, mana ada yang bukan pemeluk islam yang mau tertarik? wong belum-belum sudah teriak kafir, sudah memposisikan diri sebagai musuh, kok. coba, siapa, sih, yang mau dikata-katain sebagai kafir?
siapa yg kampanye tidak simpatik dek joe??!! baca lagi komentar2 saya dr awal gih… saya cuma mengkritik demokrasi, yg selama ini hanya “omong kosong” doang. itu saja.
siapa yg kampanye tidak simpatik dek joe??!! baca lagi komentar2 saya dr awal gih… saya cuma mengkritik demokrasi, yg selama ini hanya “omong kosong” doang. itu saja.
lho, komentar2 saya di sini kan didasarkan pada postingan di atas. ya sudah barang tentu yang saya sebut tidak simpatik adalah isi postingan di atas itu
teriak-teriak “oon” tapi nggak bisa menunjukkan argumennya
Baiklah dek joe & dek frozen,
Kesembronoan kita menafsir dan melaksanakan demokrasi sebagai barang baru pasca runtuhnya Soeharto hendaknya bisa dicerminkan dari kesembronoan kita menafsir dan melaksanakan pembangunan. Pembangunan memang harus dijalankan, tapi sejauh ini praktik yang terjadi adalah pembangunan yang kental dengan hegemoni negara adikuasa. Kita tak memiliki kemandirian membangun selain manut pada titah sang adikuasa.
Dengan demikian pertanyaannya, adakah cita-cita luhur demokrasi –sebagai ide yang pernah membunuh Socrates itu– betul-betul dari rakyat, untuk dan oleh rakyat? Adakah cita-cita luhur pembangunan selama ini sudah berhasil mengentaskan kemelaratan dan menciptakan rasa aman? Secara teoritis mungkin iya, tapi pada praktiknya kita bahkan saksikan tumbuhnya kelas masyarakat baru, yakni mereka yang teraniaya sebagai korban pembangunan. Demikian pula dengan demokrasi yang pada kenyataannya banyak menciderai mayoritas sosial yang hendak diperjuangkan minoritas sosial.
Di negara kita, di saat para intelektual lain sibuk membuat rancang-bangun bagaimana Indonesia keluar dari era transisi yang melelahkan, tidak banyak dari mereka yang berpikir lebih dalam. Sebab tanpa harus menggugat keberadaan demokrasi vis a vis pelbagai proyek globalisme, kita lebih disibukkan menata piranti-piranti demokrasi ala kapitalisme itu sendiri. Disadari atau tidak, suka atau benci.
Kesembronoan kita menafsir dan melaksanakan demokrasi sebagai barang baru pasca runtuhnya Soeharto hendaknya bisa dicerminkan dari kesembronoan kita menafsir dan melaksanakan pembangunan. Pembangunan memang harus dijalankan, tapi sejauh ini praktik yang terjadi adalah pembangunan yang kental dengan hegemoni negara adikuasa. Kita tak memiliki kemandirian membangun selain manut pada titah sang adikuasa.
Dengan demikian pertanyaannya, adakah cita-cita luhur demokrasi –sebagai ide yang pernah membunuh Socrates itu– betul-betul dari rakyat, untuk dan oleh rakyat? Adakah cita-cita luhur pembangunan selama ini sudah berhasil mengentaskan kemelaratan dan menciptakan rasa aman? Secara teoritis mungkin iya, tapi pada praktiknya kita bahkan saksikan tumbuhnya kelas masyarakat baru, yakni mereka yang teraniaya sebagai korban pembangunan. Demikian pula dengan demokrasi yang pada kenyataannya banyak menciderai mayoritas sosial yang hendak diperjuangkan minoritas sosial.
Di negara kita, di saat para intelektual lain sibuk membuat rancang-bangun bagaimana Indonesia keluar dari era transisi yang melelahkan, tidak banyak dari mereka yang berpikir lebih dalam. Sebab tanpa harus menggugat keberadaan demokrasi vis a vis pelbagai proyek globalisme, kita lebih disibukkan menata piranti-piranti demokrasi ala kapitalisme itu sendiri. Disadari atau tidak, suka atau benci.
Wow… komentar yang ini lebih cerdas, santun, dan tenang dalam pemaparan. Kontras dengan komentar-komentar yang sebelumnya!
Wah, saya jadi curiga nih. Jangan-jangan…
Ah, tidak… tidak…
saya tak berani memvonis.. dan tak mau berburuk sangka.
Yang jelas, ini sebuah “kemajuan” bagi kang deden dalam berdiskusi di sini.
.
.
.
*ah, saya teringat pesan Abuya Alex, untuk tidak lagi menguras energi di sini, tapi untuk sekedar komentar-ringan, sepertinya tiada mengapa deh*
Kesembronoan kita menafsir dan melaksanakan demokrasi sebagai barang baru pasca runtuhnya Soeharto hendaknya bisa dicerminkan dari kesembronoan kita menafsir dan melaksanakan pembangunan. Pembangunan memang harus dijalankan, tapi sejauh ini praktik yang terjadi adalah pembangunan yang kental dengan hegemoni negara adikuasa. Kita tak memiliki kemandirian membangun selain manut pada titah sang adikuasa.
saya tak hendak menolak kenyataan ini. lanjut…
Dengan demikian pertanyaannya, adakah cita-cita luhur demokrasi –sebagai ide yang pernah membunuh Socrates itu– betul-betul dari rakyat, untuk dan oleh rakyat? Adakah cita-cita luhur pembangunan selama ini sudah berhasil mengentaskan kemelaratan dan menciptakan rasa aman? Secara teoritis mungkin iya, tapi pada praktiknya kita bahkan saksikan tumbuhnya kelas masyarakat baru, yakni mereka yang teraniaya sebagai korban pembangunan. Demikian pula dengan demokrasi yang pada kenyataannya banyak menciderai mayoritas sosial yang hendak diperjuangkan minoritas sosial.
nah, jelas, kan? jelas kalo permasalahan yang terjadi sekarang ini adalah pada perbedaan antara konsep dan implementasinya, tho? karenanya itu saya pakai analogi sekolahan sampeyan. tidak ada masalah pada konsepnya. masalah itu ada di tingkat implementasinya.
makanya saya anggap postingan di atas itu juga salah. kalo mau membuat perbandingan konsep, ya bandingkanlah antara konsep khilafah dengan konsep demokrasi, dan bukannya konsep khilafah vs implementasi demokrasi. toh bukan nggak mungkin, kan, kalo konsep khilafah syariat islam nantinya diimplementasikan dengan ngawur; kayak di aceh itu, misalnya…
Di negara kita, di saat para intelektual lain sibuk membuat rancang-bangun bagaimana Indonesia keluar dari era transisi yang melelahkan, tidak banyak dari mereka yang berpikir lebih dalam. Sebab tanpa harus menggugat keberadaan demokrasi vis a vis pelbagai proyek globalisme, kita lebih disibukkan menata piranti-piranti demokrasi ala kapitalisme itu sendiri. Disadari atau tidak, suka atau benci.
pun tidak lantas kita boleh membenarkan strategi promosi syariat islam semodel postingan di atas itu, bukan?
alih2 pengen membuat syariat diterima, yang ada justru rasa saling klaim kebenaran, nantinya.
coba saja ganti kata “islam” pada postingan di atas itu dengan agama selain islam, termasuk tuhannya, termasuk kitab sucinya. kira2 bagaimana perasaan orang islam sendiri kalo membaca kampanye model di atas itu tapi mengatasnamakan agama xxx? apa orang islam sendiri sudah cukup berbesar hati menerima kata2 kalo agamanya adalah agama ngawur dan tidak benar? saya jadi inget yutup diblok gara2 “fitna”
nah, jadi kalo model kampanye masih kayak di atas itu, mau nggak mau, khilafah akan ditolak terus. dan solusinya, demokrasi setidaknya adalah pilihan yang paling mungkin untuk menjawab kemajemukan yang ada.
saya heran…dari dulu model kampanye khilafah kok nggak banyak berubah. sepertinya perlu belajar banyak tentang periklanan, manusia-manusia macam gitu itu. cuma bisa ngomong thok, ngomongnya nylekit (buat yang lain) lagi
Apa mas boy lupa bahwa manusia adalah khalifah, wakil-Nya di muka bumi ini? Tentu segenap persoalan yang melingkupi manusia harus dipecahkan sendiri oleh manusia, hanya bedanya, bagi kita yang mengimani Al-Qur’an, kita menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan hukum, sedang pelaksanaan praktisnya, tetap dilakukan oleh kita selaku manusia (muslim).
oh saya gak lupa mas frozen… justru saya balik tanya apakah sampeyan lupa bahwa Rosulullah bersabda “Aku tinggalkan 2 perkara, apabila kalian berpegang teguh pada ke dua niscaya kalian akan selamat di dunia dan akherat. ke 2 perkara itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.” memang ada permasalah apapun di bumi dipecahkan oleh manusia, tapi…. khan kita diperintah untuk berpedoman pada al-quran dan as-sunnah mas frozen… kita di dunia ini memang dijadikan Allah sbg khalifah dan Allah menurunkan Al-Qur’an dan AS-Sunnah sebagai pegangan kita di dunia agar dapat menjadi khalifah yang baik. emang kalo kita sebagai khalifah di dunia kita harus ninggalin al-Qur’an dan AS-Sunnah gitu?? itu namanya khalifah yang gak tau di untung sudah dibuatkan aturan malah buat aturan sendiri!!!!
Apa mas boy berpendirian bahwa maksud kalimat “yang memutuskan hukum adalah hak mutlak Allah” adalah manusia tidak boleh memutuskan sama sekali hal apapun kecuali oleh Allah?? Jadi… kalau misalnya ada maling ayam, kita diem aja dong, nunggu suara gaib (Allah) terdengar (dari langit) untuk memutuskan hukumnya, gitu maksudnya?
Ah, maaf kalau saya berlebihan, saya ini masih awam mas, maka dari itu asya mohon bimbingannya, mohon pula diluruskan.
saya gak heran kalo anda orang awam, cuma kayaknya anda cerdas dalam teknologi dlll. Emang anda belum tau ya, hukum pencuri dalam agama Islam???? silahkan dipelajari deh Al-Qur’an anda!
Hooo… ditanya balik tanya…
Saya balik tanya lagi deh. Apa anda tidak pernah mendengar ayat Qur’an yang berbunyi : “seburuk-buruk binatang melata di muka bumi adalah orang-orang tuli dan bisu yang sama sekali tak memakai akal mereka“? Dan tidak sedikit ayat al Qur’an yang di akhir kalimatnya berbunyi: “apakah kalian tidak berpikir?”, “apakah kalian tidak berakal?”, dan lain sebagainya. Tegasnya, memakai akal justru adalah perintah Tuhan itu sendiri.
Kalau keberatan dengan pernyataan saya, silakan disanggah baik-baik mas, diskusi masih panjang.
lha terus??? dan tegasnyanya coba ente baca teks lengkapnya. dan kalo pengen banyak lagi ayat2 yang disuruh menggunakan akal baca Q.S An-Nahl: 17-ke atas….
kalo gak salah komentar2 saya tulisan”biar gak ngandalin otak terus untuk masalah agama” kayaknya anda berpendidikan dan tau maksud ungkapan saya ini…
maaf ya mas frozen kalo sanggahan saya tidak berkenan di hati ente… bukannya saya marah tapi ya… ini gaya ane … mungkin dah dari sananya….
ya, saya tahu kok. Cuma saya pernah nanya di postingan sebelumnya, ibadah di situ cakupannya apa saja? Dan itu sebabnya saya menganjurkan kepada orang seperti mas boy ini untuk sesekali membaca cerita pendek Robohnya Surau Kami ibadah=perbuatan yang mana Allah meridhoinya. cakupannya segala perbuatan ente yang membuat Allah ridho. bagaiman kita tau Allah ridho??? ya kalo itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah berarti ALlah meridhoinya bila tidak sesuai Allah ALlah tidak ridho. Contoh ketika kita akan makan kita disunnahkan membaca bismillah. kalo kita sebelum makan kita baca basmallah berarti Allah Ridho tapi kalo kita tidak baca basmallah berati setan yang senang, lebih jelasnya cakupan ibadah yang bagaimana daripada nerangkan panjang lebar di sini silahkan ente baca buku kitab tauhid jilid 1-3 karya DR.Sholeh bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan… bukunya dah berdar di penjutu nusantara.. kalo ente kesulitan mendapatkannya datang aja ke toko buku Islam terdekat.
Lha? Piye tho iki? Kok ra nggenah. Katanya orang kafir mengambil ilmu-ilmu dari orang Islam, tapi pada saat yang bersamaan kaum musliminnya dibantai dan ilmu agama islamnya dibakar.
silahkan pelajari kisah2 perang salib di cordoba… ok!!!
Tepat! Dan untuk yang ke-sekian kalinya saya tanya, apakah masalah bentuk pemerintahan masuk ke dalam masalah agama? Ha? Bukankah bentuk pemerintahan = berurusan dengan masalah politik, dan masalah politik = urusan duniawi?
iya! dan untuk kesekian kalinya saya katakan Islam permasalah di dunia ini sudah ada solusinya dalam Islam dari pergi ke WC sampai kepemerintahan!!!! Wallahu a’alam
Apa mas boy lupa bahwa manusia adalah khalifah, wakil-Nya di muka bumi ini? Tentu segenap persoalan yang melingkupi manusia harus dipecahkan sendiri oleh manusia, hanya bedanya, bagi kita yang mengimani Al-Qur’an, kita menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan hukum, sedang pelaksanaan praktisnya, tetap dilakukan oleh kita selaku manusia (muslim).
oh saya gak lupa mas frozen… justru saya balik tanya apakah sampeyan lupa bahwa Rosulullah bersabda “Aku tinggalkan 2 perkara, apabila kalian berpegang teguh pada ke dua niscaya kalian akan selamat di dunia dan akherat. ke 2 perkara itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.” memang ada permasalah apapun di bumi dipecahkan oleh manusia, tapi…. khan kita diperintah untuk berpedoman pada al-quran dan as-sunnah mas frozen… kita di dunia ini memang dijadikan Allah sbg khalifah dan Allah menurunkan Al-Qur’an dan AS-Sunnah sebagai pegangan kita di dunia agar dapat menjadi khalifah yang baik. emang kalo kita sebagai khalifah di dunia kita harus ninggalin al-Qur’an dan AS-Sunnah gitu?? itu namanya khalifah yang gak tau di untung sudah dibuatkan aturan malah buat aturan sendiri!!!!
Apa mas boy berpendirian bahwa maksud kalimat “yang memutuskan hukum adalah hak mutlak Allah” adalah manusia tidak boleh memutuskan sama sekali hal apapun kecuali oleh Allah?? Jadi… kalau misalnya ada maling ayam, kita diem aja dong, nunggu suara gaib (Allah) terdengar (dari langit) untuk memutuskan hukumnya, gitu maksudnya?
Ah, maaf kalau saya berlebihan, saya ini masih awam mas, maka dari itu asya mohon bimbingannya, mohon pula diluruskan.
saya gak heran kalo anda orang awam, cuma kayaknya anda cerdas dalam teknologi dlll. Emang anda belum tau ya, hukum pencuri dalam agama Islam???? silahkan dipelajari deh Al-Qur’an anda!
Hooo… ditanya balik tanya…
Saya balik tanya lagi deh. Apa anda tidak pernah mendengar ayat Qur’an yang berbunyi : “seburuk-buruk binatang melata di muka bumi adalah orang-orang tuli dan bisu yang sama sekali tak memakai akal mereka“? Dan tidak sedikit ayat al Qur’an yang di akhir kalimatnya berbunyi: “apakah kalian tidak berpikir?”, “apakah kalian tidak berakal?”, dan lain sebagainya. Tegasnya, memakai akal justru adalah perintah Tuhan itu sendiri.
Kalau keberatan dengan pernyataan saya, silakan disanggah baik-baik mas, diskusi masih panjang.
lha terus??? dan tegasnyanya coba ente baca teks lengkapnya. dan kalo pengen banyak lagi ayat2 yang disuruh menggunakan akal baca Q.S An-Nahl: 17-ke atas….
kalo gak salah komentar2 saya tulisan”biar gak ngandalin otak terus untuk masalah agama” kayaknya anda berpendidikan dan tau maksud ungkapan saya ini…
maaf ya mas frozen kalo sanggahan saya tidak berkenan di hati ente… bukannya saya marah tapi ya… ini gaya ane … mungkin dah dari sananya….
ya, saya tahu kok. Cuma saya pernah nanya di postingan sebelumnya, ibadah di situ cakupannya apa saja? Dan itu sebabnya saya menganjurkan kepada orang seperti mas boy ini untuk sesekali membaca cerita pendek Robohnya Surau Kami
ibadah=perbuatan yang mana Allah meridhoinya. cakupannya segala perbuatan ente yang membuat Allah ridho. bagaiman kita tau Allah ridho??? ya kalo itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah berarti ALlah meridhoinya bila tidak sesuai Allah ALlah tidak ridho. Contoh ketika kita akan makan kita disunnahkan membaca bismillah. kalo kita sebelum makan kita baca basmallah berarti Allah Ridho tapi kalo kita tidak baca basmallah berati setan yang senang, lebih jelasnya cakupan ibadah yang bagaimana daripada nerangkan panjang lebar di sini silahkan ente baca buku kitab tauhid jilid 1-3 karya DR.Sholeh bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan… bukunya dah berdar di penjutu nusantara.. kalo ente kesulitan mendapatkannya datang aja ke toko buku Islam terdekat.
Lha? Piye tho iki? Kok ra nggenah. Katanya orang kafir mengambil ilmu-ilmu dari orang Islam, tapi pada saat yang bersamaan kaum musliminnya dibantai dan ilmu agama islamnya dibakar.
silahkan pelajari kisah2 perang salib di cordoba… ok!!!
Tepat! Dan untuk yang ke-sekian kalinya saya tanya, apakah masalah bentuk pemerintahan masuk ke dalam masalah agama? Ha? Bukankah bentuk pemerintahan = berurusan dengan masalah politik, dan masalah politik = urusan duniawi?
iya! dan untuk kesekian kalinya saya katakan Islam permasalah di dunia ini sudah ada solusinya dalam Islam dari pergi ke WC sampai kepemerintahan!!!! Wallahu a’alam
Ahh… mas boy sudah bisa menggunakan fasilitas blockquote, jadinya hasil tampilan komentar terlihat lebih rapi (meski masih ada yang mesti sedikit dibenahi).
masalah teknologi itu khan masalah dunia yang mana Rosul tidak lebih tau dari umatnya, dan terserah umatnya yang penting tidak melampaui batas.
kedua:
dan untuk kesekian kalinya saya katakan Islam permasalah di dunia ini sudah ada solusinya dalam Islam dari pergi ke WC sampai kepemerintahan!!!!
jadi, mana yang benar?
eniwei, saya tau maksud anda, kok. cuma saja, kalo saya boleh usul buat semua pendukung khilafah, kampanyekan khilafah dengan cara yang cerdas, bukan dengan cara yang beringas. pelajari strategi pasar anda, dan jangan malah membuat pasar memusuhi kalian. simpel, kan?
semangat itu bagus. tapi kalo semangat saja tanpa strategi ya jadinya modar sahaja
Kayaknya anda juga perlu baca buku kitab tauhid jilid 1-3 karya DR.Sholeh bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan
jadi, mana yang benar?
eniwei, saya tau maksud anda, kok. cuma saja, kalo saya boleh usul buat semua pendukung khilafah, kampanyekan khilafah dengan cara yang cerdas, bukan dengan cara yang beringas. pelajari strategi pasar anda, dan jangan malah membuat pasar memusuhi kalian. simpel, kan?
semangat itu bagus. tapi kalo semangat saja tanpa strategi ya jadinya modar sahaja
manurut saya semua benar… kalo salah saya mohon ampunan dari Allah (Astaghfirullah…) karena setan telah menjerumuskan saya dalam kesalahan melalui kebodohan saya…
oh gitu ya emang strategi saya harus di kemukakan sama anda ya… setahu saya itu strategi gak harus di umumkan “HOOOI STATEGIKU MENGUBAH NEGARA INDONESIA MENJADI ISLAM BLA…BLA…BLA”
dan strategi itu gak harus semua orang tau, cukup yang menjalankan aja yang tau.
Waaah anda berpikir saya orang beringas ya… tau kok orang2 disekitar saya bilang saya itu kurang beringas ya… belum beringas aja dah dianggap beringas apalagi kalo saya beringas??? bisa tak matiin tu orang disekitar saya. heee….
eniwei, saya tau maksud anda, kok. cuma saja, kalo saya boleh usul buat semua pendukung khilafah, kampanyekan khilafah dengan cara yang cerdas, bukan dengan cara yang beringas. pelajari strategi pasar anda, dan jangan malah membuat pasar memusuhi kalian. simpel, kan?
semangat itu bagus. tapi kalo semangat saja tanpa strategi ya jadinya modar sahaja
manurut saya semua benar… kalo salah saya mohon ampunan dari Allah (Astaghfirullah…) karena setan telah menjerumuskan saya dalam kesalahan melalui kebodohan saya…
oh gitu ya…emang strategi saya harus di kemukakan sama anda ya… setahu saya itu strategi gak harus di umumkan “HOOOI STATEGIKU MENGUBAH NEGARA INDONESIA MENJADI ISLAM BLA…BLA…BLA”
dan strategi itu gak harus semua orang tau, cukup yang menjalankan aja yang tau.
Waaah anda berpikir saya orang beringas ya… tapi kok orang2 disekitar saya bilang saya itu kurang beringas ya… belum beringas aja dah dianggap beringas apalagi kalo saya beringas??? bisa tak matiin tu orang disekitar saya. heee….
siboy
ndak paham konteks, eh? komentar saya kan berdasarkan postingan di atas
manurut saya semua benar… kalo salah saya mohon ampunan dari Allah (Astaghfirullah…) karena setan telah menjerumuskan saya dalam kesalahan melalui kebodohan saya…
menurut anda benar, gitu? maka lihat saja hasilnya di lapangan. fakta apa yang terjadi? dengan semangat membabi-buta yang tanpa strategi promosi itu, saya pikir sampeyan bisa liat sendiri apakah syariat islam sudah berhasil menjadi haluan negara di endonesa atau belum.
jika sampeyan menjawab dengan jujur alias menjawab “belum”, artinya memang ada sesuatu yang salah, yang mana menurut pendapat saya adalah kesalahan pada tahap sosialisasinya. that’s it!
oh gitu ya…emang strategi saya harus di kemukakan sama anda ya… setahu saya itu strategi gak harus di umumkan “HOOOI STATEGIKU MENGUBAH NEGARA INDONESIA MENJADI ISLAM BLA…BLA…BLA”
dan strategi itu gak harus semua orang tau, cukup yang menjalankan aja yang tau.
yang saya bahas adalah postingan di atas, mas boy…
dan yang saya liat, jenis kampanye ala postingan di atas itu tidak simpatik. menurut saya, kampanye “waton” model gitu adalah kampanye tanpa otak, tanpa strategi, dan asal bisa keliatan identitas islamnya! jelas?
Waaah anda berpikir saya orang beringas ya… tapi kok orang2 disekitar saya bilang saya itu kurang beringas ya… belum beringas aja dah dianggap beringas apalagi kalo saya beringas??? bisa tak matiin tu orang disekitar saya. heee….
yang saya bahas adalah postingan di atas, mas boy…
dan kapan saya bilang kalo saya mikir sampeyan itu beringas. saya cuma berkaca pada postingan di atas itu, kok. yang mana tentunya dalam hal ini adalah mengacu pada siapa yang menulis postingan itu. liat aja tagline blognya: cerdas beringas
(mungkin malah perlu diganti jadi “beringas saja zonder cerdas”)
jangan buru-buru gitu, ah. nanti malu, lho, kalo salah
Kayaknya anda juga perlu baca buku kitab tauhid jilid 1-3 karya DR.Sholeh bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan
kalo nanti saya sudah baca, apa ada jaminan kalo para tukang kampanye itu juga mau melakukan syarat yang saya ajukan: membaca buku tentang strategi periklanan?
btw, saya setidaknya cukup tau tentang inti syariat islam, kok. dan yang saya pikir, syariat itu untuk dilaksanakan, bukan cuma diomongkan, apalagi diomongkan dengan cara yang tidak simpatik macam di atas! selama ini, syariat islam di endonesa cuma sekedar diomongkan (dengan tidak efektif), kan?
abi fathimah
Terima kasih atas masukannya …
sama2. karenanya kemarin saya menyarankan untuk membaca tulisan adik kelas saya itu. dia nulis tentang pentingnya win-win solution
Ah, sekarang tinggal nunggu klarifikasi dari yang bersangkutan.
Eh, sebentar mas joe, bagaimana kalo mas deden ini ternyata penulis artikel tersebut? Bisa jadi mas deden ini nama aslinya SaifulArif, penulis artikel 69 Pesan Mahathir dan Kritik Atas Demokrasi tersebut??
.
.
.
Ah, saya terlalu muluk dan paranoid.
iya, ya…
tapi kalo ngeliat betapa berbedanya antara gaya ngomen sama nulis artikelnya, sepertinya kecil kemungkinan untuk itu. lagipula, kalo memang dia penulisnya, apa susahnya dari awal menjawab dengan jawaban yang setipe? yang ini sih kesannya terlalu kopi-peist. perbedaan bahasanya terlalu signifikan, huehehehe
Nah, seharian ini tiada seorang pun para pejuang syariat kita yang muncul. Kita lihat besok lah, insya Allah, barangkali akan ada komentar balasan yang lebih dahsyat.
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
La’natullahi ya musyrikiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
frozen
Apakah ini artinya keunggulan sementara di pihak pendukung demokrasi (dan sekularisme)? Yeah, sip kalau begitu. Hedoop demokrasi. Hedoop sekularisme.
Sedari dulu saya sadar anda hanya mencari pemuasan hobi saja kalau pembahasan ini hanya mengenai siapa lebih unggul maka berarti dunia anda sangat sempit
bagi saya pribadi saya tidak pernah merasa dikalahkan dan saya Insya Allah Memohon kepada Allah yang memegang hati saya untuk tetap istiqamah di jalan saya sebagaimana sebaliknya perjalanan anda di jalan anda pun tidak membuat saya merasa terganggu
Dalam Metode Dakwah Rasulullah pun Rasulullah menghindari perbincangan/perdebatan yang itu2 saja, Rasulullah lebih memilih mendakwah orang yang tertarik, kalau tidak waktu Rasulullah akan habis berdebat dengan Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu sofyan …
Saya sangat paham anda sangat yakin dengan jalan anda dan sebagaimana anda saya pun sangat yakin dengan jalan saya
“dan Allah maha pemberi petunjuk bagi siapapun yang dikehendakiNYA”
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
La’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin…
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
La’natullahi ya musyrikiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
joe
[...] di sekitarnya. Sampai sekarang aku masih hobi menggoblok-goblokkan orang yang hobi bikin kampanye khilafah dengan cara-cara bego [...]
Di Pattani sama saja orang siam memaksakan agama buddha dan bahasa siam kepada orang melayu pattani, alih-alih membela Muslim Pattani Dunia cuma bisa bungkam atas Prilaku orang-orang siam yang membunuh ribuan orang muslim, tapi kalau orang2 Muslim menghendaki Negara bersyariat islam dunia seolah menjerit
hal ini terjadi di Mindanao (pemaksaan negara kristen philiphina) berlaku di RRC (Pemaksaan Komunisme) ribuan Muslim terbunuh dan dunia tetap bungkam
bagi saya yang Insya Allah membaca AlQuran hal2 diatas bukan keanehan karena memang sejarahnya selalu seperti itu semenjak zaman thalut dan jalut … jadi saya berpegang saja pada AlQuran dan Hadits lah biarlah saya dibilang bodoh, Pekak dll … itu resiko yang harus saya tanggung
banyak kasus di AlQuran yang menjadi contoh betapa ajaran yang lurus akan selalu dibilang kuno tidak sesuai zaman maka biarlah saya menjadi orang yang kuno dan tidak sesuai zaman bila itu bisa menyelamatkan saya dari hal2 yang tertulis dalam AlQuran
Betapa banyak orang bilang “emang ada Hadits Rasulullah yang mengharuskan mendirikan negara islam gak ada kan” mereka lupa bahwa Hadits RAsulullah adalah Perbuatan dan Ucapannya, ketika tanpa mengucap Rasulullah langsung membuat system dari atas ke bawah mulai dari dasar hukum, khalifah, gubernur, Qadhi (hakim) dll berdasarkan syariat maka itu adalah Haditsnya, perbuatannya tanpa perlu disangsikan lho kan rasulullah tidak bilang, Apa pernah akan Rasulullah berdiri berdampingan menegakkan negaranya dengan syariat agama lain? … itu pun cukup buat saya yang bodoh ini
Ketika Pluralisme dikedepankan pun terjadi di masa Rasulullah antara kaum anshar dan muhajirin kedua kaum ini harus menerima dengan besar hati ucapan Rasulullah “apakah kalian akan terus berdebat seperti ini ketika dasar hukum telah turun” (Al Quran dan Hadits) jadi di masa Rasulullah SAW pun sama syariat tertolak luar biasa … Apakah RAsulullah tunduk atas pluralisme yang ada? itu tidak pernah terjadi kawan bahkan ketika Abu Jahal dan Abu Lahab menawarkan RAsulullah menjadi khalifah versi mereka yaitu mereka akan beribadah seperti RAsulullah di satu hari dan keesokannya Rasulullah harus beribadah seperti mereka Rasulullah Tolak dengan keras, lalu mereka kembali menemui RAsulullah Muhammad SAW dengan tawaran yang lebih ringan yaitu ya sudah Rasulullah menjadi khalifah mereka tapi dengan syarat jangan menghina Tuhan2 mereka dan Adat2 kebiasaan mereka (mengelilingi ka’bah dengan telanjang bulat) Rasulullah Tetap menolak dengan kekerasan yang sama, bagi saya Penerapan AlQuran dan hadits tidak melihat konteks zaman atau pluralisme tapi memang harus diterapkan seutuhnya. biarlah saya menjadi orang bodoh dan keras kepala akan hal ini … itupun tidak mengapa buat saya
frozen anda ini lucu masalah2 blog dibilang tidak ada di zaman RAsulullah … sungguh anda ini pemikir yang pintar tapi anda sangat tidak akrab dengan Quran dan Sunnah jadi tidak bisa membedakan dimana masalah Ibadah dimana masalah muamalah… buku2 yang anda baca luarrrrr biasaaaa … kapan dong hapal Quran dan hadits … gak perlu semua 1 Juz aja
Dan Ketika Rasulullah juga mengabarkan melalui haditsnya (nubuat) bahwa islam itu akan kembali “asing” ini pun saya percaya telah terjadi sekarang.. dan RAsulullah bersabda “bahwa kejayaan islam akan kembali direbut lewat peperangan” ini pun saya percaya karena saya ummat beliau … tidak ada beliau berucap bahwa kejayaan islam nanti akan direbut kembali lewat “demokrasi” jadi biarlah saya menjadi orang bodoh kembali yang memegang dengan kuat2 sabda2 beliau
Sungguh Syariat2 islam sekarang menjadi omong kosong dan bahan ledekan juga karena ulah umat islam sendiri, mulai dari raja2 arab yang doyan berzinah dan minuman keras di luar arab, penerapan yang tidak seimbang di Aceh untuk kaum miskin dan kaum kaya, dan banyak contoh2 lainnya.
tapi buat saya itu belum masuknya ajaran islam ke dalam sanubari kita semua hingga ke sumsum tulang kita, baru kulitnya saja, oknum2 tsb mengeruk keuntungan dari syariat itu sendiri tapi saya percaya suatu saat nanti akan ada kaum islam yang kaffah kapankah itu tercipta? Wallahu alam buat saya pribadi tindakan oknum2 yang mencoreng syariat islam itu sendiri bukan lah bagian dari ajaran islam … simple saja…
Sungguh Allah berfirman “Lindungi dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka” dalam kalimat ini tidak ada lindungi Saudaramu, tetanggamu, bahkan ummatmu … sungguh Allah memberikan kewajiban yang kecil untuk dasar kewajiban yang besar bagaimana kita mau mengerjakan pekerjaan besar bila pekerjaan yang kecil saja kita lalai? bagaimana kita mau mengurus ummat bila mengurus diri sendiri kita lalai? sudah berapa banyak juz yang kita hapal ? sudah berapa banyak surat yang kita amalkan? sudah berapa buku hadits yang kita baca dan amalkan? selalu tepat waktukah shalat kita? serta rukun islam dan rukun iman lainnya … kalau jawabannya masih kacau sungguh kita masih harus membenarkan diri kita sendiri dulu
Joe & Frozen Jalankanlah jalan yang kalian kehendaki … dan saya akan jalani jalan yang saya kehendaki walau dengan itu saya bisa saja di cap goblog tolol, pekak dll… saya serahkan urusan saya kepada Allah SWT yang menilai
Soal Konsep2 khilafah bagi saya adalah dimulai dari mana kita sanggup memanage diri kita sendiri dulu jadi saya percaya konsep khilafah adalah yang terbaik tapi saya percaya sampai detik ini blum ada satu orang pun yang sanggup mengembannya… dan pada waktunya nanti yang telah Allah janjikan tentu akan ada sebelum itu saya akan memperbaiki diri saya dan tetap akan memperjuangkan syariat islam dan konsep khilafah tentunya dengan semampu saya … selebihnya biarlah Allah saja yang menilai …
mungkin tulisan saya tidak memuaskan anda2, apalah artinya tulisan dari saya yang fakir ini … hanya kepada Allah sajalah kita berlindung …
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
La’natullahi ya musyrikin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin..
Sedari dulu saya sadar anda hanya mencari pemuasan hobi saja kalau pembahasan ini hanya mengenai siapa lebih unggul maka berarti dunia anda sangat sempit
Ah, terserah kalau anda mau menyikapi serius baris komentar saya yang anda sorot itu.
.
.
.
anda ini lucu masalah2 blog dibilang tidak ada di zaman RAsulullah …
Maksudnya yang kalimat “Rasulullah saja tidak ngeblog” saya tempo hari? Maksud saya sederhana, kan saya mengeluarkan pernyataan demikian pun karena komentar sebelumnya (saya lupa komentar siapa), bahwa segala hal yang tidak rasulullah lakukan, maka kita pun tidak boleh melakukan, nah, maka saya sebetulnya pada saat itu bertanya, kalau memang mau mengaplikasikan kehidupan persis Rasulullah, kenapa tidak ekstrim saja sekalian, untuk tidak menggunakan dan melakukan aktivitas yang tak dicontohkan Rasulullah, dan di situ saya mengajukan gagasan–yang memang menggelikan–untuk mending tidak ngeblog saja (karena tidak ada contohnya di zaman nabi), alias kita tolak semua hal-hal yang tidak dikenal di masa Nabi yang kita anggap paripurna itu.
Tapi nyatanya sekarang anda berkelit dengan dan atas nama muamalah, alias apa yang saya singgung soal blog bukan masalah ibadah. Nah, kalau demikian, kenapa anda juga tidak mau mengakui, bahwa urusan mengenai demokrasi (dan sistem pemerintahan), itu lebih banyak bermain di ranah duniawi, bukan ukhrawi, sekuler, bukan agamis, muamalah, bukan ibadah.
.
.
.
Sungguh Syariat2 islam sekarang menjadi omong kosong dan bahan ledekan juga karena ulah umat islam sendiri, mulai dari raja2 arab yang doyan berzinah dan minuman keras di luar arab, penerapan yang tidak seimbang di Aceh untuk kaum miskin dan kaum kaya, dan banyak contoh2 lainnya.
tapi buat saya itu belum masuknya ajaran islam ke dalam sanubari kita semua hingga ke sumsum tulang kita, baru kulitnya saja, oknum2 tsb mengeruk keuntungan dari syariat itu sendiri tapi saya percaya suatu saat nanti akan ada kaum islam yang kaffah kapankah itu tercipta? Wallahu alam buat saya pribadi tindakan oknum2 yang mencoreng syariat islam itu sendiri bukan lah bagian dari ajaran islam … simple saja…
Nnnaahh! Jadi semua kerusakan dan kebusukan ini adalah karena ulah segelintir oknum kan? Tepat! Saya sependapat. Itu pula yang terjadi dalam alam demokrasi. Orang-orang di dalamnya (segelintir oknum) yang mencoreng demokrasi, bukan sistem demokrasinya sendiri yang buruk (ini sudah pernah disinggung mas joe). Begitu pula khilafah. Jujur saya bilang, saya mempercayai itikad baik para pengusung khilafah, dan saya mempercayai ada banyak kebaikan dalam sistem khilafah, cuma satu hal yang saya tentang dari keinginan untuk mewujudkan khilafah (dan syariat Islam), adalah pada segenap teknis pelaksaannya yang tidak jelas, belum lagi soal persuasi yang tidak ramah seperti postingan di atas, dan implementasinya pun masih tanda tanya.
.
.
.
kapan dong hapal Quran dan hadits … gak perlu semua 1 Juz aja
Jujur pula saya akui, saya tidak berminat menghapal Qur’an, apalagi hadis. Saya lebih nyaman untuk sampai pada memahami substansinya saja. Saya khawatir kalau saya sampai hafal 1 juz (misalnya), saya jadi pongah, besar kepala, mudah mencatut ayat-ayat dan hadis untuk menyerang orang yang berbeda pemikiran, dll.
.
.
.
Ah, omong-omong soal membetulkan perilaku sendiri dulu, saya setuju, dan saya mohon pencerahan dan bimbingannya. Saya sedang bermasalah dengan sholat saya, tolong kalau berkenan, Anda klik [ di sini ], dan mohon sudi memberi nasehat atau masukan-masukan atas apa yang tertulis di situ.
Terima kasih.
Salam sejahtera, mudah-mudahan Allah merahmati kita semua.
ketika seseorang menunjukkan sesuatu dengan tidak elegan, pertanyaannya, haruskah kita umat islam menunjukkan ketidak-eleganan yang sama pula untuk membalas perbuatan mereka?
apa bedanya kualitas kita dengan mereka kalo gitu?
dan, tulisan saya itu, saya sedang bicara dalam konteks endonesa, lho
-komen2nya banyak bener baca2 dulu ah
@narakushutdown: bukankah bisa mengeluarkan pikiran sampeyan di sini juga karena demokrasi? bukankah ketika sampeyan berdebat dan menyangkal pendapat orang juga karena demokrasi?
ckkckck karena demokrasi? enggak banget gitu
tinggal pilih aja pada banyak cingcong
pilih Islam atau demokrasi?
saya pilih Islam
yang pilih demokrasi kapir , selesai!
apa ini? arena pertarungankah? sesama Islam kok saling serang
Saya tetap percaya terhadap perkataan Rasulullah bahwa Khilafah akan berdiri, tapi kalau umat Islam-nya aja seperti ini, saya makin pesimis dengan perkataan Rasulullah.
Khilafah itu akan berdiri jika aqidah umat Islam sudah benar sesuai aturan Allah, tapi yang saya lihat di sini, orang “yang menrasa dirinya benar” menunjukkan betapa rusaknya akhlaq, karena (IMO) akhlaq adalah cerminan dari penerapan aqidah yang benar.
Saya sangat kecewa melihat komentar “deden”, terlalu kasar untuk seseorang yang mengaku Islam dan mendukung berdirinya khilafah apalagi dengan mempertanyakan “kadar keislaman” orang lain, karena tak ada seorangpun yang berhak untuk melakukan hal itu, termasuk Anda. Berapa kadar keislaman seseorang itu hanya Allah yang berhak menentukan, maka biarlah itu menjadi urusan pribadi orang tersebut dengan Allah, karena Anda pun belum tentu lebih baik dari mereka
Jadi, benahi dulu aqidah diri sendiri, kemudian berusahalah untuk membantu membenahi orang-orang di sekitar kalian (ini dakwah kan namanya?) dan jika aqidah umat Islam sudah benar sesuai Al-Qur’an dan Hadist, Insya Allah khilafah pun akan berdiri sesuai perkataan Rasulullah dan Janji Allah (?) (*jujur saya ga nemu ayatnya*)
[...] berbagai blog dengan berbagai postingan yang cukup bagus. Ada yang membahas tentang khilafah, ada pemikiran ekstrim yang menentang demokrasi, ada pemikiran menggelikan tentang organisasi papua merdeka, ada juga bahaya copy paste. [...]
ya udah…udah…
sekarang yang mau berkhilafah, silahkan tunjukkan bukti dari omongan, jangan nyewa senayan terus untuk ber-orasi, itu lapangan bola buat maen bola bukan buat orasi
satu yang pasti sih, Hukum diciptakan oleh Allah untuk manusia, Allah menciptakan hukum dan peraturannya dengan sempurna…
yang menjalankan hukum Allah itu manusia, dan manusia itu tidak ada yang sempurna, jadi kalau mengharapkan dengan Syari’ah negeri kita akan maju ya maaf, bukan saya menyangsikan Allah, Al Qur’an dan Hadist, tetapi manusia yang menjalankan hukum Allah tersebut yang saya sangsikan, kecuali Rasulullah SAW datang lagi ke tengah-tengah kita.
Khulafa’ur Rasyidin yang melanjutkan dan mengikuti jejak Rasulullah SAW saja banyak yang, maaf bukan saya menyinggung tapi ini adalah realitas, meninggal dengan tidak wajar kok, bahkan pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib saja terjadi perang saudara pertama antara Ali dan Aisyah kan?
sekarang apa yang membuat anda yakin bahwa Indonesia akan selamat kalau menegakkan hukum Syari’ah? 4 Pemerintahan Khulafaur Rasyidin saja, yang notabene melihat dan belajar langsung dari Rasulullah SAW, banyak terjadi intrik-intrik politik yang membuat kita sebagai Muslim akan geleng-geleng kepala
maaf…saya bukan menyangsikan Allah SWT, Rasulullah SAW, Al Qur’an, Al Hadist…tapi saya berlindung kepada Allah SWT dari pengikut-pengikutNya
bahkan Rasulullah SAW yang sangat kita puja-puja tidak membalas ludahan seorang kafir kepadanya, apa hak kita semua merasa paling suci? cuma modal teriak…HIDUP SYARI’AH!!!!
Assalamu’alaikum wa rahmatulllahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
La’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
frozen
Tapi nyatanya sekarang anda berkelit dengan dan atas nama muamalah, alias apa yang saya singgung soal blog bukan masalah ibadah. Nah, kalau demikian, kenapa anda juga tidak mau mengakui, bahwa urusan mengenai demokrasi (dan sistem pemerintahan), itu lebih banyak bermain di ranah duniawi, bukan ukhrawi, sekuler, bukan agamis, muamalah, bukan ibadah.
Afwan pengalaman saya tentang demokrasi sebagai aktifis “reformasi 98″ dan kader PK (belum ada S) cukup menggiring saya ke suatu kesimpulan yang mudah saja bahwa bila terjadi “DEADLOCK” terhadap suatu hal maka akan terjadi “VOTING”
kawan2 yang masih di PKS pun ada rasa enggan bercakap-cakap kembali saya tidak mau berkutat dengan trias politika, montesqieu dll terlalu lama cukup basic reason aja, apakah “HUKUM ALLAH” bisa dijalankan tanpa di voting dalam demokrasi? tidak usah berputar-putar di masalah2 arti demokrasi, esensi demokrasi yang luas/sempit dll saya cukup bertanya Apakah mereka (kawan2 di PKS) bila menemui “DEADLOCK” (seperti masalah pornografi dan pornoaksi) akan membiarkan hukum Allah terkalahkan lewat voting? .. Jadi Demokrasi bukan masalah muamalah karena akan senantiasa bersinggungan dengan masalah Amir (kenegaraan) yang tentu akan terus bersinggungan dengan hukum2 Allah buat saya pribadi yang bodoh dan pekak ini ya saya tidak rela hukum Allah di Voting, dan ini adalah pernyataan sikap saya thd hukum2 Allah di segala bidang. yah sudahlah frozen saya mengerti kok jalan yang kamu pilih silahkan saja menjalani toh itu tidak akan merugikan saya
Oh ya ada kejadian yang bagi saya cukup lucu masalah demokrasi ini, jadi pengusung pro demokrasi mengadakan seminar di Gramedia tentang pornografi dan pornoaksi, salah seorang pembicara mereka yang kebetulan seorang pendeta aktif sekali berbicara meyakinkan hadirin yang hadir. Lalu sekononyong-konyong sepupu saya melontarkan statement “bapak pendeta yang sedang berbicara di sana kalau memang bagi anda bilang bahwa ketertelanjangan itu adalah bagian dari seni maka kami yang hadir disini ingin tahu dan belajar seninya dimana maka kami minta dengan hormat bapak menghadirkan istri dan anak wanita bapak disini tanpa busana dan biarkan kami mempelajari seninya dimana, mayoritas hadirin disana menghendaki itu, lalu seminar jadi hening, dan langsung ditutup oleh seseorang yang katanya memuja demokrasi
Bila seorang Pendeta aja tidak mau anak dan istrinya sebagai object seni dan mengabaikan kehendak mayoritas hadirin disana yang mungkin bertentangan dengan kepercayaannya dalam injil kenapa saya yang islam ini kalah? jangankan keputusuan Demokrasi, asas demokrasi yang tidak memasukkan Allah sebagai kekuasaan tertinggi namanya bertentangan dengan islam 100% tidak akan saya patuhi … simple aja kan terlepas keadaan negara ini majemuk dll, itu tidak menyurutkan niat saya akan hadirnya islam yang kaffah, berhasil atau gagalnya itu tidak penting yang penting saya sudah berperan akan keyakinan saya dan Bagi Allah Azza wa Jalla bukan hasil yang diminta tapi proses dan ketaatan dan tidak masalah buat saya anda pun menjalani perjuangan anda lewat demokrasi itupun hak anda
Bila ada kekurangan para pengusung khilafah baik dari segi sikap, promosi, kelakuan dll bagi saya pribadi hal itu lumrah saja mungkin karena semangatnya yang berlebihan, pemahamannya yang masih kurang dll, saya pribadi tidak pernah ikut2an tuh parade2 khilafah di senayan dll ayng diusung kawan2 HTI, tapi bagi saya pribadi suatu saat nanti khilafah akan kembali sesuai dengan nubuat Muhammad SAW dan saya hanya berpartisipasi sepanjang usia saya saja , saya pribadi lebih menyukai konsep “Dakwah, Tarbiyah dan Keteladanan” yang membuat saya membuka lembaga pendidikan islam yang saat ini baru untuk tingkat TK. tapi ini pun belum tentu jalan yang paling benar untuk mengakomodasi syariat islam … tapi inilah yang saya percaya sebagai jalan saya dan saya menghormati jalan2 yang dilakukan kawan2 yang lain dan bukan tidak mungkin dalam titik tertentu saya bisa saja mengambil langkah2 ikhwan2 yang telah mendahului saya
Frozen
Jujur pula saya akui, saya tidak berminat menghapal Qur’an, apalagi hadis. Saya lebih nyaman untuk sampai pada memahami substansinya saja. Saya khawatir kalau saya sampai hafal 1 juz (misalnya), saya jadi pongah, besar kepala, mudah mencatut ayat-ayat dan hadis untuk menyerang orang yang berbeda pemikiran, dll.
sangat disayangkan ada peribahasa “tak kenal maka tak sayang” mungkin anda lupa bahwa Allah berfirman “Al Quran adalah petunjuk bagi manusia” bagaimana anda bisa mengambil substansinya saja tanpa sering membaca dan memahaminya (terjemahan udah banyak kok) ibarat sakit tanpa pergi ke dokter lalu minum obat sendiri … salah2 obat bahaya kan
dan janganlah jadi Apriori duluan Apakah Muhammad SAW dan para sahabat jadi pongah karena hafal Quran? ada ada saja …
kalau saya pribadi saya baca karena saya merasa butuh dituntun dan siapa lagi penuntun dan penunjuk jalan yang lebih baik dari pada Allah yang menciptakan saya .. simple aja
frozen
Ah, omong-omong soal membetulkan perilaku sendiri dulu, saya setuju, dan saya mohon pencerahan dan bimbingannya. Saya sedang bermasalah dengan sholat saya, tolong kalau berkenan, Anda klik [ di sini ], dan mohon sudi memberi nasehat atau masukan-masukan atas apa yang tertulis di situ.
Kebetulan sekali saya telah mengunjungi blog anda, tapi kesan saya pribadi sama saja … sebenarnya anda telah mempunyai kesimpulan sendiri jadi buat apa bertanya? karena ada jawaban2 yang menurut saya bagus disana tapi tidak anda jawab, anda lebih mengarah atau lebih tepatnya mengarahkan hasil tulisan kepada kesimpulan2 yang sebenarnya telah ada di benak anda
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhi wal ukhti fillah
la’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
dan janganlah jadi Apriori duluan Apakah Muhammad SAW dan para sahabat jadi pongah karena hafal Quran? ada ada saja …
‘Kan saya sudah bilang alasannya, “saya khawatir”. Pertama, Rasulullah.saw itu manusia yang maksum, tidak dibiarkan berbuat salah, sehingga terus-menerus mendapat bimbingan Ilahi langsung. Dan kedua, para sahabat itu kebanyakan langsung mendapat bimbingan pula dari Rasul. Saya? Dan ketiga, saya bukan orang yang mesti berada di garda depan Islam untuk urusan ini. Setiap orang memiliki kapasitasnya sendiri dalam penguasaan agama.
.
bagaimana anda bisa mengambil substansinya saja tanpa sering membaca dan memahaminya
Dan “sering membaca” tentunya tak mesti menjadikan si orang yang membacanya menjadi hafal ‘kan?
.
Kebetulan sekali saya telah mengunjungi blog anda, tapi kesan saya pribadi sama saja … sebenarnya anda telah mempunyai kesimpulan sendiri jadi buat apa bertanya? karena ada jawaban2 yang menurut saya bagus disana tapi tidak anda jawab,
Lha? Ada jawaban bagus ya buat apa lagi saya jawab? Kenapa tidak khusnudzhan kalau saya menerima komentar yang anda anggap bagus itu? Dan perihal kenapa saya bertanya (lagi) meminta pendapat Anda, satu hal, karena saya ingin memperkaya sudut pandang. Jelas?
.
anda lebih mengarah atau lebih tepatnya mengarahkan hasil tulisan kepada kesimpulan2 yang sebenarnya telah ada di benak anda
Kesimpulan-kesimpulan yang saya kemukakan pun bukankah masih berujung pada pertanyaan? Kalau saya sudah memiliki kesimpulan yang sudah pasti, tentu saya akan mengakhirinya sebagai sebuah “pernyataan” (yang mutlak), bukan “pertanyaan”.
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhi wal ukhti fillah
la’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
Rukia
Saya tetap percaya terhadap perkataan Rasulullah bahwa Khilafah akan berdiri, tapi kalau umat Islam-nya aja seperti ini, saya makin pesimis dengan perkataan Rasulullah.
Khilafah itu akan berdiri jika aqidah umat Islam sudah benar sesuai aturan Allah, tapi yang saya lihat di sini, orang “yang menrasa dirinya benar” menunjukkan betapa rusaknya akhlaq, karena (IMO) akhlaq adalah cerminan dari penerapan aqidah yang benar.
Rukia blum tentu kali ah dia merasa benar sendiri mungkin cara penyampaiannya aja
dan yang terpenting neh Orang yang Shalat wajib tidak pernah tinggal Insya Allah masih banyak di bumi indonesia ini dan sebagian dari mereka masih doyan tuh menyakiti sesamanya dengan menjadi koruptor, manipulator dll, apakah dengan contoh ini lalu kita akan berujar “ah gak perlu shalat yang penting akhlak, yang shalat aja masih banyak yang nyakitin orang lain” hehehe bagi saya ini mah lucu jawaban saya mah “dia aja masih shalat masih suka nyakitin orang lain apalagi dia gak shalat” jadi mending saya shalat saja…..
Rukia
Jadi, benahi dulu aqidah diri sendiri, kemudian berusahalah untuk membantu membenahi orang-orang di sekitar kalian (ini dakwah kan namanya?) dan jika aqidah umat Islam sudah benar sesuai Al-Qur’an dan Hadist, Insya Allah khilafah pun akan berdiri sesuai perkataan Rasulullah dan Janji Allah (?) (*jujur saya ga nemu ayatnya*)
Terima kasih atas masukannya… tapi saya percaya walaupun melakukan itu semua tetap saja jalan itu akan sangat terjal dan penuh rintangan…. kenapa? yah gampang saja wong memang begitu sejarahnya hehehe terulang terulang dan terulang lagi
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhi wal ukhti fillah
la’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
saya bisa mengerti, kok. cuma, summon dari blog saya yang di atas itu isinya hanya mempertanyakan model kampanye yang saya anggap goblok macam kampanye di postingan ini. jadi jangan khawatir, saya nggak nganggap anda secara personal sebagai orang yang bodoh, kok; kalo anda merasa tidak seperti orang2 yang saya singgung di postingan saya.
dan, entah kenapa saya jadi gatel lagi
pengen nanya aja.
Afwan pengalaman saya tentang demokrasi sebagai aktifis “reformasi 98″ dan kader PK (belum ada S) cukup menggiring saya ke suatu kesimpulan yang mudah saja bahwa bila terjadi “DEADLOCK” terhadap suatu hal maka akan terjadi “VOTING”
kawan2 yang masih di PKS pun ada rasa enggan bercakap-cakap kembali saya tidak mau berkutat dengan trias politika, montesqieu dll terlalu lama cukup basic reason aja, apakah “HUKUM ALLAH” bisa dijalankan tanpa di voting dalam demokrasi? tidak usah berputar-putar di masalah2 arti demokrasi, esensi demokrasi yang luas/sempit dll saya cukup bertanya Apakah mereka (kawan2 di PKS) bila menemui “DEADLOCK” (seperti masalah pornografi dan pornoaksi) akan membiarkan hukum Allah terkalahkan lewat voting?
mungkinkah ketika syariat islam sudah diterapkan maka tidak bakal timbul deadlock yang akan berlanjut pada voting?
apa iya hal itu bisa dijamin (tanpa deadlock dan voting itu lho), sedangkan fakta yang ada sekarang adalah saling berbenturannya aliran2 dalam islam sendiri?
kita lihat saja fakta yang ada di lapangan: sunni mengutuk syiah, salafy membid’ah2kah jamaah tabligh, dan di level grass root endonesa sendiri nu dan muhammadiyah masih saling gontok2an. yeah, padahal semuanya sama2 ngaku islam
maka jika nanti syariat islam tegak, syariat versi siapa yang akan dipakai? apa nggak mungkin terjadi deadlock ketika perdebatan sampai pada level penafsiran ayat2 tuhan dan sabda nabi, gara2 masing2 pihak ngotot bahwa penafsirannya adalah yang paling benar? lalu apa solusinya? apakah voting lagi? waduh, kalo iya, balik ke demokrasi lagi donk, namanya
semoga saja, jika ada deadlock, voting itu tidak terjadi dan sebagai solusinya Allah akan bersuara dari langit, bersabda tentang keputusan apa yang harus diambil manusia sesuai kehendakNya.
jadi inget perbincangan kita tentang amrozy jaman dulu itu, hohoho…
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
La’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
joe
saya bisa mengerti, kok. cuma, summon dari blog saya yang di atas itu isinya hanya mempertanyakan model kampanye yang saya anggap goblok macam kampanye di postingan ini. jadi jangan khawatir, saya nggak nganggap anda secara personal sebagai orang yang bodoh, kok; kalo anda merasa tidak seperti orang2 yang saya singgung di postingan saya.
Hmm.. saya berusaha menempatkan diri saya untuk merasa bodoh supaya saya jadi mau terus belajar… gitu aja
mungkinkah ketika syariat islam sudah diterapkan maka tidak bakal timbul deadlock yang akan berlanjut pada voting?
apa iya hal itu bisa dijamin (tanpa deadlock dan voting itu lho), sedangkan fakta yang ada sekarang adalah saling berbenturannya aliran2 dalam islam sendiri?
kita lihat saja fakta yang ada di lapangan: sunni mengutuk syiah, salafy membid’ah2kah jamaah tabligh, dan di level grass root endonesa sendiri nu dan muhammadiyah masih saling gontok2an. yeah, padahal semuanya sama2 ngaku islam
maka jika nanti syariat islam tegak, syariat versi siapa yang akan dipakai? apa nggak mungkin terjadi deadlock ketika perdebatan sampai pada level penafsiran ayat2 tuhan dan sabda nabi, gara2 masing2 pihak ngotot bahwa penafsirannya adalah yang paling benar? lalu apa solusinya? apakah voting lagi? waduh, kalo iya, balik ke demokrasi lagi donk, namanya
Allah berfirman bahwa cuma sedikit saja surat2 di AlQuran yang tidak bisa langsung dipahami (mustasyabihat) ulama2 sekarang menjabarkan tidak lebih dari 15% ada yang bilang 20%, dan surat2 mustasyabihat itu memang sengaja ditaruh disana oleh Allah Azza wa Jalla untuk mengetest mana orang2 yang beriman mana yang tidak, kalau saya pribadi kenapa saya harus kehilangan yang +/- 80% gara2 yang sedikit? Nabi kita Muhammad SAW itu Nabi yang Ummiy (tidak bisa baca tulis) tapi jadi cerdas berkat Al Quran yang harus dia hafal, kita malah enak udah tertulis kok malas baca?
Jadi dengan menegakkan syariat Islam, Insya Allah membantu memuluskan jalan bagi kejayaan islam yang dijanjikan nanti itu dengan hadirnya seorang imam terakhir, yang mungkin saja sudah lahir sekarang atau sudah remaja sekarang atau masih akan lahir seratus tahun ke depan… wallahualam yang jelas dia akan jadi imam tepat di usianya yang ke 40
dan perjuangan menegakkan syariat ini juga dalam rangka pengamalan firman Allah yang berbunyi “akan selalu ada orang2 yang berperang di sisiKU sampai hari akhir nanti, tidak merugikan mereka orang yang mencela mereka dan tidak menguntungkan mereka orang yang membantu mereka”
Hukum2 yang tidak perlu dilihat di hadits lagi seperti Faraid (waris), walimah (nikah), pajak infaq shadaqah dan beberapa hukum lainnya itu sangat jelas di Quran tentu dengan sendirinya apabila kita menegakkan syariat maka friksi2 perbedaan itu akan lebih jarang
DeadLock pun sudah terjadi pada zaman sahabat tapi bukan berkenaan pada hukum2 yang sudah jelas di quran tapi lebih kepada surat2 mustasyabihat tadi hingga bila waktu itu seorang khalifah atau sultan sifat dasarnya buruk ya dia akan memelencengkan surat2 mustasyabihat tadi sesuai nafsunya.
dan dalam Islam DeadLock tidak divoting melainkan sepenuhnya tanggung jawab Amir, yang akan nanti dia pertanggung jawabkan nanti di depan Allah, sehingga banyak orang yang mengerti malah gak berebutan jadi Amir gak seperti sekarang ini sebab tanggung jawabnya itu bukan main sampai seorang Umar bin Khattab ra pernah berkata “Kalau saja aku ini dilahirkan bukan sebagai Umar bin Khattab tentu aku lebih memilih untuk menjadi rakyat kebanyakkan, Tapi aku ini ditakdirkan lahir sebagai Umar”
Bila terjadi hal2 baru yang belum ada ketentuannya maka Amir akan memanggil orang2 kepercayaannya untuk memberikan Nasihat atau masukan tapi tetap keputusan 100% tetap ditangannya sampai Abu Bakar ra berkata “seandainya aku seorang diri dalam keputusanku ini … maka aku tetap akan menjalankannya”
Mungkin orang2 akan bilang itu seh diktator namanya, tidak bagi orang2 yang mengerti bahwa kepada Allah lah dia akan kembali, orang2 yang mengembangkan hidup sederhana, apa yang dia tuju? Apa yang mereka tuju? para khulafaur rasyidin yang 4….(sebelum terjadinya fitnah) wong mereka gak punya apa apa… keputusan mereka ambil semata karena cinta mereka kepada Allah dan NabiNYA
Nabi Muhammad SAW Wafat tidak membawa kekayaan
Abu Bakar ra wafat tidak membawa kekayaan
Umar Bin Khattab ra sama saja
Utsman bin Affan ra juga sama, ingat saya bicara konteks utsman bin affan seorang bukan keluarganya
Ali bin Abi thalib? juga sama
Jadi syariat islam itu juga tergantung kesiapan orang2 pendukungnya, dan saya percaya akan dipenuhi warna2 baik yang ma’ruf maupun yang munkar sampai datang ketentuan Allah akan hadirnya imam terakhir, ada nanti yang teriak2 syariat tapi memperkaya diri sendiri, ada yang sengaja memancing di air keruh teriak2 syariat tapi beda aliran dll dll … tapi apakah saya harus berhenti memperjuangkan syariat dengan keadaan seperti itu? tugas saya pribadi ya itu tadi Quu anfusakum wa ahlikum naaran … melindungi diri saya dan keluarga saya dari api neraka … dan saya jalani ini semampu saya sesuai keyakinan saya sampai nanti orang yang mengembannya sesuai ketentuan Allah muncul di muka bumi ini, syukur2 saya hidup di zaman itu kalaupun tidak paling tidak saya sudah berusaha menjaga sepanjang usia saya.
Pejuang2 syariat pun sama saja mereka manusia mungkin mereka ada yang tergelincir dll, Naudzubillahi min dzalik ya Allah Lindungilah hambaMU ini, tapi itu tidak akan membuat saya berhenti untuk menjalankan hukum Allah yang mana saya tidak mungkin memperjuangkan islam lewat hukum selain Allah spt Demokrasi
DeadLock biarpun syariah ditegakkan sangat mungkin terjadi … tapi tidak pada hukum yang sudah ditetapkan seperti Qisas, Pornografi, Pajak Dzakat infak Shadaqah, waris, nikah dll. paling tidak mengurangi friksi perbedaan yang ada… dan apabila terjadi DeadLock maka tanggung jawab Amir yang akan dia pertanggung jawabkan nanti ke depan Allah untuk memutuskan, kalau Amirnya berakhlak baik (bisa dilihat dari kehidupan sehari harinya, mengembangkan hidup sederhana, baik kepada sesama, ibadah tidak pernah tinggal dll) maka arah putusannya bisa baik kalau amirnya buruk? maka arah putusannya bisa buruk. dan apabila mayoritas ulama telah menyatakan amir ini mungkar maka bisa diperangi… simple aja
joe mungkin jawaban saya tidak bisa memuaskan anda but it’s okay saya juga dalam keadaan bisa salah bisa benar seperti juga anda, tapi saya akan tetap menjalankan apa yang menjadi keyakinan saya
anyway terima kasih atas segala masukan dan olah pikir, sedikit banyak dialog2 seperti ini memberi masukan juga bagaimana memperjuangkan syariat islam
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhti fillah
La’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
Assalmualaikum warhmtullah…
sy telah melihat dgn jelas perbedaan Islam & Demokrasi.
Dari asal n sumber hukumnya sj sdh sgt nampak bahwa demokrasi mmg tak pantas djadikn sbg sistem/dsar hukum. qt manusia mngambil sumber hokum dr manusia jg ??? /:)
Padahal qt punya sang Khalik, n qt org muslim udah tau klw Allah adlh sang pengatur, yg pastinya lbih mngtahui yg baik n yg buruk bg ciptaanNya. Sedg qt pun tau klw manusia mmiliki naluri (eksistensi diri) yg cenderung tak t’kontrol, klw mngandalknnya mk tdk akn mlahirkn suatu hokum dan atw bahkn tdk akn mampu mnyelesaikn mslh yg dihdpi. Dgn begitu, dlm system demokrasi yg b’sifat liberals ni n ank kandung dr Kapitalism ni mana mungkin bs m’berikn qt ksejhtraan dunia akhirat. Apakh bs dijamin???
n kembali kpd Islam; Allah b’firmn dlm QS an-Nisa’ [4]: 59:
“Jika kalian berselisih paham dalam suatu perkara, hendaklah kalian merujuk kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (as-Sunnah)”.
Dlm Islam sgt jls bahwa kdaulatn bknlh di tgn rakyat, tp di tgn syariah. Sumber hukum satu-satunya adlh al-Quran n as-Sunnah.
Krn itu, demokrasi dgn Islam b’tolak blkg. P’bedaan scara m’dasar demokrasi dgn Islam dliht dr sumbr kdaulatn ini.
wassalam….
Celakanya :…. jika yang menafsirkan suatu ayat 1000 orang bisa menjadi seribu arti. Lalu bagaimana memilih tafsir yang paling benar? Pasti masing-masing menyatakan bahwa tafsirannya yang paling benar. Apakah kemudian harus diselesaikan dengan ngasah pedang dan AK 47…? Jika demikian, kembali ke jaman babar dong…..?
Lha yang bikin perbandingan ini kan orang paling gak ngerti dasar perbandingan. Wong agama kok dibandingkan dengan aliran politik. Masing-masing kan punya wilayah yang berbeda. Lalu apanya yang dibandingkan. Jelas tidak akan ada kesamaan, semuanya pasti berbeda da da da da! Tidak akan ada kesamaannya kecuali titik koma dan tanda baca lainnya!
Yang ikut membahas perbandingan itupun tidak kalah gendheng. Ini sama saja debat sesama orang tuli yang menggunakan bahasa verbal! Jaka sembung pergi ke Gadog, ora nyambung goblok (sorry, guyon!)
Agama itu suci dan politik itu kotor. Makanya kalau agama dibawa ke ranah politik, sudah pasti bukan politiknya jadi hebat, tapi agamanya jadi kotor. Makanya inyong kagak pernah ikut milih parte agama, karena inyong kagak mau mengotori agama inyong dengan segala kekotoran politik togog dan mbilung apalagi politik burisrawa dan semua mental kurawa, termasuk sampeyan-sampeyan semua yang sudah menodai agama kalian sendiri dengan mencelupnya di wajan politik!
tulisan bagus…
semoga pemuja demokrasi kepanasan dan dapat dingin n sadar sehingga kembali ke Islam
kita punya ktp,.. kita harus bayar pajak motor dan yang lainnya kan hasil demokrasi
lah kok kamu mau terus-terusan dirampok polisi dengan dalih pajak motor?
di Islam pajak hanya dilakukan saat-saat tertentu, yang ada zakat, infaq dan jelas beda dengan pajak.
“orang laknat maksa pajak”
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
afwan … setiap muslim itu wajib zakat (fitrah, mal) sunnah berinfaq dan shadaqah…
non muslim itu wajib pajak dengan catatan hak2nya mendapat perlindungan dari pemerintahan islam yang berkuasa….
nah orang2 sekuler bilang deh indonesia ini kan bukan negara islam…
lalu orang awam bilang indonesia ini kan mayoritas islam
pemerintahan demokrasi yang bahkan tidak mampu mengakomodasi kepentingan mayoritasnya … sistem thagut apalah kehebatannya…
lha wong RUU anti pornografi dll aja gak jelas2 keberadaannya…
bagi kami … yang sepemahaman disini … kita terus berjuang untuk mendirikan negara yang bersyariat islam… bagi yang tidak suka? fine fine aja itu hak kalian sampai suatu saat kita dipertemukan aja bisa di dunia bisa di akhirat … gampang kan
wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
@ narakushutdown
lha, situ sendiri masih ikut-ikutan punya katepe, sim, sama bawa stnk kalo naik kendaraan bermotor, nggak?
@ narakushutdown
lha kalau ente bisa ngutarain pendapat/pendirian seperti di atas itu, bukankah itu juga karena alam demokrasi yang mengizinkan? kalau bukan dan kalau tidak, mustinya ente sebagai pembela Islam fanatik kaaffah secara literal dong, untuk tidak ngeblog, lha Rasulullah saja tidak ngeblog.
.
.
.
@ Abi Fathimah
Setuju lah, wong memang kenyataannya negara ini bukan negara Islam, lha sebape kan jelas, negara ini tidak berdasarkan dan didasarkan pada satu agama (tak peduli mayoritas penganut agamanya apa)
.
Anda biasa membaca tulisan panjang tidak? Saya ada kesaksian dari orang yang melihat penerapan syariat Islam secara langsung, dari Serambi Mekkah, Aceh. Silakan baca [di sini].
Saya bawa deh, salah satu kutipannya.
Apa itu model penerapan syariah Islam? Oke, kemungkinan Anda bakal berkilah, “ah, apakah itu syariah yang sebagaimana dicontohkan Rasulullah? Kalau bukan, ya jelas tidak sama”.
Ah, kalaulah saya istilahkan, meminjam jargon pemerintahan SBY, “Demokrasi do something, Khilafah do nothing (alias baru sekedar wacana doang, implementasinya nihil)”
@frozen
omongan orang2 kuffur ! siapa bilang syariah cm implementasi!! kita diwaris itu sejak Al quran diturunkan ,,cuma orang2 kaya lo aja yang buta terhadap kehebatan syariah Islam,,
elo cuma mencontohkan keburukan diaceh, qlo lo mo perbandingan, coba bandingin yang ada disekitar lo sekarang kebusukan pemerintah,aparat,instansi-instansi. apa elo juga uda sama busuknya hingga ga bisa membedakan lagi mana yang benar mana yang salah.
anjing- anjing demokrasi cuma menghasilkan air mata kepedihan bagi umat Islam
lo ga usah munafik, uda berapa kali lo ngecaci pemerintahan kafir SBY dan para thogut polisi selama hidup lo??? jawabannya ribuan!!!.
mulai sekarang lebih baek sebelum tidur lo sering cek kolong tempat tidur lo, sapa tau ada bom ‘teroris’ yang bakal nendang pantat lo langsung keneraka jahanam
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii ukhtii fillah…
la’natullahi ya musyrikin wal munafiqiin…
khilafah do nothing, demokrasi do something? hehehe yah sekarep mu dewek lah, banyak2 baca sejarah aja tentang kekhalifahan
pemahaman sampean iki ngawur lha sampe ngeblog dikait kaitkan sama yang dilakukan Rasulullah. cape dee
Saya senang aja ngeliat orang2 kaya sampean ini saya bergembira karena setiap sampeyan2 ini ngomong saya makin mantap di jalan saya, insya Allah …
ya sudah jalankanlah pemikiran sampean saya dan saudara2 saya disini dengan pemikiran kami hehehe susah amet
lagian gak akan nyambung diterusin juga karena setiap satu jawaban sampean akan punya 100 sangkalan.
Akh nara kemarin ada ikhwan datang ke tempat an dia ghirahnya luar biasa banget terus terlibat diskusi ama ana, ana bilang lebih baik kita urus ke dalam dulu baru keluar maksud ana dakwah dan tarbiyah gaya Ustad ABB…., dia ngotot mau frontal … ana cuma tepuk2 pundaknya. tapi kok ya orang2 kaya frozen ini makin memantapkan ana kalo sewaktu waktu terjadi yang frontal hehehe wallahu alam bishawab…. Ya Allah yang mampu membolak balikkan hati janganlah aku bolak balikkan hati hambamu dalam ibadahnya dan juga dalam akidahnya….
wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
la’natullahi ya musyrikin wal munafiqiin…
@ Abi Fathimah
Hehe… titik tekan saya kan untuk konteks sekarang, bukan dulu, apalagi berabad-abad lampau, karena memang tidak bisa disangkal, ketika awal-awal pemerintahan khulafaurrasyidin, khilafah membawa berkah dan manfaat bagi semua individu yang bernaung di bawahnya, itu pun karena teritorinya tidak seluas dan seutopis imperium, meski disayangkan, khilafah justru menuai kegagalan pada saat penampilan perdananya. Miris…
Maka relevan dong, kalau saya tanya, apa kontribusi (wacana) khilafah sekarang untuk umat, siapapun itu? Bukankah khilafah se-ka-rang masih sebatas wacana dan slogan? Saya sejak 1 SMP, sudah sering mendengar teriakan-teriakan kawan2 muslim yang mengatakan “SAATNYA KHILAFAH!”, saya kelas 2 SMP, “SAATNYA KHILAFAH!”, saya kelas 3 SMP, “SAATNYA KHILAFAH!”, saya beranjak SMU, suara bising tersebut begitu-begitu juga, “SAATNYA KHILAFAH!”, hingga saya lulus dua tahun lalu sampai saya bekerja sekarang, slogan tersebut masih terus saja dikumandangkan tanpa implementasi. Maka wajar saya melontarkan pernyataan demikian.
Kritik saya yang mesti Anda jawab, berapa dana yang habis ketika Konferensi Khilafah di Istore Senayan beberapa waktu lampau? Implementasi dari konferensi tersebut apa? Tentu hasilnya akan berbeda jika seluruh dana tersebut dibelokkan untuk mereka-mereka yang masih terseok-seok dalam derita kemiskinan.
Dan demokrasi? Saya dengan lapang hati mengakui, bahwa demokrasi bukanlah ideologi yang tanpa cacat, namun setidaknya ia sudah memberi kontribusi-kontribusi yang tidak kecil yang–sadar maupun tidak–bisa dinikmati warga negara Indonesia.
.
.
.
Ada tanggapan sedikit, mungkin?
O iya, kutipan saya soal syariat Islam di atas kok tidak disinggung ya? Fakta itu, dan saya butuh klarifikasi maupun konfirmasi dari pendukung syariat Islam seperti Anda.
frozen
“Dan demokrasi? Saya dengan lapang hati mengakui, bahwa demokrasi bukanlah ideologi yang tanpa cacat, namun setidaknya ia sudah memberi kontribusi-kontribusi yang tidak kecil yang–sadar maupun tidak–bisa dinikmati warga negara Indonesia.”
ya bisa dinikmati rakyat indonesialah lha wong demokrasi dikpaksakan untuk indonesia….
he maz frozen, saya khan orang islam(klo ente aku gak tau islam ato bukan) manusia diciptakan oleh Allah di dunia ini khan HANYA untuk beribadah kepada-Nya. qta tdak boleh menyekutukan dengan sesuatupun. bukankah sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa yang berhak membuat hukum itu hak mutlak Allah. Bukankah rosul sudah mengingatkan kapada umatnya untuk senantiasa berpeguh teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah bila ingin selamat di dunia dan akherat. umat Islampun disuruh untuk masuk Islam secara kaffah bukan sekali ikut demokrasi dan lain kali ikut Islam. Umat Islam di Indonesia entah sadar ato tidak khan sedang di jajah oleh demokrasi!!!
WAllahua’lam
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
La’natullahi ya musyrikin wal munafiqiin…
ralat:
Ya Allah yang mampu membolak balikkan hati janganlah aku bolak balikkan hati hambamu dalam ibadahnya dan juga dalam akidahnya….
Ya Allah yang mampu membolak balikkan hati janganlah KAU bolak balikkan hati hambamu dalam ibadahnya dan juga dalam akidahnya….
gak punya waktu ikut konferensi kekhalifahan …
itu kerjaan ikhwan2 HTI yang saya sendiri gak berkecimpung disana
kekhalifahan bukan untuk diperbincangkan jadi sekadar wacana Saya pribadi percaya semuanya dimulai dari diri sendiri
sesuai dalil “lindungi dirimu dan keluargamu dari siksa neraka”
Fakta2 syariat yang anda kemukakan itu fakta2 yang memang memojokkan islam karena islam itu bukan personal, kalau ada ummat islam spt yang anda ucapkan buat saya seh itu hanya “realita”, kenapa mesti bingung ketika departemen yang paling korup di bumi indonesia ini justru departemen agama? apa itu tanda islam tidak baik? heheeh kecil sekali cara pandang anda, ketika ksatria templar memelencengkan ajaran kristen lalu membunuh membabi buta mengakibatkan banjir darah dll anda bilang ini salah personalnya apa ajarannya? hehehehe lucu ah, sekarang di meksiko atau lebih deket lagi philipine yang mayoritas kristen siapa penjahatnya? apa departemen terkorupnya? terlepas dari ajaran manapun kesalahan personal tidak boleh dijadikan hujjah kelemahan sebuah ajaran… bagi saya pribadi Islam adalah Sempurna, Petunjuk buat manusia…
Dalil dibuat sebagai petunjuk buat saya tidak aneh karena dari sejak dari nabi Adam as, ajaran yang lurus akan selalu dibilang ketinggalan jaman. sejak wahyu Allah tertuang dalam Kitab sejak itu juga manusia berusaha merubahnya…
Alhamdulillahnya buat saya pribadi saya percaya Al-Quran itu tidak pernah berubah sesuai dengan janji Allah,
Ketika di TAurat berbunyi “Maka akan datang utusan terakhir yang merupakan saudaramu tapi bukan golonganMU dan mempunyai ciri2 seperti engkau wahai Musa” maka orang yahudi berusaha memelencengkan bahwa mereka percaya Nabi terakhir itu akan datang dari golongan mereka Walaupun Allah menjawab dalam Al-Quran “sesungguhnya mereka mengenalmu (muhammad) bagaikan mengenal anak2 mereka sendiri”, lalu Orang kristen mengklaim Nabi Isa as sebagai Nabi itu padahal jelas2 ciri2 Nabi Musa as berlimpah pada Muhammad SAW mulai dari berkeluarga, menerima kitab baru, diusir kaumnya, dimenangkan dan menjadi pemimpin dst…
Keterangan diatas saya tulis tidak lain dan tidak bukan untuk menyatakan bahwa dalil dipercayai bukan untuk mematikan akal tapi untuk tahu dimana rambu2 tsb
Ketika nabi bersabda Imam Mahdi itu orang arab Quraisy, bukan berarti semua orang arab itu suci… tapi saya percaya nanti dia akan ada pada masanya untuk memimpin umat islam saya tidak mau seperti bangsa yahudi yang menolak Nabi Muhammad SAW disini aja banyak kasus spt LIa Eden dan Moshadeq hehehe …
Nabi Mengisyaratkan tentang datangnya sepasukan hitam-hitam yang diakhir jaman nanti akan menjadi pembela imam mahdi as, ini bisa syiah atau ini bisa thaliban lha hati saya kok lebih ke thaliban ya sudah saya minta petunjuk Allah saja …
Ketika Nabi bilang kejayaan islam nanti akan direbut juga melalui peperangan ya saya percaya entah itu sekarang nanti atau 100 tahun lagi
Ketika Allah berfirman selalu ada suatu kaum yang berperang untuk Allah sampai hari akhir nanti nanti, tidak merugikan bagi mereka siapa yang mencela mereka, dan tidak menguntungkan mereka siapa2 yang membantu mereka” ya saya juga percaya ini hehehe
Jadi Anda bisa berkutat terus dengan pemikiran Anda silahkan saja
bagi saya cukup apa yang telah Allah dan RasulNYA kemukakan.. toh nanti kita akan dipersaksikan siapa yang salah dan benar di hari akhir nanti simple kan?
saya tidak merasa akal saya mati ketika saya menerima dalil Allah sebagai suatu ketentuan, saya hanya menjalankan sesuai kemampuan saya sampai saya menemui ketentuan saya yang saya harap saya dapat menjadi kaum pilihanNYA.
dari zaman Rasulullah SAW selalu ada manusia2 yang menggunakan agama demi kepentingan pribadi atau golongannya jadi apa yang aneh dan baru? Saya hanya berjuang sesuai ucapan Abu bakar ra. beliau berkata “telah kudengar RAsulullah SAW bersabda bahwa 12.000 pasukan yang Taat sebenar-benarnya taat kepada Allah akan mengalahkan pasukan manapun” gak logis ya? 12.000? tapi saya percaya dan saya yakin ampe detik ini 12.000 pasukan itu belum ada karena banyak contoh2 orang2 yang anda jadikan contoh spt itu …
saya hanya berjuang mewujudkan itu dimulai dari diri saya sendiri dan keluarga … soal hasil? saya serahkan semuanya buat Allah Azza wa Jalla yang menilai …
Ya illahi telah ku basuh tubuh ini untuk bersuci, telah jatuh air mata kala malam dini, Demi Allah yang Diriku ini berada dalam genggamanMU janganlah jadikan aku orang takabur, jangan jadikan aku orang benar sendiri dan jangan jadikan aku kaum fasiq, kaum yang kau murkai dan kaum2 yang sesat…
wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
la’natullahi ya musyrikin wal munafiqiin…
pilih islam atau demokrasi?
mas, judulnya diralat ja ya!!
pilih Islam!!!
cz tidak ada pilihan laen kecuali islam jika ingin selamat!
demokrasi100% bathil
itu bukan pilihan
sekali lagi tidak ada pilihan lain selain islam, islam, dan islam!!!
Allohu Akbar!
Kebetulan saya ada sedikit waktu senggang, jadi saya rasa tidak ada salahnya menanggapi lagi komentar-komentar di atas.
@ siboy
Lalu hubungannya dengan demokrasi yang saya singgung apa? Terus, bentuk ibadah/penghambaan kepada Allah itu apa dan bagaimana saja? Terkait dengan pertanyaan barusan, apakah Anda pernah membaca cerpen Robohnya Surau Kami karya almarhum A.A.Navis? Jika pernah, apa tanggapan Anda dengan ilustrasi dan pesan yang disampaikan di dalamnya?
.
Apakah Al-Qur’an memang harus dibaca sebagaimana yang tertera? Lalu hukum di situ lebih mengacu ke mana; hukum dalam wilayah politik saja, ataukah hukum sunatullah? Jika politik, kenapa ayat-ayat yang berbicara hukum politik porsinya tidak sebanyak porsi ayat-ayat perdamaian, kasih dan sayang? Tolong tunjukkan pula ayat Al-qur’an mana yang membahas tentang model pemerintahan. Jika hukum di situ mengacu ke hukum sunatullah, misalnya yang sederhana, hukum siang dan malam, lalu kenapa manusia boleh dan bisa membuat inovasi berupa lampu, padahal kalau mau tunduk pada hukum tersebut, kita harusnya menerima keadaan gelap selama malam tiba, tapi nyatanya kita ikut menikmati teknologi penerangan di malam hari, yang mana ia adalah produk non-muslim? Hmm?
.
Hehe, kalau maksudnya berpegang teguh di situ adalah mengikuti apa yang tertera dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah secara membabi buta tanpa melihat relevansinya untuk konteks kekinian sih, yang ada dunia kacau balau. Tafsir antara satu golongan Islam dengan golongan Islam yang lainpun, seringkali saling bertolak belakang, dan itu kerap menimbulkan konflik internal.
.
Lha makna kaffah dalam pandangan ente lebih spesifiknya yang seperti apa sih? He? Masuk Islam secara keseluruhan bukan berarti meniadakan segala hal yang bukan produk Islam. Jika harus mengikuti paradigma ente, maka semua yang bukan produk Islam, harus ditolak, salah satunya teknologi yang kita nikmati saat ini. Begitu?
.
.
.
Jyah, jadi kepanjangan.
Eh, ketimbang komentar sepotong-sepotong dan kurang efektif seperti ini, mending kita ngobrol saja, chatting. Kan bisa lebih interaktif, dan syukur-syukur saling menambah wawasan keislaman. Kita saling berbagi pemahaman saja, siapa tahu nanti saya berbalik haluan, dan itu akan menjadi poin plus Anda, sudah “mengembalikan” saya ke “jalan yang benar”.
Gimana boy? Ane online ampe shubuh nih, kalau mau, ane tunggu. Ente add aje ane, di Yahoo Messenger, paradoks_2017. Ditunggu
@ Abi Fathimah
Ah, Anda juga saya ajak untuk diskusi terbuka via Yahoo. Kita bicarakan semuanya dengan baik, dengan jernih, dan tanpa prasangka.
Padahal Anda sudah saya tunggu sejak kemarin-kemarin lho.
Yah, kalaupun dirasa membuang waktu, setidaknya obrolan kita bisa dijadikan wahana silaturahmi, saling memupuk persaudaraan sesama muslim. Bukan begitu?
.
.
.
@ aziz
Tidak ada pilihan lain untuk selamat? Selamat di situ maksud khususnya biar selamat di akhirat, gitu? Biar selamat dan bisa masuk sorga, lalu menikmati tubuh para bidadari, begitu?
Yeah,
Allohu Akbar!
Ah, ditunggu sampai shubuh tak ada yang nongol. Pun belum muncul pula tanggapan baru di sini.
.
.
.
Eh, untuk narakushutdown, ada sedikit kritik nih, standar kebenaran Demokrasi bukan suara mayoritas, karena tidak tentu suara terbanyak adalah legitim (sah). Asumsi ente itu lebih mirip dengan pemikiran Rousseau yang menyamakannya dengan volonte generale (kehendak umum) yang selalu benar, padahal kategori politik demokrasi adalah ‘baik-buruk’, bukan ‘benar-salah’.
Doh, baca-baca lagi dah, buku tentang politik.
islam saja.
selain buku2 tentang politik, baca juga buku2 tentang teori penulisan teks. mau promosi sebuah “produk” tapi bahasanya kayak gitu, ya mana mungkin bisa laku buat pangsa pasar baru yang masih awam…
kalo memang tujuannya cuma buat konsumen lama yang terlanjur fanatik sama produknya, itu, sih, beda perkara lagi. tapi ya siap-siap aja selalu ditolak sama orang-orang yang di luar para konsumen fanatik
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhi wal ukhtii fillah
la’natullahi ya musyrikin wal munafiqin wal fasiqin wal kafirin
@Frozen
@ aziz
Tidak ada pilihan lain untuk selamat? Selamat di situ maksud khususnya biar selamat di akhirat, gitu? Biar selamat dan bisa masuk sorga, lalu menikmati tubuh para bidadari, begitu?
Yeah,
Allohu Akbar!
ah elo
konotasi elo gak enak neh
janji Allah tentang para syuhada memang seperti itu, bagi elo aja ini cuma lelucon bagaimana janji Allah bisa jadi lelucon buat elo. tentu tiada bermakna Firman2 Allah yang lain dan tidak usah menunggu berdiskusi dengan saya karena sikap2 elo saat ini jelas hanya melecehkan saja alias sudah punya pembenaran tersendiri
maaf saya ber elo saja karena bagi saya elo udah gak punya makna lagi sejak tulisan elo yang ini menggambarkan betapa sepelenya janji Allah buat elo hehehe
Saya sangat percaya itu janji Allah buat para syuhada persoalannya bagaimana menjadi syuhada itu boleh elo kemukakan tapi bukan melecehkan janji Allah hehehe kasian deh elo.. ya udah deh kalo itu kaya main main saja buat elo saya juga akan menganggap elo itu hanya permainan saja, itermezzo dalam pemahaman akidah saya hehehe
Ya Allah … dzat yang tiada yang menyamai dan dzat yang tidak pernah ingkar janji…. sungguh kuharap dapat memenuhi perjanjian denganMU wahai Rabbi Maafkan hambaMU yang sering mendhalimi dirinya sendiri ini
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhi wal ukhtii fillah
la’natullahi ya musyrikin wal munafiqin wal fasiqin wal kafirin
buat yg pro demokrasi, bullshit lah buat kalian semua. cuma pandai ngomong & obral janji sana-sini. pake istilah2 asing lagi. knapa?! biar keliatan intelek?! lagian ngapain luh nungguin debat ampe subuh? “OON” banget sih jadi orang…
tukang becak aja tau demokrasi tuh cuma ajang nipu rakyat. mau bukti? gak perlu ke aceh ko..
teriak2 jual parfum taunya air bangkai… hahaha…
@ deden
lho, ini konteksnya apa? konsep demokrasi atau pihak pelaksana demokrasinya? jangan dicampur-adukkan gitu donk, oom deden… yang anda sampaikan, kan, cuma contoh kasus yang kebetulan berlaku di endonesa yang mana antara konsep dan implementasinya memang nggak sejalan. di negara maju lainnya bagaimana? sebuah penerapan yang salah dari segelintir oknum tidak cukup untuk menjadikan sebuah konsep dinilai buruk, apalagi jika ternyata banyak pihak lain yang bisa menerapkannya dengan sukses.
jika ada seorang anak bodoh di sekolahan anda, apa bisa kita simpulkan bahwa mutu sekolahan anda jelek, cuma menghasilkan anak-didik yang bodoh2, tanpa melihat lulusan lain yang pintar dan sukses?
ngeliat anda ngetawain orang dan ngatain “oon”, saya kok jadi ga tahan untuk membalikkan semuanya ke anda. lain kali pahami konteksnya dulu, ya. perihal istilah asing, yeah, kadang-kadang ada kata2 dalam bahasa asing yang lebih komunikatif untuk digunakan daripada menggunakan bahasa endonesa, kok. saya sering ngerasain itu sendiri.
@ Abi Fathimah
saya masih berbaik sangka, sih, perkara kesan sinisme yang mungkin sampeyan tangkap dari kalimatnya frozen. saya anggap itu sindiran buat mereka-mereka yang hidup beragama dengan egois, yang merasa jalannya adalah yang paling lurus, yang justru rentan menimbulkan perpecahan dengan sesama karena tidak mau sedikit berbesar-hati dengan fakta perbedaan yang ada.
ah, jadi inget tentang paradoks muslim egois. itu tulisan bagus, kok. bikinan adik kelas saya di kampus. silakan dibaca saja.
saya yakin Gusti Allah itu nggak ndeso, kok
tentang khilafah sendiri, pandangan saya 1: kalo ingin islam diterima oleh orang2 yang berada di luar islam, buatlah mereka bisa menerima. promosi ataupun kampanye bodoh – macam di atas itu – yang justru rentan menimbulkan pertentangan (hanya karena alasan “sesuai tuntunan rasul” yang saya pikir juga tidak relevan), ya sampai kapanpun tidak akan pernah bisa berhasil.
mau orang lain mengkonsumsi produk kita tapi kita bertindak dengan mengambil posisi sebagai musuh mereka, ya sampai kapanpun nggak bakal lakulah itu produk!
yeah, kecuali kalo sejak awal kita memang berencana memaksa orang lain itu mengkonsumsi produk kita dengan jalan anarkis, well…saya pribadi tidak akan pernah sepakat dengan hal itu. cuma akan menimbulkan kebencian terselubung aja pada pihak yang dipaksa andaipun jalan kekerasan yang kita pilih itu berhasil
@ Abi Fathimah
Duh, saya kecewa, Anda hanya menyoroti bagian komentar saya yang, (ini menurut dugaan saya lho), lebih mudah diserang. Kenapa komentar-komentar saya yang sebelumnya, tentang syariat, khilafah dan kritik atas kritik demokrasi, tidak Anda sorot?
Di mana respek Anda di saat sebetulnya saya membutuhkan sejumlah klarifikasi dari orang-orang seperti Anda? Dan adakah Mas Abi ini tidak melihat, kalau sinisme saya itu berbentuk pertanyaan retoris, dimana Anda bisa memberi jawaban yang lebih jernih, atau menyerang balik dengan pertanyaan lagi?
.
.
.
@ deden
Di sini saya berusaha memahami, dan beranggapan, mungkin praktek demokrasi yang Anda lihat dan Anda rasakan di tempat Anda tinggal, tidak sebaik yang saya rasakan, sehingga saya mencoba menempatkan diri pada perasaan Anda. Saya memaklumi jika ada yang menganggap demokrasi adalah omong kosong. Saya bisa mengerti.
.
Kalau kata-kata Anda ini ditujukan kepada saya, maka saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk mencari padanan kata yang tepat dalam Bahasa Indonesia bila ada kata-kata sulit dari bahasa asing dalam komentar-komentar saya ke depan (insya Allah).
Tapi omong-omong soal istilah asing, mestinya Abi Fathimah juga mendapat kritik ini, karena “beliau” juga menggunakan bahasa asing (Arab) yang tidak saya mengerti (meski saya bisa menebak arti umum la’natullahi ya musyrikin wal munafiqin wal fasiqin wal kafirin) ketimbang menggunakan bahasa Indonesia >> laknat Allah atas orang-orang musyrik, munafik, fasik dan kafir.
.
Debat? Debat Anda bilang? Apa Anda tidak membaca baik-baik kata-kata saya buat Abi Fathimah sebelumnya yang bunyinya seperti ini:
Di situ saya serius ingin berbagi pendapat lebih jauh, lebih lugas dan mengalir (karena berbentuk obrolan via chatting). Lha Anda malah menuduh saya mengajak debat.
Tapi tidak apa-apa, mungkin komentar-komentar saya di sini lebih tepat disebut komentar debat, dan ajakan silaturahmi saya pun dianggap sebagai ajakan debat. Tidak apa, saya terima.
tuh kan bener.. kena luh! “joesatch yang legendaris” komenmu ngalor ngidul… baca lagi kitab2 EQ-nya di kampus ya..
watak pengekor politikus ya kayak begini ini, pandai berkilah pandai bersilat lidah… kebodohan dan egois elu dah nampak dari komen luh yg banyak tp ngalor ngidul… tanya knapa, biar nampak sbg sosok “pemikir muda yg mencerahkan”? ya.. ellaahh… memalukan sekali.
sama kayak yg kmaren “BULLSHIT 4 U” Hahaha…
*mengamati komentar di atas*
*jadi bertanya-tanya, apakah Rasulullah dulu ketika bersinggungan pendapat dengan sahabat atau kalangan agama lain, menggunakan bahasa yang kasar dan jauh dari santun ya? Jika tidak (tentu saja tidak!), kenapa ada umatnya yang (menulis) kata-kata kurang nyaman di mata seperti di atas ya?*
*wallahu a’lamu…*
O iya, kang deden, kenapa komentar saya tidak ditanggapi? Apresiatif dong, kan muslim…
*siyul-siyul*
frozen lu kena juga!
coba koreksi lagi pendapat elo dari awal komentar. hehe.. ketauan banget oon nya..
^
Haha, bagian yang mananya kang, yang harus saya koreksi? Tolong tunjukin dengan jelas, gih, ketimbang meng-oon-oon-i orang lain
Omong-omong, Anda punya blog nggak? Kok link-nya mati gitu? Asli anonim? Terus, kalau Anda merasa tidak oon, kenapa komentar sampeyan itu di mata saya malah lebih rendah derajatnya ketimbang oon itu sendiri ya?
@ deden
kena? kena di bagian yang sebelah mana? tunjukin satu2 donk… dan kenapa juga saya harus baca kitab2 EQ? bisa kasih tau alasannya?
nampak bodoh dan egois? ngalor-ngidul? yang mana? tunjukkan satu2, dan tolong beri saya pencerahan dengan argumen sangkalan yang valid dari anda, donk. kalo cuma bilang ‘bodoh’ tapi ndak bisa nunjukin argumen tandingan, sih, ya gampang
saya juga bisa, kok:
andalah yang bodoh!
andalah yang bloon!
andalah yang bego!
andalah yang goblok!
andalah yang nggak bermutu!
nah, gampang banget, kan, kalo cuma sekedar ngata2in?
bukannya dari awal saya memang sudah keliatan lebih pinter dari anda? pertama tentunya dari penguasaan istilah2 asing
kedua, dari kekonsistenan membalas komentar secara runtut dan point to point. beda dengan anda, kan?
komentar anda cuma semakin menegaskan posisi saya itu, lho. jadi kalo saya dicap sebagai orang yang memalukan, maka sebutan apa yang kira-kira cocok buat anda yang posisinya berada di bawah orang yang memalukan ini?
katanya jangan pake istilah asing? gimana sih? dan, anda tau artinya bullshit?
*nonton Joe + Frozen debat versus orang2 pintar,halalan thayyiban, ahli surga, jihadist of holy war, bullshit-ers de-el-el, de-es-be*
*tergeragap demi melihat kedatangan Baginda Khalifah Alex*
Aih, silakan Paduka duduk-duduk saja menyimak jalannya debat yang tidak imbang ini, antara calon penghuni sorga yang pintar, dengan kami yang katanya kafir dan bloon ini, Paduka… u_u
*membawakan kursi singgasana empuk berikut kopi hangat khas oriental buat khalifah agung*
*kembali ke arena*
*menunggu orang2 pintar, halalan thayyiban, ahli surga, jihadist of holy war, bullshit-ers ™ datang membawa amunisi*
@frozen
maafkan saya yang awan ini…, soalnya saya pernah baca kutipan hadist Rasullullah Saw yang mengatakan bahwa beliau pernah bersabda kepada orang kafir seperti ini: “Wahai para keturunan kera dan babi… dst”
nanya blog? nanya link? anonim? umat rosululloh? sebegitu pentingkan diriku bagimu? hehehe… point kalian berdua bertambah :
1.sok intelek
2.sok mencerahkan
3.sok alim
selamat deeh!!!
begitulah.. sifat manusia, baru punya ilmu “sedikit” saja udah sok menggurui.. ini nih yg bikin repot. beuh.. cpdeeh..
baiklah dek frozen dan dek legendaris yg pintar, abah deden yg bodoh (menurut dugaan anda) ini mau tanya. tolong sebut negara mana aja yg sukses menerapkan “sistem demokrasi” dari segi ekonomi, politik, kemanan maupun kesejahteraan rakyat nya?!
Lhah? Kok…?
Hei, kang deden, lalu soal pertanyaan saya dan mas joesatch yang ini bagaimana??
Hee? Bagaimana?? Ha?
Lha ini sampeyan malah balik nanya lagi, sebelum pertanyaan kami mendapat penjelasan. Gimana sih Anda ini
.
Jangan ge-er dulu mas, saya nanya blog Anda, ya karena saya ingin tahu, apakah Anda yang bisa mengatai orang lain oon ini memiliki tulisan-tulisan pribadi atau tidak, sehingga saya bisa menilai Anda dari tulisan tersebut. Dan seperti yang mas joe tulis di atas, kalau cuma sekedar mengatai orang, siapapun bisa.
Nah, sekarang jawab dulu pertanyaan saya dan pertanyaan mas joe di atas, bagian mana yang komentar saya harus dikoreksi, dan bagian mana yang komentar mas joe ngalor-ngidul? Jawab dulu ini.
-_-”a…
Lah, siapa yang sok menggurui…? Yang saya (dan mungkin mas joe) lakukan hanya membalas/menjawab komentar-komentar pro khilafah-syariat sebagaimana adanya, tidak lebih.
Okelah, taruhlah saya, sok menggurui. Tapi bukankah itu lebih baik, ketimbang orang yang sok memvonis, bahwa orang lain itu oon, bullshit, dll? Ha? Lebih parah mana, antara “sok menggurui” dengan “sok memvonis”?
Pertanyaan ini pun harus Anda jawab, kang deden, jangan dulu beralih ke yang lain.
.
Naaaa… PR buat kang deden bertambah lagi nih. Tunjukkan lagi, di bagian mana yang komentar kami berdua terlihat “sok intelek”, “sok mencerahkan”, dan “sok alim”. Harus Anda jawab, kalau Abnda tidak mau jadi bahan tertawaan karena hanya bisa mengata-ngatai orang saja!
.
Oo… “abah” sebutanna? Urang Sunda oge? Aih, hapunten atuh, Bah… bilih aya anu diraos teu merenah mah. Mung, Abah kedah ngawaler heula we, eta rupi-rupi pertarosan abdi duaan, engkin tiasa dilajengkeun ka persoalan nagara mana anu sukses nerapkeun demokrasi ti berbagai segi, sareng sajabina.
Dan satu hal, kami sama sekali tak menganggap diri kami pintar, justru Abah Deden-lah yang mengatai kami oon. Dan saya tidak pernah menganggap Abah Deden ini bodoh, kan saya katanya yang oon.
Mangga ah, dilajengkeun!
@ deden
*nunggu jawaban juga, biar obrolannya ndak loncat2*
aaahhh…salah tag…maap. harusnya:
setidaknya saya cuma menduga, bukan memvonis
@frozen
“Lalu hubungannya dengan demokrasi yang saya singgung apa? Terus, bentuk ibadah/penghambaan kepada Allah itu apa dan bagaimana saja? Terkait dengan pertanyaan barusan, apakah Anda pernah membaca cerpen Robohnya Surau Kami karya almarhum A.A.Navis? Jika pernah, apa tanggapan Anda dengan ilustrasi dan pesan yang disampaikan di dalamnya?”
wah… ente gak tau tho…. pantesan belain demokrasi
perbedaannya(terutama di Indonesia)
* dalam pasal1 ayat 1 uud 45 di sebutkan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. ‘kalimat kafir, syirik ini jelas menunjukkan bahwa di indonesia tuhannya adalah rakyat berbada dengan ISlam kalo di indonesia kedulatan sangat jelas hak mutlak ALlah yang mutuskan hukum adalah hak mutlak Allah ( Silahkan buka Q.S al-maidah: ayatnya silahkan cari sendiri sekalian belajar agama biar gak ngandalin otak terus untuk masalah agama)
saya gak pernah baca novel A.A Navis. Kalo anda pernah baca Buku AGAMA DEMOKRASI?
“Apakah Al-Qur’an memang harus dibaca sebagaimana yang tertera? Lalu hukum di situ lebih mengacu ke mana; hukum dalam wilayah politik saja, ataukah hukum sunatullah? Jika politik, kenapa ayat-ayat yang berbicara hukum politik porsinya tidak sebanyak porsi ayat-ayat perdamaian, kasih dan sayang? Tolong tunjukkan pula ayat Al-qur’an mana yang membahas tentang model pemerintahan. Jika hukum di situ mengacu ke hukum sunatullah, misalnya yang sederhana, hukum siang dan malam, lalu kenapa manusia boleh dan bisa membuat inovasi berupa lampu, padahal kalau mau tunduk pada hukum tersebut, kita harusnya menerima keadaan gelap selama malam tiba, tapi nyatanya kita ikut menikmati teknologi penerangan di malam hari, yang mana ia adalah produk non-muslim? Hmm?”
*anda orang Islam khan???
Pedoman anda tu akal ato Al-Qur’an dan As-Sunnah???
Kalo pedoman anda Al-Qur’an dan As-Sunnah ya Al-Qur’an harus di baca dan di amalkan donk… gak hanya membaca aje…
-Islam itu agama yang universal semua amalan dari pergi ke WC sampai masalah politik, perang, pemerintahan sudah ada dalam Islam
- model pemerintahan menurut Islam ya seperti pemerintahan Rosulullah. titik!!!!
-untuk lampu itu khan masalah duniawi yang mana Rosul sudah serahkan pada umatnya. Ente tau Ibnu sina gak? bapak kedokteran
ato ilmuwan islam al-jabra (penemu angka aljabar)
dan masih banyak lainnya??
dari aisyah Rosul bersabda “barangsiapa yang beramal (dalam urusan agama) tanpa ada dasarnya dari kami (Rosul) maka tertolak (H.R Muslim)
sudah jelas to hadist ini.
sekian dulu besuk lagi. pergi dulu ah……..
1 lagi: untuk diskusi via e-mail InsyaAllah kalo ane konek di internet dan punya banyak waktu!
ENTE DICIPTAKAN ITU HANYA UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLAH!!! ENTE DAN ANE DAPAT BERIBADAH KEPADA ALLAH DENGAN SEMPURNA KALO KITA HIDUP DI NEGERI ISLAM YANG BENAR2 MENERAPKAN ISLAM!!!
tanggapan enete lainnya InsyaAllah tak jawab besok2
“Hehe, kalau maksudnya berpegang teguh di situ adalah mengikuti apa yang tertera dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah secara membabi buta tanpa melihat relevansinya untuk konteks kekinian sih, yang ada dunia kacau balau. Tafsir antara satu golongan Islam dengan golongan Islam yang lainpun, seringkali saling bertolak belakang, dan itu kerap menimbulkan konflik internal.”
he mas frozen!!! sejak zaman Rosulullah di mana ada orang yang berada di atas kebenaran pasti dimusuhi oleh orang2 yang berada di atas kesesatan! Kalo qta sebagai orang Islam al-qur’an dan As-Sunnah memerintahkan amaln ya kita melaksanakan semampu kita! titik!!!
saya melihat relevansinya dengan kekinian tu… dan karena saat ini di indonesia berhukum dengan hukum KAFIR maka saya sebagai orang Islam harus mengubahnya menjadi syariat Islam, titik!!!
“Lha makna kaffah dalam pandangan ente lebih spesifiknya yang seperti apa sih? He? Masuk Islam secara keseluruhan bukan berarti meniadakan segala hal yang bukan produk Islam. Jika harus mengikuti paradigma ente, maka semua yang bukan produk Islam, harus ditolak, salah satunya teknologi yang kita nikmati saat ini. Begitu? ”
memang benar, masuk Islam secara keseluruhan bukan berarti meniadakan segala yang bukan produk Islam, tapi…. dalam masalah aqidah, ibadah kepada Allah ane harus tunduk pada Islam dan mengikuti semuanya. Titik!!! kalo lampu ciptaan orang kafir, terserah… toh orang kafir juga mengambil ilmu2 orang Islam pada perang salib I dengan cara membantai kaum muslimin di cordoba dan membakar ilmu agama islam. emang KTP, SIM, STNK itu produk demokrasi??? saya memakai SIM, KTP, STNK ya karena terpaksa hidup di NEGARA KAFIR REPUBLIK INDONESIA dan itupun beberapa ulama juga mengatakan tidak apa2. daripada uang dikasih buat thoghut laknatullah mending buat kuliah enak…..
masalah teknologi itu khan masalah dunia yang mana Rosul tidak lebih tau dari umatnya, dan terserah umatnya yang penting tidak melampaui batas.
uerang lebih begitu kalo salah datang dari kebodohan saya dan setan ada benarnya datang dari Allah semata
Wallahu A’lam
@ siboy
emosi amat, mas? sampai2 bikin 3 komentar
@ siboy
Apa mas boy lupa bahwa manusia adalah khalifah, wakil-Nya di muka bumi ini? Tentu segenap persoalan yang melingkupi manusia harus dipecahkan sendiri oleh manusia, hanya bedanya, bagi kita yang mengimani Al-Qur’an, kita menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan hukum, sedang pelaksanaan praktisnya, tetap dilakukan oleh kita selaku manusia (muslim).
Apa mas boy berpendirian bahwa maksud kalimat “yang memutuskan hukum adalah hak mutlak Allah” adalah manusia tidak boleh memutuskan sama sekali hal apapun kecuali oleh Allah?? Jadi… kalau misalnya ada maling ayam, kita diem aja dong, nunggu suara gaib (Allah) terdengar (dari langit) untuk memutuskan hukumnya, gitu maksudnya?
Ah, maaf kalau saya berlebihan, saya ini masih awam mas, maka dari itu asya mohon bimbingannya, mohon pula diluruskan.
.
Oh, buku karya Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al-Maqdisi itu? Belum, belum baca. Insya Allah akan segera saya cari.
.
Hooo…
ditanya balik tanya…
Saya balik tanya lagi deh. Apa anda tidak pernah mendengar ayat Qur’an yang berbunyi : “seburuk-buruk binatang melata di muka bumi adalah orang-orang tuli dan bisu yang sama sekali tak memakai akal mereka“? Dan tidak sedikit ayat al Qur’an yang di akhir kalimatnya berbunyi: “apakah kalian tidak berpikir?”, “apakah kalian tidak berakal?”, dan lain sebagainya. Tegasnya, memakai akal justru adalah perintah Tuhan itu sendiri.
Kalau keberatan dengan pernyataan saya, silakan disanggah baik-baik mas, diskusi masih panjang.
.
Iya, saya tahu kok. Cuma saya pernah nanya di postingan sebelumnya, ibadah di situ cakupannya apa saja? Dan itu sebabnya saya menganjurkan kepada orang seperti mas boy ini untuk sesekali membaca cerita pendek Robohnya Surau Kami
.
Lha? Jadi standar kebenaran, atau kriteria orang yang benar itu, harus dimusuhi dulu, gitu? -_-”
Kalau begitu saya juga di atas kebenaran dong, kan saya dimusuhi juga.
Kalau mas boy balik menyerang: “Ente kan tidak berpijak pada Qur’an dan hadist Rasul, ente yang berada di atas kesesatan, karena ente tidak mengikuti pemerintahan seperti yang dicontohkan Rasulullah!”, maka saya akan mengulang pertanyaan yang sudah saya lontarkan pada komentar sebelumnya, yakni, ayat mana yang secara tegas membicarakan masalah bentuk pemerintahan?
.
Silakan diubah! Saya tidak sabar ingin melihat hasilnya. Apakah dengan tegaknya syariat Islam, maka semua persoalan bangsa yang multi-kompleks seperti kemiskinan, pengangguran, penyiksaan TKW, dan masalah Lapindo, bisa langsung teratasi, ataukah tidak? Saya akan melihatnya dengan antusias. Cuma pertanyaan saya, kaaaapaaan syariat Islam segera ditegakkan? Ane sudah bosen nih, cuma denger yel-yelnya mulu.
.
Lha? Piye tho iki? Kok ra nggenah. Katanya orang kafir mengambil ilmu-ilmu dari orang Islam, tapi pada saat yang bersamaan kaum musliminnya dibantai dan ilmu agama islamnya dibakar.
.
Tepat! Dan untuk yang ke-sekian kalinya saya tanya, apakah masalah bentuk pemerintahan masuk ke dalam masalah agama? Ha? Bukankah bentuk pemerintahan = berurusan dengan masalah politik, dan masalah politik = urusan duniawi?
.
.
.
Eh, tambahan buat Anda, mas boy, kalau mengetik komentar, tolong dengan tenang, rapi, tidak disingkat-singkat, dan yang terutama, jangan lupa pakai paragraf, agar nyaman dan mudah dibaca.
Dan kalau mau menyisipkan komentar orang lain pada komentar kita sendiri, caranya tidak terlalu sulit, silakan klik [di sini], saya sengaja membuatkannya untuk Anda, dan siapapun yang kebetulan belum mengetahui cara membuat quote/sisipan. Tujuannya agar lebih mudah membedakan mana komentar yang dikutip dan mana komentar pribadi.
Salam alaik.
dari sekian banyak pertanyaan yg kalian ajukan, jawabannya adalah komentar2 kalian berdua diatas. masih bingung juga?! disitulah letak “oon” kalian.
jangan bangga dengan latar pendidikan dek joe. walau pun engkau kuliah & lulus dari perguruan tinggi negeri, saya katakan percuma… 1x lagi percuma. gak percaya? silakan kamu melamar kerja ke singapura, mereka pasti geleng2. tanya knapa? karena sistem pendidikan indonesia kualitasnya “rendahan” dimata mereka termasuk saya pribadi. hehehe..
dek frozen, yakin gak mau koreksi nih?! hmm..
nih dia,
biarpun banyak orang bilang bahwa dian sastrowardoyo itu cantik, tapi kalo ada upil hitam nongkrong diatas bibirnya malah jadi geli bahkan jijik ngeliatnya. apatah lagi ini system demokrasi yg ternyata jelas2 banyak cacat. disini letak “oon” kalian.
kalo udah kata “NAMUN” berarti kalimat yg kedua jadi “BATAL”. eulueh2 katanya pemikir muda.
bahan tertawaan?
hehehe.. silakan aja, kalo perlu undang tuh para guru besar & para cucunguk demokrasi untuk mentertawakan saya. dek frozen dan dek joe, justru sedari awal-awal saya sudah mentertawakan komenter kalian berdua. coba baca lagi kometar saya dari awal. ketawa lagi ah.. hahaha…
lagian kalo saya dan anak2 nonton acara debat TVOne (gak kuat nahan ketawa ampe perut saya sakit rasanya) melihat polah & laku para budak demokrasi. yg lebih parah debat ini jadi berita dan bahan lelucon di “channel news asia” singapura. lucu banget persis kayak badut, kalo kata orang melayu mah “macem budak kecik sajeu”.
yaa.. begitulah, biarlah saya di identikkan dg kesan keterbelakangan, saya malah bangga. berarti otak saya masih orisinil bebas pulusi. Gak seperti kalian para budak demokrasi, berlagak intelek tapi otaknya sudah terkontaminasi racun propaganda demokrasi. otaknya harus diformat ulang, atau jangan2 partisi otaknya udah rusak shg otak kanan & otak kirinya nge-mix. hehehe…
teriak-teriak “demokrasi” tapi lidahnya “pello”, kedengarannya jadi gimana gittuhh..
apapun dalih kalian, tetap bagi saya demokrasi adalah omong kosong!
@ deden
poin yang mana? dan kenapa dianggap oon, itulah yang saya tanyakan.
kalo cuma bolak-balik bilang oon aja, sih, gampang. tapi ya mbok bertanggung-jawab sama pernyataan anda sendiri… anda bilang komentar saya itu oon, ya sebutkan donk alasannya kenapa anda menganggap komentar saya itu dinilai oon. itu yang saya tanyakan.
jangan bisanya cuma bolak-balik bilang oon aja, dunk, tapi ketika diminta alasannya malah ngeles kesana-sini
ahahahaha…
astaga, abah… saya bangga dengan latar belakang pendidikan saya?
astaga, abah… makanya kalimat saya jangan dipenggal-penggal, donk. itu namanya mutilasi kalimat. jadinya ya konteks paragraf saya keseluruhan jadi samar dan runyam.
astaga, abah… kenapa abah sekarang malah bicara masalah mutu pendidikan?
astaga, abah… masak anda nggak tau kalo yang saya sebutkan itu adalah sebuah analogi?
oke, ini saya kutipkan lagi paragraf komentar saya secara utuh:
atau… jangan-jangan abah nggak tau dengan apa yang disebut sebagai “analogi”?
bukan itu jawaban yang saya harapkan.
dian sastro mungkin ga sadar kalo ada upil di atas bibirnya. anda yang nyadar juga nggak memberikan solusi apa-apa kalo nggak menyampaikan ke dian sastro. cuma geli sendiri tapi nggak mengkoreksi ya sama aja dengan nggak punya niat memperbaiki.
dian sastro (ds): “kenapa ketawa-ketawa, abah deden?”
abah deden (ad): “hahaha…geli aja. mukamu aneh.”
ds: “aneh kenapa? anehnya di mana?”
ad: “aneh aja. pokoknya mukamu aneh. masak kamu nggak sadar kalo mukamu aneh?”
ds: “ya makanya kasih tau donk, anehnya di mana?”
ad: “hahaha…mukamu aneh. bikin geli tau. kok kamu bisa nggak sadar mukamu aneh?”
nah, menjawab pertanyaan, nggak, dialog permisalan di atas itu?
jawaban abah yang saya quote di atas itu tipenya masih sama dengan yang sebelumnya. kalo ada yang perlu dikoreksi dari komentar saya atau frozen, tunjukkan bagian mananya yang perlu dikoreksi beserta alasannya, donk. kalo macam gini, sih, sama aja bohong. masih setipe: anda cuma bisa berteriak “cacat”, tapi nggak mampu menunjukkan di mana letak kecacatannya.
anda nggak menunjukkan letak upilnya dian sastro yang bikin anda geli itu ada di mana kepada yang bersangkutan meskipun anda (boleh jadi) tau upilnya ada di mana.
kapan saya mengklaim diri sebagai “pemikir muda”. hati-hati… statement anda itu ngawur, lho. bisa tergolong fitnah…
dan lanjut, pernah denger “pilihan terbaik di antara yang buruk”?
sejauh ini khilafah malah nggak dimasukkan sebagai opsi sistem pemerintahan di endonesa apa anda sadar apa sebabnya?
sebabnya adalah: demokrasi setidaknya bisa menjawab permasalahan terkait identitas bangsa ini yang majemuk. sedangkan khilafah? dengan cara promosi geblek macam di atas itu ya jelas aja banyak yang menolak duluan bahkan ketika baru akan diwacanakan.
dengan kampanye yang tidak simpatik macam gitu, mana ada yang bukan pemeluk islam yang mau tertarik? wong belum-belum sudah teriak kafir, sudah memposisikan diri sebagai musuh, kok. coba, siapa, sih, yang mau dikata-katain sebagai kafir?
goblok betul, ah!
boleh jadi kita memang saling menertawakan. tapi tentunya derajatnya berbeda, donk, ah
anda tertawa tapi cuma asal tertawa. tanpa argumen. tanpa alasan. cuma teriak-teriak “oon” aja dari awal.
sedangkan saya ataupun frozen tertawa sambil memberikan argumen sanggahan.
nah, bisa keliatan, kan, siapa yang kualitas tertawanya lebih murahan dibanding yang satunya?
errr… tvone itu stasiun tv mana? channel news asia sedang membahas negara mana? endonesa, bukan? kalo endonesa, ya artinya kita kembali ke analogi saya di atas itu tadi.
sekarang sudah paham atau belum analogi itu artinya apa?
ah, apa boleh buat kalo sudah kayak gini. artinya ada yang cuma diam saja tapi menertawakan orang lain yang sudah berbuat sesuatu. tipikal khas orang endonesa sekali, ya?
teriak-teriak “oon” tapi nggak bisa menunjukkan argumennya. kedengarannya jadi gimana gitu…
siapa yg kampanye tidak simpatik dek joe??!! baca lagi komentar2 saya dr awal gih… saya cuma mengkritik demokrasi, yg selama ini hanya “omong kosong” doang. itu saja.
dek joe kamu ini…
@ deden
lho, komentar2 saya di sini kan didasarkan pada postingan di atas. ya sudah barang tentu yang saya sebut tidak simpatik adalah isi postingan di atas itu
konteks, oom deden… sekali lagi pahami konteksnya
jangan sampai terkesan goblok teriak goblok, donk
Baiklah dek joe & dek frozen,
Kesembronoan kita menafsir dan melaksanakan demokrasi sebagai barang baru pasca runtuhnya Soeharto hendaknya bisa dicerminkan dari kesembronoan kita menafsir dan melaksanakan pembangunan. Pembangunan memang harus dijalankan, tapi sejauh ini praktik yang terjadi adalah pembangunan yang kental dengan hegemoni negara adikuasa. Kita tak memiliki kemandirian membangun selain manut pada titah sang adikuasa.
Dengan demikian pertanyaannya, adakah cita-cita luhur demokrasi –sebagai ide yang pernah membunuh Socrates itu– betul-betul dari rakyat, untuk dan oleh rakyat? Adakah cita-cita luhur pembangunan selama ini sudah berhasil mengentaskan kemelaratan dan menciptakan rasa aman? Secara teoritis mungkin iya, tapi pada praktiknya kita bahkan saksikan tumbuhnya kelas masyarakat baru, yakni mereka yang teraniaya sebagai korban pembangunan. Demikian pula dengan demokrasi yang pada kenyataannya banyak menciderai mayoritas sosial yang hendak diperjuangkan minoritas sosial.
Di negara kita, di saat para intelektual lain sibuk membuat rancang-bangun bagaimana Indonesia keluar dari era transisi yang melelahkan, tidak banyak dari mereka yang berpikir lebih dalam. Sebab tanpa harus menggugat keberadaan demokrasi vis a vis pelbagai proyek globalisme, kita lebih disibukkan menata piranti-piranti demokrasi ala kapitalisme itu sendiri. Disadari atau tidak, suka atau benci.
Wow… komentar yang ini lebih cerdas, santun, dan tenang dalam pemaparan. Kontras dengan komentar-komentar yang sebelumnya!
Wah, saya jadi curiga nih. Jangan-jangan…
Ah, tidak… tidak…
saya tak berani memvonis.. dan tak mau berburuk sangka.
Yang jelas, ini sebuah “kemajuan” bagi kang deden dalam berdiskusi di sini.
.
.
.
*ah, saya teringat pesan Abuya Alex, untuk tidak lagi menguras energi di sini, tapi untuk sekedar komentar-ringan, sepertinya tiada mengapa deh*
saya tak hendak menolak kenyataan ini. lanjut…
nah, jelas, kan? jelas kalo permasalahan yang terjadi sekarang ini adalah pada perbedaan antara konsep dan implementasinya, tho? karenanya itu saya pakai analogi sekolahan sampeyan. tidak ada masalah pada konsepnya. masalah itu ada di tingkat implementasinya.
makanya saya anggap postingan di atas itu juga salah. kalo mau membuat perbandingan konsep, ya bandingkanlah antara konsep khilafah dengan konsep demokrasi, dan bukannya konsep khilafah vs implementasi demokrasi. toh bukan nggak mungkin, kan, kalo konsep khilafah syariat islam nantinya diimplementasikan dengan ngawur; kayak di aceh itu, misalnya…
pun tidak lantas kita boleh membenarkan strategi promosi syariat islam semodel postingan di atas itu, bukan?
alih2 pengen membuat syariat diterima, yang ada justru rasa saling klaim kebenaran, nantinya.
coba saja ganti kata “islam” pada postingan di atas itu dengan agama selain islam, termasuk tuhannya, termasuk kitab sucinya. kira2 bagaimana perasaan orang islam sendiri kalo membaca kampanye model di atas itu tapi mengatasnamakan agama xxx? apa orang islam sendiri sudah cukup berbesar hati menerima kata2 kalo agamanya adalah agama ngawur dan tidak benar? saya jadi inget yutup diblok gara2 “fitna”
nah, jadi kalo model kampanye masih kayak di atas itu, mau nggak mau, khilafah akan ditolak terus. dan solusinya, demokrasi setidaknya adalah pilihan yang paling mungkin untuk menjawab kemajemukan yang ada.
saya heran…dari dulu model kampanye khilafah kok nggak banyak berubah. sepertinya perlu belajar banyak tentang periklanan, manusia-manusia macam gitu itu. cuma bisa ngomong thok, ngomongnya nylekit (buat yang lain) lagi
Apa mas boy lupa bahwa manusia adalah khalifah, wakil-Nya di muka bumi ini? Tentu segenap persoalan yang melingkupi manusia harus dipecahkan sendiri oleh manusia, hanya bedanya, bagi kita yang mengimani Al-Qur’an, kita menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan hukum, sedang pelaksanaan praktisnya, tetap dilakukan oleh kita selaku manusia (muslim).
oh saya gak lupa mas frozen… justru saya balik tanya apakah sampeyan lupa bahwa Rosulullah bersabda “Aku tinggalkan 2 perkara, apabila kalian berpegang teguh pada ke dua niscaya kalian akan selamat di dunia dan akherat. ke 2 perkara itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.” memang ada permasalah apapun di bumi dipecahkan oleh manusia, tapi…. khan kita diperintah untuk berpedoman pada al-quran dan as-sunnah mas frozen… kita di dunia ini memang dijadikan Allah sbg khalifah dan Allah menurunkan Al-Qur’an dan AS-Sunnah sebagai pegangan kita di dunia agar dapat menjadi khalifah yang baik. emang kalo kita sebagai khalifah di dunia kita harus ninggalin al-Qur’an dan AS-Sunnah gitu?? itu namanya khalifah yang gak tau di untung sudah dibuatkan aturan malah buat aturan sendiri!!!!
Apa mas boy berpendirian bahwa maksud kalimat “yang memutuskan hukum adalah hak mutlak Allah” adalah manusia tidak boleh memutuskan sama sekali hal apapun kecuali oleh Allah?? Jadi… kalau misalnya ada maling ayam, kita diem aja dong, nunggu suara gaib (Allah) terdengar (dari langit) untuk memutuskan hukumnya, gitu maksudnya?
Ah, maaf kalau saya berlebihan, saya ini masih awam mas, maka dari itu asya mohon bimbingannya, mohon pula diluruskan.
saya gak heran kalo anda orang awam, cuma kayaknya anda cerdas dalam teknologi dlll. Emang anda belum tau ya, hukum pencuri dalam agama Islam???? silahkan dipelajari deh Al-Qur’an anda!
Hooo…
ditanya balik tanya…
Saya balik tanya lagi deh. Apa anda tidak pernah mendengar ayat Qur’an yang berbunyi : “seburuk-buruk binatang melata di muka bumi adalah orang-orang tuli dan bisu yang sama sekali tak memakai akal mereka“? Dan tidak sedikit ayat al Qur’an yang di akhir kalimatnya berbunyi: “apakah kalian tidak berpikir?”, “apakah kalian tidak berakal?”, dan lain sebagainya. Tegasnya, memakai akal justru adalah perintah Tuhan itu sendiri.
Kalau keberatan dengan pernyataan saya, silakan disanggah baik-baik mas, diskusi masih panjang.
ibadah=perbuatan yang mana Allah meridhoinya. cakupannya segala perbuatan ente yang membuat Allah ridho. bagaiman kita tau Allah ridho??? ya kalo itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah berarti ALlah meridhoinya bila tidak sesuai Allah ALlah tidak ridho. Contoh ketika kita akan makan kita disunnahkan membaca bismillah. kalo kita sebelum makan kita baca basmallah berarti Allah Ridho tapi kalo kita tidak baca basmallah berati setan yang senang, lebih jelasnya cakupan ibadah yang bagaimana daripada nerangkan panjang lebar di sini silahkan ente baca buku kitab tauhid jilid 1-3 karya DR.Sholeh bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan… bukunya dah berdar di penjutu nusantara.. kalo ente kesulitan mendapatkannya datang aja ke toko buku Islam terdekat.
lha terus??? dan tegasnyanya coba ente baca teks lengkapnya. dan kalo pengen banyak lagi ayat2 yang disuruh menggunakan akal baca Q.S An-Nahl: 17-ke atas….
kalo gak salah komentar2 saya tulisan”biar gak ngandalin otak terus untuk masalah agama” kayaknya anda berpendidikan dan tau maksud ungkapan saya ini…
maaf ya mas frozen kalo sanggahan saya tidak berkenan di hati ente… bukannya saya marah tapi ya… ini gaya ane … mungkin dah dari sananya….
ya, saya tahu kok. Cuma saya pernah nanya di postingan sebelumnya, ibadah di situ cakupannya apa saja? Dan itu sebabnya saya menganjurkan kepada orang seperti mas boy ini untuk sesekali membaca cerita pendek Robohnya Surau Kami
Lha? Piye tho iki? Kok ra nggenah. Katanya orang kafir mengambil ilmu-ilmu dari orang Islam, tapi pada saat yang bersamaan kaum musliminnya dibantai dan ilmu agama islamnya dibakar.
silahkan pelajari kisah2 perang salib di cordoba… ok!!!
Tepat! Dan untuk yang ke-sekian kalinya saya tanya, apakah masalah bentuk pemerintahan masuk ke dalam masalah agama? Ha? Bukankah bentuk pemerintahan = berurusan dengan masalah politik, dan masalah politik = urusan duniawi?
iya! dan untuk kesekian kalinya saya katakan Islam permasalah di dunia ini sudah ada solusinya dalam Islam dari pergi ke WC sampai kepemerintahan!!!! Wallahu a’alam
oh saya gak lupa mas frozen… justru saya balik tanya apakah sampeyan lupa bahwa Rosulullah bersabda “Aku tinggalkan 2 perkara, apabila kalian berpegang teguh pada ke dua niscaya kalian akan selamat di dunia dan akherat. ke 2 perkara itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.” memang ada permasalah apapun di bumi dipecahkan oleh manusia, tapi…. khan kita diperintah untuk berpedoman pada al-quran dan as-sunnah mas frozen… kita di dunia ini memang dijadikan Allah sbg khalifah dan Allah menurunkan Al-Qur’an dan AS-Sunnah sebagai pegangan kita di dunia agar dapat menjadi khalifah yang baik. emang kalo kita sebagai khalifah di dunia kita harus ninggalin al-Qur’an dan AS-Sunnah gitu?? itu namanya khalifah yang gak tau di untung sudah dibuatkan aturan malah buat aturan sendiri!!!!
saya gak heran kalo anda orang awam, cuma kayaknya anda cerdas dalam teknologi dlll. Emang anda belum tau ya, hukum pencuri dalam agama Islam???? silahkan dipelajari deh Al-Qur’an anda!
ibadah=perbuatan yang mana Allah meridhoinya. cakupannya segala perbuatan ente yang membuat Allah ridho. bagaiman kita tau Allah ridho??? ya kalo itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah berarti ALlah meridhoinya bila tidak sesuai Allah ALlah tidak ridho. Contoh ketika kita akan makan kita disunnahkan membaca bismillah. kalo kita sebelum makan kita baca basmallah berarti Allah Ridho tapi kalo kita tidak baca basmallah berati setan yang senang, lebih jelasnya cakupan ibadah yang bagaimana daripada nerangkan panjang lebar di sini silahkan ente baca buku kitab tauhid jilid 1-3 karya DR.Sholeh bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan… bukunya dah berdar di penjutu nusantara.. kalo ente kesulitan mendapatkannya datang aja ke toko buku Islam terdekat.
silahkan pelajari kisah2 perang salib di cordoba… ok!!!
iya! dan untuk kesekian kalinya saya katakan Islam permasalah di dunia ini sudah ada solusinya dalam Islam dari pergi ke WC sampai kepemerintahan!!!! Wallahu a’alam
Ahh… mas boy sudah bisa menggunakan fasilitas blockquote, jadinya hasil tampilan komentar terlihat lebih rapi (meski masih ada yang mesti sedikit dibenahi).
Terima kasih, sudah respek dengan saran ane.
@ siboy
ada kontradiksi dalam kalimat di 2 komentar anda.
pertama:
kedua:
jadi, mana yang benar?
eniwei, saya tau maksud anda, kok. cuma saja, kalo saya boleh usul buat semua pendukung khilafah, kampanyekan khilafah dengan cara yang cerdas, bukan dengan cara yang beringas. pelajari strategi pasar anda, dan jangan malah membuat pasar memusuhi kalian. simpel, kan?
semangat itu bagus. tapi kalo semangat saja tanpa strategi ya jadinya modar sahaja
joesatch yang legendaris,
Kayaknya anda juga perlu baca buku kitab tauhid jilid 1-3 karya DR.Sholeh bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan
jadi, mana yang benar?
eniwei, saya tau maksud anda, kok. cuma saja, kalo saya boleh usul buat semua pendukung khilafah, kampanyekan khilafah dengan cara yang cerdas, bukan dengan cara yang beringas. pelajari strategi pasar anda, dan jangan malah membuat pasar memusuhi kalian. simpel, kan?
semangat itu bagus. tapi kalo semangat saja tanpa strategi ya jadinya modar sahaja
manurut saya semua benar… kalo salah saya mohon ampunan dari Allah (Astaghfirullah…) karena setan telah menjerumuskan saya dalam kesalahan melalui kebodohan saya…
oh gitu ya…emang strategi saya harus di kemukakan sama anda ya… setahu saya itu strategi gak harus di umumkan “HOOOI STATEGIKU MENGUBAH NEGARA INDONESIA MENJADI ISLAM BLA…BLA…BLA”
dan strategi itu gak harus semua orang tau, cukup yang menjalankan aja yang tau.
Waaah anda berpikir saya orang beringas ya… tapi kok orang2 disekitar saya bilang saya itu kurang beringas ya… belum beringas aja dah dianggap beringas apalagi kalo saya beringas??? bisa tak matiin tu orang disekitar saya. heee….
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
La’natullahi ya musyrikiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
Terima kasih atas masukannya …
wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
La’natullahi ya musyrikiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
La’natullahi ya musyrikiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
saya
tidakmampu untuk memakai kode2 … terlalu berbelit belit …siboy
ndak paham konteks, eh? komentar saya kan berdasarkan postingan di atas
menurut anda benar, gitu? maka lihat saja hasilnya di lapangan. fakta apa yang terjadi? dengan semangat membabi-buta yang tanpa strategi promosi itu, saya pikir sampeyan bisa liat sendiri apakah syariat islam sudah berhasil menjadi haluan negara di endonesa atau belum.
jika sampeyan menjawab dengan jujur alias menjawab “belum”, artinya memang ada sesuatu yang salah, yang mana menurut pendapat saya adalah kesalahan pada tahap sosialisasinya. that’s it!
yang saya bahas adalah postingan di atas, mas boy…
dan yang saya liat, jenis kampanye ala postingan di atas itu tidak simpatik. menurut saya, kampanye “waton” model gitu adalah kampanye tanpa otak, tanpa strategi, dan asal bisa keliatan identitas islamnya! jelas?
yang saya bahas adalah postingan di atas, mas boy…
dan kapan saya bilang kalo saya mikir sampeyan itu beringas. saya cuma berkaca pada postingan di atas itu, kok. yang mana tentunya dalam hal ini adalah mengacu pada siapa yang menulis postingan itu. liat aja tagline blognya: cerdas beringas
(mungkin malah perlu diganti jadi “beringas saja zonder cerdas”)
jangan buru-buru gitu, ah. nanti malu, lho, kalo salah
kalo nanti saya sudah baca, apa ada jaminan kalo para tukang kampanye itu juga mau melakukan syarat yang saya ajukan: membaca buku tentang strategi periklanan?
btw, saya setidaknya cukup tau tentang inti syariat islam, kok. dan yang saya pikir, syariat itu untuk dilaksanakan, bukan cuma diomongkan, apalagi diomongkan dengan cara yang tidak simpatik macam di atas! selama ini, syariat islam di endonesa cuma sekedar diomongkan (dengan tidak efektif), kan?
abi fathimah
sama2. karenanya kemarin saya menyarankan untuk membaca tulisan adik kelas saya itu. dia nulis tentang pentingnya win-win solution
@ deden
ah, ya…
saya baru tau kalo komentar terakhir anda yang terlihat santun dan elegan itu ternyata cuma hasil copy-paste, kan?
wahwahwah…padahal tadinya saya kepengen salut sama anda, lho; kok mendadak jadi cerdas? ealah…ndak taunya cuma hasil kutap-kutip aja, ya?
http://www.saifularif.com/blog/home/opini/artikel/69-pesan-mahathir-dan-kritik-atas-demokrasi.html
*ga jadi kagum*
Adduh! Mas Joe ini kok malah buka kartu sih, kan itu sama saja dengan membuka aib.
anu, saya sih berpegangan pada “katakanlah kebenaran sekalipun itu pait”
yeah, sekalian belajar biar menghargai buah pikiran orang lain aja, sih
@ joesatch yang legendaris
Ah, sekarang tinggal nunggu klarifikasi dari yang bersangkutan.
Eh, sebentar mas joe, bagaimana kalo mas deden ini ternyata penulis artikel tersebut? Bisa jadi mas deden ini nama aslinya SaifulArif, penulis artikel 69 Pesan Mahathir dan Kritik Atas Demokrasi tersebut??


.
.
.
Ah, saya terlalu muluk dan paranoid.
iya, ya…
tapi kalo ngeliat betapa berbedanya antara gaya ngomen sama nulis artikelnya, sepertinya kecil kemungkinan untuk itu. lagipula, kalo memang dia penulisnya, apa susahnya dari awal menjawab dengan jawaban yang setipe? yang ini sih kesannya terlalu kopi-peist. perbedaan bahasanya terlalu signifikan, huehehehe
Yeah!
Nah, seharian ini tiada seorang pun para pejuang syariat kita yang muncul. Kita lihat besok lah, insya Allah, barangkali akan ada komentar balasan yang lebih dahsyat.
Ah, pada kemana nih, trio pejuang syariat kita; siboy, abi fathimah, dan kang deden. Sudah 2 hari absen. Padahal saya menunggu “pencerahannya” lagi.
Apakah ini artinya keunggulan sementara di pihak pendukung demokrasi (dan sekularisme)? Yeah, sip kalau begitu. Hedoop demokrasi. Hedoop sekularisme.
[...] di sekitarnya. Sampai sekarang aku masih hobi menggoblok-goblokkan orang yang hobi bikin kampanye khilafah dengan cara-cara bego [...]
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
La’natullahi ya musyrikiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
frozen
Sedari dulu saya sadar anda hanya mencari pemuasan hobi saja kalau pembahasan ini hanya mengenai siapa lebih unggul maka berarti dunia anda sangat sempit
bagi saya pribadi saya tidak pernah merasa dikalahkan dan saya Insya Allah Memohon kepada Allah yang memegang hati saya untuk tetap istiqamah di jalan saya sebagaimana sebaliknya perjalanan anda di jalan anda pun tidak membuat saya merasa terganggu
Dalam Metode Dakwah Rasulullah pun Rasulullah menghindari perbincangan/perdebatan yang itu2 saja, Rasulullah lebih memilih mendakwah orang yang tertarik, kalau tidak waktu Rasulullah akan habis berdebat dengan Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu sofyan …
Saya sangat paham anda sangat yakin dengan jalan anda dan sebagaimana anda saya pun sangat yakin dengan jalan saya
“dan Allah maha pemberi petunjuk bagi siapapun yang dikehendakiNYA”
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
La’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin…
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
La’natullahi ya musyrikiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
joe
Di Pattani sama saja orang siam memaksakan agama buddha dan bahasa siam kepada orang melayu pattani, alih-alih membela Muslim Pattani Dunia cuma bisa bungkam atas Prilaku orang-orang siam yang membunuh ribuan orang muslim, tapi kalau orang2 Muslim menghendaki Negara bersyariat islam dunia seolah menjerit
hal ini terjadi di Mindanao (pemaksaan negara kristen philiphina) berlaku di RRC (Pemaksaan Komunisme) ribuan Muslim terbunuh dan dunia tetap bungkam
bagi saya yang Insya Allah membaca AlQuran hal2 diatas bukan keanehan karena memang sejarahnya selalu seperti itu semenjak zaman thalut dan jalut … jadi saya berpegang saja pada AlQuran dan Hadits lah biarlah saya dibilang bodoh, Pekak dll … itu resiko yang harus saya tanggung
banyak kasus di AlQuran yang menjadi contoh betapa ajaran yang lurus akan selalu dibilang kuno tidak sesuai zaman maka biarlah saya menjadi orang yang kuno dan tidak sesuai zaman bila itu bisa menyelamatkan saya dari hal2 yang tertulis dalam AlQuran
Betapa banyak orang bilang “emang ada Hadits Rasulullah yang mengharuskan mendirikan negara islam gak ada kan” mereka lupa bahwa Hadits RAsulullah adalah Perbuatan dan Ucapannya, ketika tanpa mengucap Rasulullah langsung membuat system dari atas ke bawah mulai dari dasar hukum, khalifah, gubernur, Qadhi (hakim) dll berdasarkan syariat maka itu adalah Haditsnya, perbuatannya tanpa perlu disangsikan lho kan rasulullah tidak bilang, Apa pernah akan Rasulullah berdiri berdampingan menegakkan negaranya dengan syariat agama lain? …
itu pun cukup buat saya yang bodoh ini
Ketika Pluralisme dikedepankan pun terjadi di masa Rasulullah antara kaum anshar dan muhajirin kedua kaum ini harus menerima dengan besar hati ucapan Rasulullah “apakah kalian akan terus berdebat seperti ini ketika dasar hukum telah turun” (Al Quran dan Hadits) jadi di masa Rasulullah SAW pun sama syariat tertolak luar biasa … Apakah RAsulullah tunduk atas pluralisme yang ada? itu tidak pernah terjadi kawan
bahkan ketika Abu Jahal dan Abu Lahab menawarkan RAsulullah menjadi khalifah versi mereka yaitu mereka akan beribadah seperti RAsulullah di satu hari dan keesokannya Rasulullah harus beribadah seperti mereka Rasulullah Tolak dengan keras, lalu mereka kembali menemui RAsulullah Muhammad SAW dengan tawaran yang lebih ringan yaitu ya sudah Rasulullah menjadi khalifah mereka tapi dengan syarat jangan menghina Tuhan2 mereka dan Adat2 kebiasaan mereka (mengelilingi ka’bah dengan telanjang bulat) Rasulullah Tetap menolak dengan kekerasan yang sama, bagi saya Penerapan AlQuran dan hadits tidak melihat konteks zaman atau pluralisme tapi memang harus diterapkan seutuhnya. biarlah saya menjadi orang bodoh dan keras kepala akan hal ini … itupun tidak mengapa buat saya
frozen anda ini lucu masalah2 blog dibilang tidak ada di zaman RAsulullah … sungguh anda ini pemikir yang pintar tapi anda sangat tidak akrab dengan Quran dan Sunnah jadi tidak bisa membedakan dimana masalah Ibadah dimana masalah muamalah…
buku2 yang anda baca luarrrrr biasaaaa … kapan dong hapal Quran dan hadits … gak perlu semua 1 Juz aja
Dan Ketika Rasulullah juga mengabarkan melalui haditsnya (nubuat) bahwa islam itu akan kembali “asing” ini pun saya percaya telah terjadi sekarang.. dan RAsulullah bersabda “bahwa kejayaan islam akan kembali direbut lewat peperangan” ini pun saya percaya karena saya ummat beliau … tidak ada beliau berucap bahwa kejayaan islam nanti akan direbut kembali lewat “demokrasi” jadi biarlah saya menjadi orang bodoh kembali yang memegang dengan kuat2 sabda2 beliau
Sungguh Syariat2 islam sekarang menjadi omong kosong dan bahan ledekan juga karena ulah umat islam sendiri, mulai dari raja2 arab yang doyan berzinah dan minuman keras di luar arab, penerapan yang tidak seimbang di Aceh untuk kaum miskin dan kaum kaya, dan banyak contoh2 lainnya.
tapi buat saya itu belum masuknya ajaran islam ke dalam sanubari kita semua hingga ke sumsum tulang kita, baru kulitnya saja, oknum2 tsb mengeruk keuntungan dari syariat itu sendiri tapi saya percaya suatu saat nanti akan ada kaum islam yang kaffah kapankah itu tercipta? Wallahu alam buat saya pribadi tindakan oknum2 yang mencoreng syariat islam itu sendiri bukan lah bagian dari ajaran islam … simple saja…
Sungguh Allah berfirman “Lindungi dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka” dalam kalimat ini tidak ada lindungi Saudaramu, tetanggamu, bahkan ummatmu … sungguh Allah memberikan kewajiban yang kecil untuk dasar kewajiban yang besar bagaimana kita mau mengerjakan pekerjaan besar bila pekerjaan yang kecil saja kita lalai? bagaimana kita mau mengurus ummat bila mengurus diri sendiri kita lalai? sudah berapa banyak juz yang kita hapal ? sudah berapa banyak surat yang kita amalkan? sudah berapa buku hadits yang kita baca dan amalkan? selalu tepat waktukah shalat kita? serta rukun islam dan rukun iman lainnya … kalau jawabannya masih kacau sungguh kita masih harus membenarkan diri kita sendiri dulu
Joe & Frozen Jalankanlah jalan yang kalian kehendaki … dan saya akan jalani jalan yang saya kehendaki walau dengan itu saya bisa saja di cap goblog tolol, pekak dll…
saya serahkan urusan saya kepada Allah SWT yang menilai
Soal Konsep2 khilafah bagi saya adalah dimulai dari mana kita sanggup memanage diri kita sendiri dulu jadi saya percaya konsep khilafah adalah yang terbaik tapi saya percaya sampai detik ini blum ada satu orang pun yang sanggup mengembannya… dan pada waktunya nanti yang telah Allah janjikan tentu akan ada
sebelum itu saya akan memperbaiki diri saya dan tetap akan memperjuangkan syariat islam dan konsep khilafah tentunya dengan semampu saya … selebihnya biarlah Allah saja yang menilai …
mungkin tulisan saya tidak memuaskan anda2, apalah artinya tulisan dari saya yang fakir ini … hanya kepada Allah sajalah kita berlindung …
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu
La’natullahi ya musyrikin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin..
Ah… kebetulan lagi suntuk. Tanggepin ah…
Ah, terserah kalau anda mau menyikapi serius baris komentar saya yang anda sorot itu.
.
.
.
Maksudnya yang kalimat “Rasulullah saja tidak ngeblog” saya tempo hari? Maksud saya sederhana, kan saya mengeluarkan pernyataan demikian pun karena komentar sebelumnya (saya lupa komentar siapa), bahwa segala hal yang tidak rasulullah lakukan, maka kita pun tidak boleh melakukan, nah, maka saya sebetulnya pada saat itu bertanya, kalau memang mau mengaplikasikan kehidupan persis Rasulullah, kenapa tidak ekstrim saja sekalian, untuk tidak menggunakan dan melakukan aktivitas yang tak dicontohkan Rasulullah, dan di situ saya mengajukan gagasan–yang memang menggelikan–untuk mending tidak ngeblog saja (karena tidak ada contohnya di zaman nabi), alias kita tolak semua hal-hal yang tidak dikenal di masa Nabi yang kita anggap paripurna itu.
Tapi nyatanya sekarang anda berkelit dengan dan atas nama muamalah, alias apa yang saya singgung soal blog bukan masalah ibadah. Nah, kalau demikian, kenapa anda juga tidak mau mengakui, bahwa urusan mengenai demokrasi (dan sistem pemerintahan), itu lebih banyak bermain di ranah duniawi, bukan ukhrawi, sekuler, bukan agamis, muamalah, bukan ibadah.
.
.
.
Nnnaahh! Jadi semua kerusakan dan kebusukan ini adalah karena ulah segelintir oknum kan? Tepat! Saya sependapat. Itu pula yang terjadi dalam alam demokrasi. Orang-orang di dalamnya (segelintir oknum) yang mencoreng demokrasi, bukan sistem demokrasinya sendiri yang buruk (ini sudah pernah disinggung mas joe). Begitu pula khilafah. Jujur saya bilang, saya mempercayai itikad baik para pengusung khilafah, dan saya mempercayai ada banyak kebaikan dalam sistem khilafah, cuma satu hal yang saya tentang dari keinginan untuk mewujudkan khilafah (dan syariat Islam), adalah pada segenap teknis pelaksaannya yang tidak jelas, belum lagi soal persuasi yang tidak ramah seperti postingan di atas, dan implementasinya pun masih tanda tanya.
.
.
.
Jujur pula saya akui, saya tidak berminat menghapal Qur’an, apalagi hadis. Saya lebih nyaman untuk sampai pada memahami substansinya saja. Saya khawatir kalau saya sampai hafal 1 juz (misalnya), saya jadi pongah, besar kepala, mudah mencatut ayat-ayat dan hadis untuk menyerang orang yang berbeda pemikiran, dll.
.
.
.
Ah, omong-omong soal membetulkan perilaku sendiri dulu, saya setuju, dan saya mohon pencerahan dan bimbingannya. Saya sedang bermasalah dengan sholat saya, tolong kalau berkenan, Anda klik [ di sini ], dan mohon sudi memberi nasehat atau masukan-masukan atas apa yang tertulis di situ.
Terima kasih.
Salam sejahtera, mudah-mudahan Allah merahmati kita semua.
@ abi fathimah
ketika seseorang menunjukkan sesuatu dengan tidak elegan, pertanyaannya, haruskah kita umat islam menunjukkan ketidak-eleganan yang sama pula untuk membalas perbuatan mereka?
apa bedanya kualitas kita dengan mereka kalo gitu?
dan, tulisan saya itu, saya sedang bicara dalam konteks endonesa, lho
-komen2nya banyak bener baca2 dulu ah
@narakushutdown: bukankah bisa mengeluarkan pikiran sampeyan di sini juga karena demokrasi? bukankah ketika sampeyan berdebat dan menyangkal pendapat orang juga karena demokrasi?
ckkckck karena demokrasi? enggak banget gitu
tinggal pilih aja pada banyak cingcong
pilih Islam atau demokrasi?
saya pilih Islam
yang pilih demokrasi kapir , selesai!
saya pilih demokrasi, jadi saya kapir … sampeyan mau bunuh saya gitu ?
wkakakakak
*baca baca baca*
apa ini? arena pertarungankah? sesama Islam kok saling serang
Saya tetap percaya terhadap perkataan Rasulullah bahwa Khilafah akan berdiri, tapi kalau umat Islam-nya aja seperti ini, saya makin pesimis dengan perkataan Rasulullah.
Khilafah itu akan berdiri jika aqidah umat Islam sudah benar sesuai aturan Allah, tapi yang saya lihat di sini, orang “yang menrasa dirinya benar” menunjukkan betapa rusaknya akhlaq, karena (IMO) akhlaq adalah cerminan dari penerapan aqidah yang benar.
Saya sangat kecewa melihat komentar “deden”, terlalu kasar untuk seseorang yang mengaku Islam dan mendukung berdirinya khilafah
apalagi dengan mempertanyakan “kadar keislaman” orang lain, karena tak ada seorangpun yang berhak untuk melakukan hal itu, termasuk Anda. Berapa kadar keislaman seseorang itu hanya Allah yang berhak menentukan, maka biarlah itu menjadi urusan pribadi orang tersebut dengan Allah, karena Anda pun belum tentu lebih baik dari mereka
Jadi, benahi dulu aqidah diri sendiri, kemudian berusahalah untuk membantu membenahi orang-orang di sekitar kalian (ini dakwah kan namanya?) dan jika aqidah umat Islam sudah benar sesuai Al-Qur’an dan Hadist, Insya Allah khilafah pun akan berdiri sesuai perkataan Rasulullah dan Janji Allah (?) (*jujur saya ga nemu ayatnya*)
@ frozen | bang joe
Kalian ini, ayo pulang, jangan bikin rusuh lagi
*tarik-tarik frozen dan bang joe*
[...] berbagai blog dengan berbagai postingan yang cukup bagus. Ada yang membahas tentang khilafah, ada pemikiran ekstrim yang menentang demokrasi, ada pemikiran menggelikan tentang organisasi papua merdeka, ada juga bahaya copy paste. [...]
ya udah…udah…
sekarang yang mau berkhilafah, silahkan tunjukkan bukti dari omongan, jangan nyewa senayan terus untuk ber-orasi, itu lapangan bola buat maen bola bukan buat orasi
satu yang pasti sih, Hukum diciptakan oleh Allah untuk manusia, Allah menciptakan hukum dan peraturannya dengan sempurna…
yang menjalankan hukum Allah itu manusia, dan manusia itu tidak ada yang sempurna, jadi kalau mengharapkan dengan Syari’ah negeri kita akan maju ya maaf, bukan saya menyangsikan Allah, Al Qur’an dan Hadist, tetapi manusia yang menjalankan hukum Allah tersebut yang saya sangsikan, kecuali Rasulullah SAW datang lagi ke tengah-tengah kita.
Khulafa’ur Rasyidin yang melanjutkan dan mengikuti jejak Rasulullah SAW saja banyak yang, maaf bukan saya menyinggung tapi ini adalah realitas, meninggal dengan tidak wajar kok, bahkan pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib saja terjadi perang saudara pertama antara Ali dan Aisyah kan?
sekarang apa yang membuat anda yakin bahwa Indonesia akan selamat kalau menegakkan hukum Syari’ah? 4 Pemerintahan Khulafaur Rasyidin saja, yang notabene melihat dan belajar langsung dari Rasulullah SAW, banyak terjadi intrik-intrik politik yang membuat kita sebagai Muslim akan geleng-geleng kepala
maaf…saya bukan menyangsikan Allah SWT, Rasulullah SAW, Al Qur’an, Al Hadist…tapi saya berlindung kepada Allah SWT dari pengikut-pengikutNya
bahkan Rasulullah SAW yang sangat kita puja-puja tidak membalas ludahan seorang kafir kepadanya, apa hak kita semua merasa paling suci? cuma modal teriak…HIDUP SYARI’AH!!!!
Assalamu’alaikum wa rahmatulllahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
La’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
frozen
Afwan
pengalaman saya tentang demokrasi sebagai aktifis “reformasi 98″ dan kader PK (belum ada S) cukup menggiring saya ke suatu kesimpulan yang mudah saja
bahwa bila terjadi “DEADLOCK” terhadap suatu hal maka akan terjadi “VOTING”
kawan2 yang masih di PKS pun ada rasa enggan bercakap-cakap kembali
saya tidak mau berkutat dengan trias politika, montesqieu dll terlalu lama cukup basic reason aja, apakah “HUKUM ALLAH” bisa dijalankan tanpa di voting dalam demokrasi? tidak usah berputar-putar di masalah2 arti demokrasi, esensi demokrasi yang luas/sempit dll
saya cukup bertanya Apakah mereka (kawan2 di PKS) bila menemui “DEADLOCK” (seperti masalah pornografi dan pornoaksi) akan membiarkan hukum Allah terkalahkan lewat voting? .. Jadi Demokrasi bukan masalah muamalah karena akan senantiasa bersinggungan dengan masalah Amir (kenegaraan) yang tentu akan terus bersinggungan dengan hukum2 Allah
buat saya pribadi yang bodoh dan pekak ini ya saya tidak rela hukum Allah di Voting, dan ini adalah pernyataan sikap saya thd hukum2 Allah di segala bidang. yah sudahlah frozen saya mengerti kok jalan yang kamu pilih silahkan saja menjalani
toh itu tidak akan merugikan saya
Oh ya ada kejadian yang bagi saya cukup lucu masalah demokrasi ini, jadi pengusung pro demokrasi mengadakan seminar di Gramedia tentang pornografi dan pornoaksi, salah seorang pembicara mereka yang kebetulan seorang pendeta aktif sekali berbicara meyakinkan hadirin yang hadir. Lalu sekononyong-konyong sepupu saya melontarkan statement “bapak pendeta yang sedang berbicara di sana kalau memang bagi anda bilang bahwa ketertelanjangan itu adalah bagian dari seni maka kami yang hadir disini ingin tahu dan belajar seninya dimana maka kami minta dengan hormat bapak menghadirkan istri dan anak wanita bapak disini tanpa busana dan biarkan kami mempelajari seninya dimana, mayoritas hadirin disana menghendaki itu, lalu seminar jadi hening, dan langsung ditutup oleh seseorang yang katanya memuja demokrasi
Bila seorang Pendeta aja tidak mau anak dan istrinya sebagai object seni dan mengabaikan kehendak mayoritas hadirin disana yang mungkin bertentangan dengan kepercayaannya dalam injil kenapa saya yang islam ini kalah? jangankan keputusuan Demokrasi, asas demokrasi yang tidak memasukkan Allah sebagai kekuasaan tertinggi namanya bertentangan dengan islam 100% tidak akan saya patuhi
… simple aja kan terlepas keadaan negara ini majemuk dll, itu tidak menyurutkan niat saya akan hadirnya islam yang kaffah, berhasil atau gagalnya itu tidak penting yang penting saya sudah berperan akan keyakinan saya
dan Bagi Allah Azza wa Jalla bukan hasil yang diminta tapi proses dan ketaatan
dan tidak masalah buat saya anda pun menjalani perjuangan anda lewat demokrasi itupun hak anda
Bila ada kekurangan para pengusung khilafah baik dari segi sikap, promosi, kelakuan dll bagi saya pribadi hal itu lumrah saja mungkin karena semangatnya yang berlebihan, pemahamannya yang masih kurang dll, saya pribadi tidak pernah ikut2an tuh parade2 khilafah di senayan dll ayng diusung kawan2 HTI, tapi bagi saya pribadi suatu saat nanti khilafah akan kembali sesuai dengan nubuat Muhammad SAW dan saya hanya berpartisipasi sepanjang usia saya saja
, saya pribadi lebih menyukai konsep “Dakwah, Tarbiyah dan Keteladanan” yang membuat saya membuka lembaga pendidikan islam yang saat ini baru untuk tingkat TK. tapi ini pun belum tentu jalan yang paling benar untuk mengakomodasi syariat islam … tapi inilah yang saya percaya sebagai jalan saya dan saya menghormati jalan2 yang dilakukan kawan2 yang lain
dan bukan tidak mungkin dalam titik tertentu saya bisa saja mengambil langkah2 ikhwan2 yang telah mendahului saya
Frozen
sangat disayangkan ada peribahasa “tak kenal maka tak sayang” mungkin anda lupa bahwa Allah berfirman “Al Quran adalah petunjuk bagi manusia” bagaimana anda bisa mengambil substansinya saja tanpa sering membaca dan memahaminya (terjemahan udah banyak kok) ibarat sakit tanpa pergi ke dokter lalu minum obat sendiri … salah2 obat bahaya kan
dan janganlah jadi Apriori duluan Apakah Muhammad SAW dan para sahabat jadi pongah karena hafal Quran? ada ada saja …
kalau saya pribadi saya baca karena saya merasa butuh dituntun dan siapa lagi penuntun dan penunjuk jalan yang lebih baik dari pada Allah yang menciptakan saya .. simple aja
frozen
Kebetulan sekali saya telah mengunjungi blog anda, tapi kesan saya pribadi sama saja … sebenarnya anda telah mempunyai kesimpulan sendiri jadi buat apa bertanya? karena ada jawaban2 yang menurut saya bagus disana tapi tidak anda jawab, anda lebih mengarah atau lebih tepatnya mengarahkan hasil tulisan kepada kesimpulan2 yang sebenarnya telah ada di benak anda
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhi wal ukhti fillah
la’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
‘Kan saya sudah bilang alasannya, “saya khawatir”. Pertama, Rasulullah.saw itu manusia yang maksum, tidak dibiarkan berbuat salah, sehingga terus-menerus mendapat bimbingan Ilahi langsung. Dan kedua, para sahabat itu kebanyakan langsung mendapat bimbingan pula dari Rasul. Saya? Dan ketiga, saya bukan orang yang mesti berada di garda depan Islam untuk urusan ini. Setiap orang memiliki kapasitasnya sendiri dalam penguasaan agama.
.
Dan “sering membaca” tentunya tak mesti menjadikan si orang yang membacanya menjadi hafal ‘kan?
.
Lha? Ada jawaban bagus ya buat apa lagi saya jawab? Kenapa tidak khusnudzhan kalau saya menerima komentar yang anda anggap bagus itu? Dan perihal kenapa saya bertanya (lagi) meminta pendapat Anda, satu hal, karena saya ingin memperkaya sudut pandang. Jelas?
.
Kesimpulan-kesimpulan yang saya kemukakan pun bukankah masih berujung pada pertanyaan? Kalau saya sudah memiliki kesimpulan yang sudah pasti, tentu saya akan mengakhirinya sebagai sebuah “pernyataan” (yang mutlak), bukan “pertanyaan”.
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhi wal ukhti fillah
la’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
Rukia
Rukia blum tentu kali ah dia merasa benar sendiri mungkin cara penyampaiannya aja
dan yang terpenting neh Orang yang Shalat wajib tidak pernah tinggal Insya Allah masih banyak di bumi indonesia ini dan sebagian dari mereka masih doyan tuh menyakiti sesamanya dengan menjadi koruptor, manipulator dll, apakah dengan contoh ini lalu kita akan berujar “ah gak perlu shalat yang penting akhlak, yang shalat aja masih banyak yang nyakitin orang lain” hehehe bagi saya ini mah lucu jawaban saya mah “dia aja masih shalat masih suka nyakitin orang lain apalagi dia gak shalat” jadi mending saya shalat saja…..
Rukia
Terima kasih atas masukannya…
tapi saya percaya walaupun melakukan itu semua tetap saja jalan itu akan sangat terjal dan penuh rintangan…. kenapa? yah gampang saja wong memang begitu sejarahnya hehehe terulang terulang dan terulang lagi
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhi wal ukhti fillah
la’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
@ abi fathimah
saya bisa mengerti, kok. cuma, summon dari blog saya yang di atas itu isinya hanya mempertanyakan model kampanye yang saya anggap goblok macam kampanye di postingan ini. jadi jangan khawatir, saya nggak nganggap anda secara personal sebagai orang yang bodoh, kok; kalo anda merasa tidak seperti orang2 yang saya singgung di postingan saya.
dan, entah kenapa saya jadi gatel lagi
pengen nanya aja.
mungkinkah ketika syariat islam sudah diterapkan maka tidak bakal timbul deadlock yang akan berlanjut pada voting?
apa iya hal itu bisa dijamin (tanpa deadlock dan voting itu lho), sedangkan fakta yang ada sekarang adalah saling berbenturannya aliran2 dalam islam sendiri?
kita lihat saja fakta yang ada di lapangan: sunni mengutuk syiah, salafy membid’ah2kah jamaah tabligh, dan di level grass root endonesa sendiri nu dan muhammadiyah masih saling gontok2an. yeah, padahal semuanya sama2 ngaku islam
maka jika nanti syariat islam tegak, syariat versi siapa yang akan dipakai? apa nggak mungkin terjadi deadlock ketika perdebatan sampai pada level penafsiran ayat2 tuhan dan sabda nabi, gara2 masing2 pihak ngotot bahwa penafsirannya adalah yang paling benar? lalu apa solusinya? apakah voting lagi? waduh, kalo iya, balik ke demokrasi lagi donk, namanya
semoga saja, jika ada deadlock, voting itu tidak terjadi dan sebagai solusinya Allah akan bersuara dari langit, bersabda tentang keputusan apa yang harus diambil manusia sesuai kehendakNya.
jadi inget perbincangan kita tentang amrozy jaman dulu itu, hohoho…
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhtii fillah
La’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
joe
Hmm.. saya berusaha menempatkan diri saya untuk merasa bodoh supaya saya jadi mau terus belajar… gitu aja
Allah berfirman bahwa cuma sedikit saja surat2 di AlQuran yang tidak bisa langsung dipahami (mustasyabihat) ulama2 sekarang menjabarkan tidak lebih dari 15% ada yang bilang 20%, dan surat2 mustasyabihat itu memang sengaja ditaruh disana oleh Allah Azza wa Jalla untuk mengetest mana orang2 yang beriman mana yang tidak, kalau saya pribadi kenapa saya harus kehilangan yang +/- 80% gara2 yang sedikit? Nabi kita Muhammad SAW itu Nabi yang Ummiy (tidak bisa baca tulis) tapi jadi cerdas berkat Al Quran yang harus dia hafal, kita malah enak udah tertulis kok malas baca?
Jadi dengan menegakkan syariat Islam, Insya Allah membantu memuluskan jalan bagi kejayaan islam yang dijanjikan nanti itu dengan hadirnya seorang imam terakhir, yang mungkin saja sudah lahir sekarang atau sudah remaja sekarang atau masih akan lahir seratus tahun ke depan… wallahualam yang jelas dia akan jadi imam tepat di usianya yang ke 40
dan perjuangan menegakkan syariat ini juga dalam rangka pengamalan firman Allah yang berbunyi “akan selalu ada orang2 yang berperang di sisiKU sampai hari akhir nanti, tidak merugikan mereka orang yang mencela mereka dan tidak menguntungkan mereka orang yang membantu mereka”
Hukum2 yang tidak perlu dilihat di hadits lagi seperti Faraid (waris), walimah (nikah), pajak infaq shadaqah dan beberapa hukum lainnya itu sangat jelas di Quran tentu dengan sendirinya apabila kita menegakkan syariat maka friksi2 perbedaan itu akan lebih jarang
DeadLock pun sudah terjadi pada zaman sahabat tapi bukan berkenaan pada hukum2 yang sudah jelas di quran tapi lebih kepada surat2 mustasyabihat tadi hingga bila waktu itu seorang khalifah atau sultan sifat dasarnya buruk ya dia akan memelencengkan surat2 mustasyabihat tadi sesuai nafsunya.
dan dalam Islam DeadLock tidak divoting melainkan sepenuhnya tanggung jawab Amir, yang akan nanti dia pertanggung jawabkan nanti di depan Allah, sehingga banyak orang yang mengerti malah gak berebutan jadi Amir gak seperti sekarang ini sebab tanggung jawabnya itu bukan main
sampai seorang Umar bin Khattab ra pernah berkata “Kalau saja aku ini dilahirkan bukan sebagai Umar bin Khattab tentu aku lebih memilih untuk menjadi rakyat kebanyakkan, Tapi aku ini ditakdirkan lahir sebagai Umar”
Bila terjadi hal2 baru yang belum ada ketentuannya maka Amir akan memanggil orang2 kepercayaannya untuk memberikan Nasihat atau masukan tapi tetap keputusan 100% tetap ditangannya sampai Abu Bakar ra berkata “seandainya aku seorang diri dalam keputusanku ini … maka aku tetap akan menjalankannya”
Mungkin orang2 akan bilang itu seh diktator namanya, tidak bagi orang2 yang mengerti bahwa kepada Allah lah dia akan kembali, orang2 yang mengembangkan hidup sederhana, apa yang dia tuju? Apa yang mereka tuju? para khulafaur rasyidin yang 4….(sebelum terjadinya fitnah) wong mereka gak punya apa apa… keputusan mereka ambil semata karena cinta mereka kepada Allah dan NabiNYA
Nabi Muhammad SAW Wafat tidak membawa kekayaan
Abu Bakar ra wafat tidak membawa kekayaan
Umar Bin Khattab ra sama saja
Utsman bin Affan ra juga sama, ingat saya bicara konteks utsman bin affan seorang bukan keluarganya
Ali bin Abi thalib? juga sama
Jadi syariat islam itu juga tergantung kesiapan orang2 pendukungnya, dan saya percaya akan dipenuhi warna2 baik yang ma’ruf maupun yang munkar sampai datang ketentuan Allah akan hadirnya imam terakhir, ada nanti yang teriak2 syariat tapi memperkaya diri sendiri, ada yang sengaja memancing di air keruh teriak2 syariat tapi beda aliran dll dll … tapi apakah saya harus berhenti memperjuangkan syariat dengan keadaan seperti itu? tugas saya pribadi ya itu tadi Quu anfusakum wa ahlikum naaran … melindungi diri saya dan keluarga saya dari api neraka … dan saya jalani ini semampu saya sesuai keyakinan saya sampai nanti orang yang mengembannya sesuai ketentuan Allah muncul di muka bumi ini, syukur2 saya hidup di zaman itu kalaupun tidak paling tidak saya sudah berusaha menjaga sepanjang usia saya.
Pejuang2 syariat pun sama saja mereka manusia mungkin mereka ada yang tergelincir dll, Naudzubillahi min dzalik ya Allah Lindungilah hambaMU ini, tapi itu tidak akan membuat saya berhenti untuk menjalankan hukum Allah yang mana saya tidak mungkin memperjuangkan islam lewat hukum selain Allah spt Demokrasi
DeadLock biarpun syariah ditegakkan sangat mungkin terjadi … tapi tidak pada hukum yang sudah ditetapkan seperti Qisas, Pornografi, Pajak Dzakat infak Shadaqah, waris, nikah dll. paling tidak mengurangi friksi perbedaan yang ada… dan apabila terjadi DeadLock maka tanggung jawab Amir yang akan dia pertanggung jawabkan nanti ke depan Allah untuk memutuskan, kalau Amirnya berakhlak baik (bisa dilihat dari kehidupan sehari harinya, mengembangkan hidup sederhana, baik kepada sesama, ibadah tidak pernah tinggal dll) maka arah putusannya bisa baik kalau amirnya buruk? maka arah putusannya bisa buruk. dan apabila mayoritas ulama telah menyatakan amir ini mungkar maka bisa diperangi… simple aja
joe mungkin jawaban saya tidak bisa memuaskan anda but it’s okay saya juga dalam keadaan bisa salah bisa benar seperti juga anda, tapi saya akan tetap menjalankan apa yang menjadi keyakinan saya
anyway terima kasih atas segala masukan dan olah pikir, sedikit banyak dialog2 seperti ini memberi masukan juga bagaimana memperjuangkan syariat islam
assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu ya akhii wal ukhti fillah
La’natullahi ya musyriqiin wal munafiqiin wal fasiqiin wal kafiriin
saia ga menganut demokrasi
saia seorang muslim
kok seneng banget melaknat orang lain?
Assalmualaikum warhmtullah…
sy telah melihat dgn jelas perbedaan Islam & Demokrasi.
Dari asal n sumber hukumnya sj sdh sgt nampak bahwa demokrasi mmg tak pantas djadikn sbg sistem/dsar hukum. qt manusia mngambil sumber hokum dr manusia jg ??? /:)
Padahal qt punya sang Khalik, n qt org muslim udah tau klw Allah adlh sang pengatur, yg pastinya lbih mngtahui yg baik n yg buruk bg ciptaanNya. Sedg qt pun tau klw manusia mmiliki naluri (eksistensi diri) yg cenderung tak t’kontrol, klw mngandalknnya mk tdk akn mlahirkn suatu hokum dan atw bahkn tdk akn mampu mnyelesaikn mslh yg dihdpi. Dgn begitu, dlm system demokrasi yg b’sifat liberals ni n ank kandung dr Kapitalism ni mana mungkin bs m’berikn qt ksejhtraan dunia akhirat. Apakh bs dijamin???
n kembali kpd Islam; Allah b’firmn dlm QS an-Nisa’ [4]: 59:
“Jika kalian berselisih paham dalam suatu perkara, hendaklah kalian merujuk kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (as-Sunnah)”.
Dlm Islam sgt jls bahwa kdaulatn bknlh di tgn rakyat, tp di tgn syariah. Sumber hukum satu-satunya adlh al-Quran n as-Sunnah.
Krn itu, demokrasi dgn Islam b’tolak blkg. P’bedaan scara m’dasar demokrasi dgn Islam dliht dr sumbr kdaulatn ini.
wassalam….
Celakanya :…. jika yang menafsirkan suatu ayat 1000 orang bisa menjadi seribu arti. Lalu bagaimana memilih tafsir yang paling benar? Pasti masing-masing menyatakan bahwa tafsirannya yang paling benar. Apakah kemudian harus diselesaikan dengan ngasah pedang dan AK 47…? Jika demikian, kembali ke jaman babar dong…..?
Lha yang bikin perbandingan ini kan orang paling gak ngerti dasar perbandingan. Wong agama kok dibandingkan dengan aliran politik. Masing-masing kan punya wilayah yang berbeda. Lalu apanya yang dibandingkan. Jelas tidak akan ada kesamaan, semuanya pasti berbeda da da da da! Tidak akan ada kesamaannya kecuali titik koma dan tanda baca lainnya!
Yang ikut membahas perbandingan itupun tidak kalah gendheng. Ini sama saja debat sesama orang tuli yang menggunakan bahasa verbal! Jaka sembung pergi ke Gadog, ora nyambung goblok (sorry, guyon!)
Agama itu suci dan politik itu kotor. Makanya kalau agama dibawa ke ranah politik, sudah pasti bukan politiknya jadi hebat, tapi agamanya jadi kotor. Makanya inyong kagak pernah ikut milih parte agama, karena inyong kagak mau mengotori agama inyong dengan segala kekotoran politik togog dan mbilung apalagi politik burisrawa dan semua mental kurawa, termasuk sampeyan-sampeyan semua yang sudah menodai agama kalian sendiri dengan mencelupnya di wajan politik!